youngster.id - Financial Technology (fintech) telah berkembang pesat sebagai bagian dari transformasi ekonomi digital Indonesia. Namun, hasil Annual Members Survey Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) 2024-2025 menunjukkan ada sejumlah tantangan struktural yang masih perlu dijawab bersama. Kondisi ini mendorong AFTECH dan Easycash meluncurkan Chatpindar.com, inovasi literasi keuangan digital yang bisa digunakan masyarakat untuk menanyakan mengenai industri pinjaman daring.
Ketua Umum AFTECH Pandu Sjahrir mengatakan, fintech harus dimanfaatkan secara benar, aman, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM, petani, nelayan, dan pekerja sektor riil.
“Jika kita ingin berkontribusi pada target pertumbuhan ekonomi nasional 8%, maka inovasi keuangan digital 1 (satu) dekade kedepan harus hadir sebagai enabler yang efisien dan efektif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan membawa solusi, bukan menjadi sumber masalah,” katanya dikutip dalam siaran pers, Kamis (12/2/2026).
Hasil survei AFTECH mengungkap, sebaran pengguna fintech masih terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek sebesar 73,77%. Sementara masyarakat berpenghasilan rendah Rp0–5 juta masih menghadapi hambatan akses layanan keuangan digital.
Dari sisi keamanan, 27,12% perusahaan fintech melaporkan mengalami serangan phishing pada 2025, dan 82,98% menyebut fraud eksternal sebagai risiko utama. Di saat yang sama, meski 43,44% perusahaan aktif menjalankan program literasi, sebanyak 59,02% pelaku industri masih menilai rendahnya literasi keuangan sebagai tantangan terbesar dalam mendorong inklusi.
Untuk mendorong literasi keuangan di masyarakat, diluncurkan Chatpindar.com. Menurut Pandu, inisiatif ini menjadi bagian dari upaya konkret AFTECH dalam menghadirkan edukasi keuangan yang selalu aktif, dapat diakses masyarakat, relevan, dan dekat dengan keseharian masyarakat.
“Chatpindar.com lahir dari kesadaran bahwa literasi keuangan tidak bisa hanya disampaikan lewat seminar online, offline atau konten edukasi. Melalui kanal ini, masyarakat bisa terus mencari jawaban yang kredibel dari pertanyaan yang timbul di luar sesi literasi keuangan. Ini adalah langkah nyata untuk menjembatani kesenjangan literasi,” katanya.
Chatpindar dirancang dengan menggunakan teknologi AI berbasis large language model dalam format chat masyarakat untuk menanyakan mengenai industri pinjaman daring. Ini merupakan kanal edukasi berbasis percakapan yang memungkinkan masyarakat bertanya langsung seputar pinjaman daring. Termasuk topik-topik seperti cara membedakan antara platform pinjaman daring (pindar) berizin dan pinjol ilegal, dampak apabila tidak membayar cicilan, maupun topik praktis terkait limit pinjaman serta tenor. Tentu ini fasilitas edukasi keuangan dan bukan sumber referensi hukum maupun layanan pelanggan dari platform pindar.
Pandu menegaskan bahwa satu dekade AFTECH adalah awal dari fase baru industri fintech Indonesia. “Ke depan, AFTECH akan terus menjadi penghubung antara inovasi dan kepercayaan. Dengan literasi yang kuat, keamanan yang terjaga, dan kolaborasi lintas sektor, fintech Indonesia bisa tumbuh sehat dan memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi bangsa,” pungkasnya.
STEVY WIDIA



















Discussion about this post