Konsep ‘Kota Masa Depan’ ITS Raih Penghargaan di Prancis

Pameran "Kota Masa Depan"di Galeri Seni "HoS" Surabaya pada 22 Juli - 6 Agustus 2016. (Foto: Antara/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Para arsitektur muda dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya bekerjasama dengan Kementerian Kebudayaan dan Komunikasi Prancis mendesain kota masa depan dalam bentuk dodecahedron(pentagon bersisi 12). Karya desain ini mengantongi penghargaan dari Pemerintah Prancis.

Mewakili Indonesia, karya tersebut ditampilkan oleh para mahasiswa jurusan Arsitektur dan Perencanaan Kota dari ITS untuk menanggapi karya para profesional muda Prancis. Karya tersebut sekaligus mencoba menawarkan solusi bagi problema kota-kota besar di Indonesia.

Institut Francais Indonesia Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan House of Sampoerna (HoS) bekerja sama menggelar pameran “Kota Masa Depan”. Pameran dipusatkan di Galeri Seni “HoS” Surabaya pada 22 Juli hingga 6 Agustus 2016.

“Pameran itu bertujuan mengenal sudut pandang para arsitek dan perancang kota muda Prancis dan Indonesia dalam memandang kota masa depan,” kata Penanggung Jawab Budaya & Komunikasi Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya, Pramenda Krishna A, seperti dilansir Antara, baru-baru ini.

Dalam pameran dari hasil karya arsitek dan urbanplanner Prancis dan Indonesia itu, karya dari Prancis menampilkan pameran yang memperoleh penghargaan dari Kementerian Kebudayaan dan Komunikasi Prancis berbentuk “dodecahedron” (rangkaian pentagon bersisi 12).

“Karya yang dianugerahi penghargaan itu menjawab tantangan utama masyarakat, yaitu perubahan pengelolaan energi dan ekologi, penyediaan perumahan dan kebijakan perancangan kota,” katanya.

Sementara itu, karya dari Indonesia dipersembahkan oleh para mahasiswa dan lulusan jurusan Arsitektur dan Perencanaan Wilayah Kota dari ITS untuk menanggapi karya para profesional muda Prancis, sekaligus menawarkan solusi-solusi atas tantangan kota besar Indonesia, khususnya Surabaya.

“Penggabungan dua karya unik ini pada akhirnya menjadi sebuah dialog antara Prancis dan Indonesia untuk mengapresiasi inovasi arsitektur dan perancang kota,” katanya.

Ide tersebut diusung oleh Evlina Noviyanti dan Rizki Cholik Zulkarnain. Mereka berpendapat konversi areal nonurban menjadi areal perkotaan adalah penyebab utama fenomena UHI. Rerata peningkatan suhu di kota besar Indonesia sejak 2001””2015 adalah 3 derajat celcius.

Salah satu konsep kota modern yang ditawarkan adalah bagaimana membangun kampung yang rendah risiko kebakaran. Apalagi, kawasan perkotaan yang memiliki kepadatan penduduk tinggi memberi kontribusi cukup signifikan terhadap kejadian kebakaran.

Untuk mengatasinya, tim dari ITS menawarkan tiga solusi urban designyang berbasis pada peningkatancapacity building, respons darurat, dan tata kota. Capacity building dilakukan melalui pemetaan partisipatif agar masyarakat mampu berperan aktif dalam mengkaji dan memecahkan permasalahan di kampung mereka sendiri.

Sementara itu, respons darurat diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap kebakaran. Hal itu dapat diterapkan melalui perumusan rute evakuasi kebakaran dan fasilitas-fasilitas darurat kebakaran yang mudah diakses.

“Untuk membangun ketahanan terhadap kebakaran, prinsip urban design penting diterapkan dalam penataan bangunan sehingga dapat menjaga nilai historis bangunan dan kawasan, serta nilai-nilai budaya di dalamnya,” kata perwakilan tim tersebut, Kesumaning Dyah Larasati.

Selain manajemen risiko kebakaran, desain kota masa depan lainnya ditawarkan dalam konsep manajemen iklim perkotaan guna mengatasi fenomena urban heat island (UHI). Apalagi, banyak kota di Indonesia yang mengalami fenomena cuaca panas ekstrim seperti itu.

Contoh kasus di Surabaya, distribusi temperatur tinggi (di atas 30 derajat celcius) menjangkau sekitar 19.523,61 hektare pada 2001. Saat ini, distribusinya telah melebar ke hampir seluruh sudut kota terbesar kedua di Indonesia itu.

“Perluasan areal panas di kota besar berbanding lurus dengan ekspansi areal urban, baik untuk perumahan maupun industri. Meningkatnya kepadatan bangunan juga memperparah kenaikan suhu permukaan,” jelas Evlina.

Di pusat-pusat kota, areal terpanas biasa terdeteksi pada pusat-pusat perbelanjaan dengan ruang bangunan padat. Padahal, areal hijau hanya mampu menurunkan suhu sekitar 1,13””1,76 derajat celcius. Adapun, sungai hanya menurunkan suhu 0,88””1,72 derajat celcius.

Untuk itu, menurut Evlina, fenomena UHI hanya bisa ditaklukkan dengan pembenahan formasi dan penataan fungsi kota yang baik. Formasi kota ditentukan oleh geometri, penggunaan bahan bangunan, serta seberapa banyak ruang terbuka hijau di dalamnya.

Sementara itu, fungsi kota dapat diatur melalui pengendalian penggunaan energi, air, dan ekses polusi. Sebab, suhu panas di kota-kota besar Indonesia lebih banyak dipicu faktor ketinggian gedung, debit air sungai, emisi CO2, aktivitas perdagangan, dan transportasi.

“Jadi, kota masa depan yang bebas cuaca panas ekstrim hanya bisa dicapai dengan pembangunan berkelanjutan. Salah satu solusinya adalah dengan mengonsepkan pembangunan yangcompact untuk menurunkan suhu udara,” jelasnya.

Gagasan-gagasan lain seputar kota masa depan yang ideal di Indonesia digambarkan dalam konsep pengelolaan desain perumahan melalui sistem modul, yang diklaim jauh lebih efisien dalam penggunaan ruang dan material bangunan.

Ada juga konsep hutan konservasi bakau di tengah kota, desain perumahan ramah lingkungan dari bahan alami; serta manajemen pengelolaan limbah melalui efisiensi material, desain modular, pengelolaan energi baru, dan penyesuaian iklim.

Proyek lainnya adalah manajemen penyediaan bahan pangan di kota-kota besar dalam konsep Agro Community Centre, konservasi energi lewat pemanfaatan lahan dan bangunan bekas, efisiensi transportasi melalui sistem penataan bangunan culster, serta manajemen tepi sungai dan air sungai.

Seluruh konsep tata kota masa depan tersebut merupakan bayangan generasi muda Indonesia tentang hunian dan areal urban yang modern dan mengakomodasi hajat hidup masyarakat perkotaan yang kian membeludak dari tahun ke tahun.

Bukan bayangan tentang mobil terbang, gedung pencakar langit, atau rel di atas awan yang mereka konsepkan, tetapi bagaimana memberikan ruang hidup yang nyaman dan solutif bagi problematika kaum urban di masa depan. Semoga kelak kota hasil buah pikiran dari anak bangsa sendiri dapat terwujud.

STEVY WIDIA