Mahasiswa ITS Kembangkan Mesin Pengering Gabah Ramah Lingkungan

Teknik Elektro ITS dengan alat inovasi pengering gabah. (Foto: its/youngster.id)

youngster.id - Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian di Indonesia. Untuk itu inovasi dibidang teknologi pertanian terus dibutuhkan. Salah satunya dalam hal metode pengeringan gabah. Untuk memudahkan itu, tim mahasiswa ITS, kini ada alat inovasi yang memanfaatkan fenomena wind corona sebagai solusi baru pengeringan gabah.

Ahmad Bariq Al Fahri, selaku ketua tim mengungkapkan selama ini ada dua metode yang dimanfaatkan petani untuk mengeringkan gabah. “Selain menggunakan sinar matahari langsung, ada petani yang memanfaatkan alat pengering berbasis teknologi termal,” kata Bariq yang dilansir Humas ITS, Sabtu (28/7/2018).

Namun, menurut dia dari hasil riset bersama rekannya Pinanggih Rahayu dan I Wayan Ersa Saputra, ditemukan adanya celah pada dua metode tersebut. Pengeringan menggunakan sinar matahari langsung, membutuhkan waktu minimal tiga hari untuk mendapatkan gabah yang kering sempurna. Dengan catatan kondisi panas matahari stabil dan cukup selama waktu pengeringan.

“Cuaca di Indonesia yang tidak menentu beberapa tahun belakang ini tentunya sangat merugikan petani yang mengandalkan metode ini (dengan menggunakan sinar matahari langsung, red),” ungkap Bariq.

Baca juga :   Go-Jek Raih Investasi Lagi

Lebih lanjut, kata dia menjelaskan alat pengering modern berbasis termal juga bisa menjadi solusi. Namun, penggunaan alat pengering modern ini mengakibatkan penurunan nilai gizi dari gabah, kehigienisan tidak terjamin, serta membutuhkan konsumsi energi listrik yang cukup tinggi.

“Padahal saat ini dunia sedang ramai mengurangi penggunaan energi, termasuk energi listrik,” tutur mahasiswa Teknik Elektro ITS tersebut.

Lain halnya dengan pengering berbasis wind corona temuan Bariq dan tim. Dengan menggunakan alat ini, proses pengeringan padi hanya berlangsung selama sejam tanpa mengurangi nilai gizi dan struktur gabah.

“Dengan metode yang kami kembangkan ini, tidak ada penurunan kualitas gizi, selain itu juga lebih ramah lingkungan,” jelas Bariq yang melakukan uji kualitas gizi di Laboratorium Kimia Instrumen ITS.

Bariq menjelaskan, wind corona sendiri merupakan fenomena tegangan tinggi yang timbul ketika level tegangan belum mencapai kondisi untuk dapat mengalirkan alur listrik (pre- breakdown). Wind corona ini akan menimbulkan suatu medan di antara dua elektroda.
“Dalam kasus ini, elektroda berbentuk jarum pada bagian atas dan lingkaran sebagai tempat diletakkannya gabah,” urai pria 21 tahun tersebut.

Baca juga :   Bekraf Targetkan Raih Kontribusi Fesyen Tumbuh Dua Digit di 2018

Dalam prosesnya, jelas Bariq, usai meletakkan gabah basah di antara kedua elektroda, tegangan akan dinaikkan secara perlahan hingga mencapai kondisi pre-breakdown. Kemunculan wind corona akan ditandai dengan desis listrik lalu gabah didiamkan hingga mengering. “Dibandingkan dengan pengeringan konvensional, metode ini berhasil menurunkan massa air dua kali lipat lebih banyak,” paparnya.

Bariq berharap penelitian ini dapat digunakan sebagai metode baru yang efektif dan ramah lingkungan dalam proses pengeringan gabah. “Semoga terdapat tindak lanjut dari pemerintah atau badan dan institusi terkait untuk penelitian yang lebih lanjut,” pungkas Bariq.

Dengan karya itu mereka berhak atas dana hibah pengembangan dari Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) 2018.

 

FAHRUL ANWAR