Dagozilla, Tim Sepakbola Robot dari ITB

Dagozilla robot sepakbola beroda. (Foto: ITB/youngster.id)

youngster.id - Tim mahasiswa dari berbagai jurusan di Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil merancang dan menciptakan tim robot yang mempunyai kemampuan bermain sepakbola. Tim robot tersebut bernama Dagozilla.

Evan Febrianto, Ketua tim pembuat Dagozilla mengatakan, robot Dagozilla dibuat untuk menjadi salah satu pendorong pengembangan robot humanoid di dunia. Oleh karenanya, fitur dalam robot ini juga dibuat sedemikian rupa. Salah satunya dapat dilihat dari segi otonomous-nya dan kemampuan komunikasi antar robot.

“Kami membuat tiga buah robot yang terdiri atas dua buah robot penyerang dan satu buah robot penjaga gawang,” kata mahasiswa Teknik Elektro 2014 yang dilansir Humas ITB belum lama ini.

Evan menjelaskan, robot-robot ini bekerja secara otonom atau otomatis. Saat dijalankan, robot akan berkomunikasi satu dengan yang lainnya untuk menentukan peran dari masing-masing robot. Apakah dia harus menyerang, bertahan, menjadi assist, dan sebagainya. Peran ini ditentukan dari ada atau tidaknya bola, jika robot berperan sebagai penyerang maka dia akan mendekat ke bola dan melakukan pola serangan yang sudah diprogram sebelumnya.

Baca juga :   Zephyrus, Aplikasi Antisipasi Banjir

Proses kerjanya, Dagozilla dilengkapi dengan satu komputer yang bertugas untuk memonitoring kondisi dari ketiga buah robot yang bertanding di lapangan. Komputer berperan sebagai base station untuk mengatur strategi yang akan digunakan dalam menghadapi lawan.

Dagozilla sempat meraih penghargaan sebagai tim dengan strategi terbaik pada Kontes Robot Indonesia regional II di Universitas Tarumanegara, pada tanggal 12 Mei 2018 lalu. Ini merupakan bentuk pencapaian awal dari Dagozilla sebelum nantinya akan bertanding di kancah Internasional.

Menurut Evan, proses pembuatan robot ini memakan waktu hingga 8 bulan dengan pembagian 5 bulan untuk riset tentang desain yang akan diimplementasikan, 2 bulan untuk manufaktur dan assembly, kemudian 1 bulan untuk pengujian dan simulasi. Biaya yang dikeluarkanpun hingga lebih dari Rp 25 juta.

“Meskipun produk ini sudah dapat dikatakan jauh berkembang dari tahun sebelumnya, namun Dagozilla juga tidak dapat dikatakan sempurna. Pengembangan ke depannya kami akan melakukan optimasi di fitur-fitur yang masih dirasa kurang optimal pada robot. Kedepannya, signature motion dari robot ini juga akan dikembangkan untuk membuat permanian menjadi lebih menarik lagi,” katanya lagi,” papar Evan.

Baca juga :   GN 1000 Startup Digital: Dukung Lahirnya Smart City dan Cyber City

Tak cukup sampai disitu guna memaksimalkan hasio karyanya bersama tim, Evan akan mengoptimalkan beberapa fitur pada robot ini. Yakni, fitur mendeteksi bola ataupun lokalisasi robot di lapangan serta fitur unggulannya kemampuan komunikasi antar robot.

“Tugas Akhir ini sebenarnya adalah pengembangan dari tugas akhir sebelumnya, namun karena dirasa masih belum sempurna maka diadakan lagi pada tahun selanjutnya, yakni tahun ini. Sehingga concern utamanya adalah pengembangan robot dari segi mekanik, elektrik, dan programming secara utuh dari robot,” pungkas Evan.

Proses pembuatan Dagozilla berada di bawah bimbingan Dosen Teknik Elektro ITB, Dr. Kusprasapta Mutijarsa, S.T., M.T., dengan jumlah anggota tim sebanyak 21 orang. Selain dijadikan tugas akhir, karya Evan dkk ini sebenarnya memiliki target yang lebih besar yakni Dagozilla dapat menjadi robot sepakbola beroda yang benar-benar layak untuk diikutkan kompetisi di tingkat dunia. Dagozilla juga sempat dipamerkan pada acara EEDays 2018 yang berlangsung pada tanggal 22-24 Mei, di Aula Timur ITB.

 

FAHRUL ANWAR

Baca juga :   Investasi Ternak Kini Bisa Lewat Fintech