Drone Ini Mampu Angkut Logistik ke Wilayah Bencana

Tim Aksantara dan drone untuk daerah bencana. (Foto: ITB/Youngster.id)

YOUNGSTER.id - Maraknya bencana alam dan sulitnya dalam pendistribusian logistik untuk para korban membuat tim Aksantara dari Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat drone tanpa remote control yang mampu mengangkut beban logistik hingga 4 kg.

Drone tersebut difokuskan untuk membawa kebutuhan logistik dan survival kit, khususnya di wilayah bencana yang sulit dijangkau atau beresiko tinggi.

“Kemampuan drone ini bisa mengangkat barang logistik seberat 4 kg. Berat dronenya sendiri 4 kg, sehingga total daya angkutnya bisa mencapai 8 kg,” kata M Falih Akbar wakil dari Tim Aksantara seperti dilansir dari laman ITB baru-baru ini. Selain Falihtim ini beranggotakan Akbar Bagas, Harits M. Setyaman, Edwin Aldrian, Jessika, Tri Agung Susilo, M. Salman Galileo, Saraswaty S, Teresa Nirmala, Jonathan A, Bondan A. R, serta Wildan D. A.

Falih mengatakan, drone berbentuk hexacopter tersebut dirancang dengan kemampuan terbang secara otomatis, serta mampu mengangkut dan menurunkan barang bawaannya di titik yang sudah ditentukan.

Mahasiswa Teknik Elektro itu menjelaskan, selain mampu mengangkut beban yang cukup besar pada level drone, wahana ini pun dibuat dengan sistem dan komponen yang cukup rumit. Tak heran, jika drone dengan sistem operasi Signal Boot Computer (SBC) tersebut meraih Technical Award untuk kategori Vertical Take of Landing pada ajang Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2017 beberapa waktu lalu.

Menurut Falih, dengan pengoperasian SBC, drone ini mampu mendeteksi berbagai parameter dimana lokasi dijatuhkannya barang logistik tersebut. Sistem ini juga membuat drone bisa berpikir lebih “cerdas” untuk menganalisis kondisi sekitarnya. Untuk kemampuan pengakutnya, timnya membuat inovasi elecro permanent magnet yang diperkuat lagi.

Selain berfungsi sebagai pengangkut, drone ini pun memiliki kemampuan monitoring yang baik karena dilengkapi web came HD dengan kualitas pengambilan gambar yang cepat.

“Untuk koneksinya, kita memakai laptop sebagai ground control system dengan terhubung pada Wifi. Sehingga kami tidak membutuhkan remote control untuk mengendalikannya, tapi cukup mengatur parameternya melalui laptop,” jelasnya lagi.

 

STEVY WIDIA