youngster.id - Citi merilis laporan terbaru Global Perspectives & Solutions (Citi GPS) bertajuk “Pembiayaan Rantai Pasok: Perdagangan Global yang Tangguh di Era AI”. Laporan ini mengungkapkan transformasi fundamental perdagangan global yang kini didorong oleh adopsi Kecerdasan Buatan (AI), volatilitas tarif, dan pergeseran ke arah rantai pasok regional.
Meskipun menghadapi tantangan kebijakan dan kenaikan biaya, lanskap bisnis global menunjukkan ketahanan luar biasa melalui strategi diversifikasi dan optimasi modal kerja.
Salah satu poin utama laporan ini adalah peran krusial teknologi dalam merekayasa ulang operasional perdagangan. Penggunaan AI dalam pemrosesan dokumen cerdas terbukti meningkatkan akurasi dan memangkas waktu proses menjadi hanya hitungan menit.
“Teknologi secara fundamental merekayasa ulang cara pembiayaan perdagangan beroperasi,” ujar Adoniro Cestari, Global Head of Trade and Working Capital Citi, Kamis (26/2/2026).
Ia menambahkan bahwa uji coba pembayaran berbasis blockchain berpotensi mengubah jaminan standar berbasis kertas menjadi eksekusi digital otomatis yang tersedia 24/7. Saat ini, 36% perusahaan besar tercatat telah menggunakan alat AI, melonjak 18% dibandingkan tahun sebelumnya.
Laporan Citi GPS menyoroti pergeseran peta perdagangan dunia. Di tengah peningkatan tarif Amerika Serikat (AS) yang kini mencapai 16,8%, perusahaan multinasional merespons dengan melakukan diversifikasi pemasok dan nearshoring.
Beberapa temuan kunci terkait pergeseran ini menunjukkan bahwa wilayah ASEAN dan Asia Selatan muncul sebagai pemenang utama dengan kenaikan pengiriman sebesar 44% dari Asia Utara dan Timur. Fenomena ini diperkuat oleh integrasi mendalam Amerika Latin ke dalam rantai pasok global, di mana ekspor dari kawasan tersebut ke Asia Selatan dan ASEAN melonjak hingga 82%, yang merupakan peningkatan terbesar secara global.
Sejalan dengan tren tersebut, Amerika Serikat juga mulai mendiversifikasi basis impornya dengan mencatatkan pertumbuhan pengiriman dari Asia Selatan dan ASEAN sebesar 50% serta dari Amerika Latin sebesar 43%, melampaui pertumbuhan impor dari Asia Utara. Kondisi ini pun dikonfirmasi oleh fakta bahwa 65% perusahaan kini aktif mendiversifikasi rantai pasok mereka dengan menempatkan Vietnam, Thailand, India, dan Meksiko sebagai negara destinasi pilihan utama.
Citi Research memprediksi adanya fenomena langka berupa “siklus super belanja modal” di sektor pusat data (data center). Total belanja modal global terkait AI diperkirakan akan menyentuh angka $7,75 triliun pada tahun 2030.
Pembiayaan perdagangan memainkan peran vital dalam mendukung infrastruktur padat modal ini melalui program piutang terstruktur dan pembiayaan rantai pasok yang kompleks.
Kenaikan biaya input menjadi kekhawatiran utama bagi 64% perusahaan. Data menunjukkan rata-rata 6,3% modal kerja saat ini terikat untuk mendanai biaya tarif.
Sebagai solusi, jajaran eksekutif (C-suite) mulai menerapkan strategi pembiayaan inventaris, diskon dinamis (dynamic discounting), dan program piutang terstruktur untuk melepaskan likuiditas yang terperangkap.
“Inovasi ini membantu perusahaan meningkatkan likuiditas dan mengoptimalkan modal kerja sambil mendukung pembangunan infrastruktur AI global,” tutup Adoniro. (*AMBS)














Discussion about this post