Selasa, 7 April 2026
No Result
View All Result
youngster.id
Pratesis Ads
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
No Result
View All Result
Home News Industry

Fortinet: Keterampilan Khusus AI Jadi Faktor Kritis Atasi Kesenjangan Keamanan Siber

8 Desember 2025
in Industry
Reading Time: 2 mins read
Fortinet

Fortinet: Keterampilan Khusus AI Jadi Faktor Kritis Atasi Kesenjangan Keamanan Siber (Foto: Ilustrasi)

0
SHARES
0
VIEWS

youngster.id - Perusahaan keamanan siber Fortinet merilis 2025 Global Cybersecurity Skills Gap Report yang menyoroti semakin lebarnya kesenjangan keterampilan keamanan siber di tengah meningkatnya ketergantungan organisasi pada teknologi kecerdasan buatan (AI). Laporan tahunan ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan talenta keamanan siber berketerampilan khusus, termasuk keahlian AI, berada pada titik paling mendesak dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam laporan tersebut, Fortinet mencatat bahwa organisasi kini menghadapi paradoks: AI diandalkan untuk memperkuat pertahanan, namun di saat yang sama AI juga menjadi alat yang semakin sering digunakan pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan baru maupun memperkuat metode lama. Keterbatasan keahlian AI internal dinilai memperbesar risiko.

“Survei tahun ini makin menegaskan kebutuhan mendesak untuk berinvestasi pada ahli keamanan siber. Tanpa menutup kesenjangan keterampilan, organisasi akan terus menghadapi peningkatan insiden pelanggaran dan kenaikan biaya. Temuan ini menyoroti titik kritis bagi sektor publik dan swasta,” ujar Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia, dikutip Senin (8/12/2025).

Fortinet melaporkan bahwa seluruh organisasi yang disurvei (100%) mengalami setidaknya satu pelanggaran siber sepanjang 2024. Hampir separuhnya (48%) menghadapi lima atau lebih insiden—lonjakan signifikan dari 19% pada 2021.

Baca juga :   Tren Ancaman Kejahatan Siber Bagi Dunia Usaha dan Pemerintahan Di Tahun 2023

Kekurangan keterampilan keamanan TI disebut sebagai salah satu pemicu utama. Sebanyak 68% responden menilai kurangnya pelatihan dan keahlian keamanan siber turut menyebabkan pelanggaran di organisasi mereka.

Biaya insiden juga terus meningkat. Sebanyak 62% organisasi menyatakan kerugian akibat serangan siber pada 2024 mencapai lebih dari US$1 juta, naik jauh dibandingkan 38% pada 2021.

Laporan Fortinet mencatat bahwa setiap organisasi dalam survei telah menggunakan atau berencana menggunakan AI untuk keamanan siber, terutama untuk deteksi dan pencegahan ancaman.

Namun, AI belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal karena kekurangan talenta pendukung. Hampir separuh pengambil keputusan TI (40%) menyebut minimnya keahlian AI sebagai hambatan terbesar dalam implementasi.

Baca juga :   Trend Micro Luncurkan XGen Security

Sebagian besar profesional keamanan (96%) percaya AI bukan ancaman bagi pekerjaan mereka, melainkan alat yang dapat meningkatkan efektivitas tim yang kekurangan personel.

Fokus perusahaan terhadap keamanan siber di tingkat dewan meningkat pesat. Sebanyak 94% dewan direksi memperkuat perhatian pada isu ini sepanjang 2024.

Namun, pemahaman mengenai risiko AI masih dinilai belum memadai. Meskipun 70% responden menyatakan dewan memahami risiko AI, pengetahuan tersebut cenderung terbatas pada penggunaan teknologi AI di perusahaan, bukan pada potensi ancamannya.

Minat terhadap profesional bersertifikasi tetap tinggi: 90% pengambil keputusan TI lebih memilih kandidat dengan sertifikasi.

Sertifikasi dinilai memvalidasi kompetensi teknis (87%), memperlihatkan kemampuan mengikuti perkembangan industri (87%), dan pemahaman terhadap alat-alat vendor besar (62%).

