Material Tanam Baru Ini Bisa Tingkatkan Produksi Kelapa Sawit

Daud Dharsono,Direktur Utama PT SMART bersama dengan Tony Liwang, Kepala Divisi Produksi Tanaman dan Bioteknologi menerangkan material tanam hasil pengembangan bioteknologi, Eka 1 dan Eka 2 yangberpotensi meningkatkan produktivitas minyak kelapa sawit ke level tertinggi di industri Indonesia dengan memanfaatkan lahan perkebunan yang sudah ada (Foto{ Istimewa/Youngsters.id)

youngster.id - PT SMART Tbk (SMART), anak perusahaan Golden-Agri Resources Ltd (GAR), melakukan inovasi dalam mengembangkan material tanam kelapa sawit unggulan, yakni bahan tanam Eka 1 dan Eka 2.

“Terobosan seperti ini merupakan inti dari upaya intensifikasi kami yang sangat penting peranannya untuk menghasilkan produksi kelapa sawit berkelanjutan guna memenuhi permintaan pasar global yang terus meningkat. Kami akan terus mengidentifikasi teknologi baru dan mempercepat penerapan teknik-teknik modern terbaru, tidak hanya untuk meningkatkan praktik-praktik pertanian berkelanjutan perusahaan, namun juga bagi
industri kelapa sawit secara menyeluruh,” ujar Daud Dharsono, Direktur Utama PT SMART Tbk.

Dijelaskan Daud, bahan tanam Eka 1 dan Eka 2 ini dikembangkan di pusat-pusat penelitian perusahaan, SMART Research Institute’s (SMARTRI) dan Pusat Bioteknologi SMART. Juga, sudah terdaftar di Katalog Bibit Indonesia, dan disetujui untuk dibudidayakan, oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

Material tanam terbaru ini dikembangkan secara alami melalui program seleksi konvensional dan kultur jaringan dari elite palms. Material tanam kelapa sawit tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas minyak sawit perusahaan mencapai lebih dari 10 ton per hektar per tahun di usia dewasa (10-18 tahun) dibandingkan dengan kemampuan perusahaan saat ini yang berkisar antara 7,5-8 ton per hektar per tahun dalam kondisi cuaca dan areal tanam yang optimal. Produktivitas rata-rata industri kelapa sawit Indonesia saat ini kurang dari 4 ton/hektar/tahun.

Baca juga :   Aplikasi Live Streaming Mobile HiClub Hadir di Indonesia

Menurut Tony Liwang, Head of Plant Production and Biotechnology Division Smart, pengembangan material tanam itu dilakukan melalui program kultur jaringan. Kultur jaringan ini membantunya melakukan proses pemuliaan material tanam melalui proses non-GMO yang mampu menghasilkan minyak sawit dalam jumlah lebih banyak, dan dalam waktu yang tidak lama lagi, kultur jaringan ini akan membantu menghasilkan material tanam dengan nutrisi lebih baik dan lebih tahan terhadap penyakit dan kekeringan.

“Dengan keberhasilan program kultur jaringan ini, kami berharap dapat meningkatkan produkvititas perkebunan kelapa sawit kami dengan material tanam Eka 1 dan Eka 2 serta memberikan tingkat ekstraksi minyak yang lebih besar dari setiap buah sawit yang ada,” ujar Tony.

Pada usia dewasa yang optimal, material tanam Eka 1 diharapkan bisa menghasilkan 10,8 ton minyak sawit mentah (CPO) per hektar, dengan tingkat ekstraksi minyak sebesar 32% karena material tanam ini memiliki kandungan minyak yang sangat tinggi di dalam buah sawitnya. Bahkan material tanam Eka 2 menunjukkan potensi yang lebih besar dengan produktivitas diperkirakan mencapai 13,0 ton per hektar dan tingkat ekstraksi minyak 36%. Selain itu, masa tunggu panen Eka 1 dan Eka 2 diperkirakan 24 bulan, lebih cepat bila dibandingkan dengan rata-rata industri saat ini yaitu 30 bulan.

Baca juga :   Tim Semar Solid UNS Sulap Tulang Sapi dan Marmer Jadi Beton

Selama lima tahun ke depan, perusahaan akan memperbanyak material tanam ini melalui kultur jaringan guna menghasilkan jumlah yang cukup untuk ditanam secara komersial di area yang lebih luas mulai tahun 2022

Lebih dari 4.000 pohon kelapa sawit dari varietas yang berbeda diteliti secara intensif sejak tahun 2007 oleh tim peneliti dan teknisi lapangan perusahaan selama sepuluh tahun guna memilih dan membudidayakan spesimen yang unggul untuk dikembangkan dalam program kultur jaringan, dengan bibit klonal pertama yang ditanam pada tahun 2011. Setelah melalui banyak percobaan dan proyek percontohan komersial, pada tahun 2016, GAR telah menggunakan material tanam tersebut di perkebunan kelapa sawitnya di Sumatera dan Kalimantan Barat.

“Bahan tanam ini akan membantu perusahaan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawitnya hingga ke level tertinggi di industri di lahan perkebunan yang sudah ada,” pungkas Daud.

 

FAHRUL ANWAR