56% Pengguna Internet Indonesia Belum Pernah Bertransaksi E-Commerce

Suasana pameran Future Commerce Indonesia 2019. (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Dari sekian banyak aktivitas yang dapat dilakukan lewat internet, ternyata masih banyak penggunanya yang belum pernah melakukan transaksi belanja secara online atau e-commerce. Survei Asosisasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebut angkanya mencapai 56% dari total pengguna internet di Indonesia.

Padahal, survei itu juga menunjukkan penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 64,8% pada tahun 2018, meningkat sebesar 10,12 % dari tahun sebelumnya yang hanya 54,8%. Artinya, ada 171,17 juta jiwa pengguna internet dari total 246,16 juta penduduk Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Menurut Henri, sangat disayangkan bahwa dari 171,17 pengguna internet ternyata 56% di antaranya belum pernah menggunakan e-commerce. “Angka ini merupakan potensi yang bisa kita convert (ubah) untuk menjadi shoppers (pembelanja) di e-commerce,” ungkap Henry Kasyfi Sekretaris Jenderal APJII belum lama ini.

Ia mengatakan, ada sejumlah alasan yang menyebabkan pengguna internet di Indonesia tidak pernah berbelanja secara online. “Sebanyak 18,8% atau mayoritas mejawab mereka lebih suka berbelanja secara langsung karena barang yang mereka inginkan bisa langsung didapatkan,” ujar Henri.

Baca juga :   Jadikan Memasak Itu Menyenangkan

Hasil survei yang dikerjakan bersama lembaga survei Polling Indonesia menyebut sebanyak 12,2%pengguna internet tak mau belanja online karena belum bisa memakai aplikasinya, 9,5% khawatir barang tidak sampai, dan 9% merasa rumit kalau harus mentrasfer.

Sementara itu, survei tersebut mencatat terdapat empat e-commerce yang biasanya sering digunakan pengguna internet untuk membeli barang. Di antaranya adalah Shopee (11,2%), Bukalapak (8,4%), Lazada (6,7%), dan Tokopedia (4,3%). Sedangkan, sebanyak 53,4% mengatakan belum pernah mengunjungi situs atau platform e-commerce.

Minimnya literasi mengenai e-commerce membuat potensi bisnis di platform tersebut kurang diminati oleh mayoritas para pengguna internet di Indonesia.

Namun Data Asosiasi E- Commerce Indonesia (idEA) menyebutkan, potensi transaksi e-commerce di Indonesia terus meningkat dari US$ 8 miliar di 2013 menjadi US$ 20 miliar pada 2016, dan diproyeksi mencapai US$ 130 miliar atau sekitar Rp 1.700 triliun pada 2020. Menurut laporan Google dan Temasek, ekonomi digital Indonesia diprediksi akan tumbuh tiga kali lipat menjadi US$ 240 miliar pada 2025.

Baca juga :   APJII Dorong Masyarakat Ciptakan Aplikasi Lokal

STEVY WIDIA