Baca juga :   BRIN dan COSMAX Indonesia Luncurkan Riset Nusantara Skin Microbiome Map untuk Industri Kosmetik Berbasis Sains

Namun, dukungan finansial untuk sertifikasi dari organisasi justru menurun—hanya 76% responden yang mengatakan perusahaannya bersedia membiayai sertifikasi, turun dari 88% pada 2023.

Untuk mengatasi kesenjangan keterampilan ini, Fortinet melalui Fortinet Training Institute menawarkan berbagai program pelatihan, termasuk modul khusus berbasis AI dan Security Awareness Training bagi karyawan. Program ini mencakup pemahaman GenAI, ancaman berbasis AI, dan metode serangan yang memanfaatkan teknologi AI.

Fortinet juga menegaskan komitmennya untuk melatih 1 juta tenaga keamanan siber secara global pada akhir 2026, setelah komitmen itu dibuat pertama kali pada 2021.

Laporan Fortinet tahun ini mempertegas bahwa menutup kesenjangan keterampilan keamanan siber merupakan kebutuhan strategis bagi kelangsungan bisnis. Tanpa peningkatan kemampuan SDM dan pemahaman mengenai risiko AI, organisasi diperkirakan akan menghadapi ancaman dan biaya yang terus meningkat. (*AMBS)

 

Tags: keamanan siberKeterampilan Khusus AI
Previous Post

Timnas MLBB Women Indonesia Kembali Jadi Juara Dunia IESF WEC 2025

Next Post

Bahas Masa Depan Pendidikan Tinggi di Era AI, NUS Gandeng Tiga Universitas Besar Indonesia

Related Posts

ITSEC Asia
Industry

Laba Bersih Meroket, ITSEC Asia Catat Pendapatan Rp527,1 Miliar di Tahun 2025

30 Maret 2026
0
startuo AI funding
Startup & Entrepreneurship

Investor Guyur Startup AI Tahap Awal US$9 Miliar, Sektor Robotika dan Keamanan Siber Jadi Primadona

21 Februari 2026
0
WhizHack Technologies
Technology

WhizHack Technologies Resmi Masuk Pasar Indonesia, Fokus Perkuat Keamanan Siber

3 Februari 2026
0
Load More
Next Post
NUS

Bahas Masa Depan Pendidikan Tinggi di Era AI, NUS Gandeng Tiga Universitas Besar Indonesia

Honest Card

Orang Indonesia Tetap Aktif Belanja di Luar Negeri di Tengah Ketatnya Ekonomi

Kargo Technologies

Kargo Technologies Targetkan Elektrifikasi 40.000 Kendaraan Logistik pada 2035

Discussion about this post

Recent Updates

masa depan industri P2P Lending

Akhir Era “Bakar Uang”: Menakar Kedewasaan Baru Industri P2P Lending Indonesia

6 April 2026
Pitchbook - venture capital

Laporan Pitchbook Q1 2026: Investasi VC Asia Stabil, Sektor AI Geser Dominasi Fintech

6 April 2026
Agoda x WWF x Livingseas

Agoda dan WWF Kucurkan Dana Konservasi untuk Livingseas Asia di Bali

6 April 2026
ShopeePay

ShopeePay Soroti Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat Pasca Ramadan 2026

6 April 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

27 Juni 2019
Sayurbox x Blitz

Sayurbox Gunakan Motor Listrik Blitz untuk Layanan Pengiriman

10 Januari 2024
Startup Hayokerja

Startup HayoKerja Hadirkan Solusi PHL bagi Perusahaan Pencari Tenaga Kerja

25 September 2023
fraud KoinP2P - KoinWorks

Gara-Gara Kasus Fraud KoinP2P, Rusak KoinWorks Sebelanga

22 November 2025
Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

0
Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

0
Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

0
Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

0
masa depan industri P2P Lending

Akhir Era “Bakar Uang”: Menakar Kedewasaan Baru Industri P2P Lending Indonesia

6 April 2026
Pitchbook - venture capital

Laporan Pitchbook Q1 2026: Investasi VC Asia Stabil, Sektor AI Geser Dominasi Fintech

6 April 2026
Agoda x WWF x Livingseas

Agoda dan WWF Kucurkan Dana Konservasi untuk Livingseas Asia di Bali

6 April 2026
ShopeePay

ShopeePay Soroti Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat Pasca Ramadan 2026

6 April 2026
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Layanan Bisnis
Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved
No Result
View All Result
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development

Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Go to mobile version