Metode CFS, Solusi Penghematan Biaya Pembangkit Listrik

Jangkung Raharjo (tengah) usai Presentasi untuk Program Doktor di Telkom University. (Foto: istimewa/youngster.id)

youngster.id - Jangkung Raharjo Dosen di Telkom University menemukan sebuah metode yang dapat menghemat biaya pembangkit listrik. Metode tersebut adalah Coarse to Fine Search (CFS) yang disinyalir mampu menanganai permasalahan penghematan biaya listrik atau Economic Dispatch (ED).

Temuan ini merupakan hasil presentasi Jangkung untuk studi Program Doktor. Dalam presentasinya Ia menjelaskan masalah penghematan biaya listrik bergantung pada jumlah pembangkit yang dilibatkan. Hal itu berdampak pada optimalisasi biaya yang rumit pada skala besar.

“Metode optimasi itu secara umum dibedakan menjadi dua hal yang pertama itu Metode Numerik dan yang kedua adalah metode artifisial,” kata Jangkung menjelaskan temuannya ini yang dilansir Humas Telkom University, Rabu (3/4/2018).

Ia menyatakan bahwa ada similaritas antara variable pengolahan video dan variable dalam ED. Menurutnya metode ini dapat membantu mengurangi kompleksitas sistem pembangkit dan mempercepat waktu komputasi.

Metode ini memberikan jaminan konvergensi, artinya dia bisa sampai pada titik yang dituju (terendah jika memang tujuan kita mencari biaya yang terendah). Karena metode ini bisa untuk multi dimensi, maka Jangkung memberinya nama Multi Dimension Coarse To Fine Search.

Baca juga :   Lego Bersiap Ekspansi ke Indonesia

“Diluar dua metode itu saya melihat ada metode lain yang masih bisa di kembangkan. Disebut Coarse To Fine Search. Selama ini metode ini digunakan pada pergerakan sinyal video dan hanya terbatas pada 3 dimensi. Saya kembangkan supaya bisa diterapkan pada multi dimensi. Kita terapkan tidak hanya pada pengolahan sinyal video tapi pada pembangkit listrik, ” ungkapnya lagi.

Jangkung menjelaskan beberapa keunggulan dari metodenya ini, metode ini dikembangkan dari yang sebelumnya maksimum 3 dimensi, menjadi berbagai dimensi serta dapat diterapkan pada fungsi objektif / fungsi matematik yang dapat diturunkan maupun yang tidak dapat diturunkan, ketiga metode ini memberikan jaminan konvergensi. Hal ini sebagai perbaikan metode yang sudah ada.

Pengujian sistem telah dilakukan pada tegangan 500 kilovolt (kV). Pengujian yang ditanamkan pada sistem tenaga Jawa-Bali ini menghasilkan sebuah fakta bahwa metode yang ditemukan Jangkung yaitu CFS sedikit banyak membantu permasalahan ED.

“Pertama saya uji untuk 8 pembangkit, 8 dimensi. Kita uji untuk sistem Jawa-Bali, hasilnya bagus. Di uji lagi dengan 47 pembangkit, hasilnya ternyata bagus juga.” Pungkasnya.

Baca juga :   Tim Rhythm dari Telkom University Berprestasi di APICTA Award 2017

Hasilnya berdasarkan yang diungkapkan Jangkung, metode ini mampu menghemat biaya pembangkit listrik hingga Rp2,2 Milyar per jam.

“Selama ini biaya pembangkitan listrik di Jawa-Bali mencapai diatas 8,4 milyar per jam. Sedangkan dengan metode ini, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai 6,2 milyar per jam. Terjadi penghematan 2,2 milyar per jam. Yang jadi persoalan adalah bagaimana metode ini dapat kita aplikasikan kepada satu perangkat. Ini yang kita sedang tindak lanjuti,” pungkasnya.

FAHRUL ANWAR