Vital Sense, Alat Pemantau Kesehatan Pasien Selama 24 Jam

UGM Vital Sense

Tim Mahasiswa UGM pengembang aplikasi Vital Sense. (Foto: istimewa)

youngster.id - Tim Mahasiswa Program Spesialis FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan aplikasi Vital Sense. Aplikasi ini berhasil meraih penghargaan Top Five Health Innovation Sprint Accelerator 2022 dari Kementerian Kesehatan.

Aplikasi Vital Sense ini digunakan untuk memantau tanda vital pasien di rumah dengan didukung program kecerdasan buatan (AI). Aplikasi ini dikembangkan oleh mahasiswa dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi, yakni Wiskara Jatipradresthya dan Kuky Cahya Hamurajib. Dengan dukungan pengembangan riset Irwan Taufiqur Rachman yang juga konsultan Fetomaternal RSUP dr Sardjito.

“Semua berangkat dari pengalaman kami di pelayanan serta arahan dari guru kami di mana tidak ada hal yang tiba-tiba terjadi dan pentingnya fungsi pengawasan dalam dunia kesehatan,” kata Wiskara dikutip dari laman ugm.ac.id.

Alat ini menghubungkan pengawasan langsung oleh dokter dalam mengkaji sistem peringatan dini dan skor peringatan obstetrik dini yang dimodifikasi. Serta menghubungkan dengan rekomendasi arah layanan yang dilanjutkan untuk dituju.

Wiskara menuturkan pengembangan aplikasi berbasis digital ini berangkat dari pengalaman mahasiswa melakukan diagnosis pada pasien berdasarkan hasil pencatatan dari monitor alat vital pada tubuh pasien. Aplikasi Vital Sense merupakan inovasi dari fungsi monitor pasien di mana pemantauan tanda-tanda vital secara berkelanjutan dan terus menerus dan tercatat dalam waktu 24 jam.

“Dengan Vital Sense kami mendesain bagaimana dapat melakukan pengawasan akan tanda vital, seperti tekanan darah, nadi, laju napas, saturasi, suhu badan, sampai dengan gula darah dan kadar Hb dapat dimonitor langsung dan terus menerus ke Cloud dengan pengolahan data artificial intelligence sebagai data objektif dalam melengkapi data subjektif dari telemedicine,” papar dia.

Wiskara menyebut pengembangan alat kesehatan ini tak mudah dan butuh waktu lama. Sebab, ada banyak aturan serta persyaratan dan perlu melewati uji klinis sesuai etik penelitian.

“Saat ini kami memasuki tahap penelitian pre klinik untuk terus melakukan validasi hipotesis kami pada pelayanan,” tutur dia.

Wiskara berharap inovasi Vital Sense dapat dikembangkan ke tahap lebih lanjut. Dia juga berharap mendapat dukungan lebih dari masyarakat dalam tahap-tahap setelahnya sampai penerapan.

STEVY WIDIA

Exit mobile version