youngster.id - Pada pagi 6 Agustus 2021, lantai Bursa Efek Indonesia di kawasan SCBD Jakarta dipenuhi euforia. Hari itu, PT Bukalapak.com Tbk resmi diperdagangkan untuk pertama kali, menjadi unicorn teknologi pertama yang melantai di bursa — bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh Asia Tenggara.
Di layar monitor tersebar harga yang terus bergerak naik. Saham BUKA dibuka di Rp850 sesuai harga IPO, lalu dalam hitungan menit melonjak 24,71% ke Rp1.060. Auto rejection atas. Klakson berbunyi. Sambutan tepuk tangan.
Direktur Utama BEI Inarno Djajadi berdiri di podium dengan senyum lebar. “Dengan jumlah dana yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp21,9 triliun, menjadikan IPO Bukalapak sebagai yang terbesar dalam sejarah bursa saham Indonesia,” katanya lantang.
Hampir 96.000 investor turut dalam IPO itu. Sebagian besar adalah ritel — orang-orang biasa yang percaya bahwa startup unicorn pertama yang masuk bursa adalah tiket menuju kekayaan. Oversubscribed 8,7 kali. Dana masuk US$1,5 miliar.
Itu adalah puncaknya.
Yang terjadi sesudahnya adalah salah satu kejatuhan paling mencolok, paling lambat, dan — pada akhirnya — paling mengejutkan dalam sejarah pasar modal Indonesia.
Lahir dari Kamar Kos, Tumbuh Jadi Raksasa
Untuk memahami Bukalapak sepenuhnya, kita harus kembali ke 2010.
Achmad Zaky, anak muda dari Sragen, lulus dari Teknik Informatika ITB dengan IPK nyaris sempurna dan segudang penghargaan kompetisi teknologi di tangannya. Alih-alih melamar ke perusahaan besar, ia mendirikan Suitmedia — sebuah konsultan teknologi kecil. Dari proyek-proyek di sana, ia melihat celah yang tak terpenuhi: pedagang kecil Indonesia tidak punya cara yang mudah untuk berjualan online.
Dari kamar kos di Bandung, bersama dua rekannya Fajrin Rasyid dan Nugroho Herucahyono, Zaky membangun Bukalapak.com. Misinya sederhana: memberdayakan UMKM Indonesia di era internet.
Awal tidak mudah. Pedagang mall yang didekatinya hampir semuanya menolak. Respons positif justru datang dari pedagang kecil — warung, penjual sepeda, penjual barang bekas. Komunitas sepeda lipat dan fixed-gear yang sedang booming kala itu menjadi pasar awal yang tak terduga.
Perlahan tapi pasti, traction datang. Pada 2011 sudah ada 10.000 pedagang. Pada 2013, 80.000 pedagang. Investor mulai tertarik tanpa diminta — GREE Ventures masuk di 2014. Batavia Incubator lebih awal lagi. Lalu datang nama-nama besar: Ant Financial, Microsoft, GIC Singapura, Mirae Asset, dan Emtek Group.
Pada 2017, Bukalapak resmi menjadi unicorn — valuasi menembus US$1 miliar. Zaky, yang merintis dari kamar kos, kini menjadi salah satu tokoh teknologi paling disegani di Asia Tenggara.
Tapi kisah seorang pendiri dan kisah sebuah perusahaan tidak selalu berjalan seiring.
Kerugian yang Tidak Pernah Berhenti
Jauh sebelum IPO, kondisi keuangan Bukalapak sudah menjadi tanda tanya besar. Dalam prospektus yang diterbitkan sebelum IPO, tertera dengan jelas: Bukalapak telah merugi selama bertahun-tahun berturut-turut.
Rekam kerugian Bukalapak sebelum IPO:
- 2018: rugi Rp2,23 triliun
- 2019: rugi Rp2,79 triliun
- 2020: rugi Rp1,34 triliun
- 2021 (full year): rugi Rp1,68 triliun
Total kerugian kumulatif 2018–2021 saja sudah melampaui Rp7 triliun. Ini bukan startup yang sedang dalam perjalanan menuju breakeven — ini perusahaan yang membakar uang di setiap kuartal, setiap tahun, tanpa kejelasan kapan berhenti.
Namun euforia startup teknologi global kala itu menutup mata banyak orang. Logikanya: Amazon merugi bertahun-tahun sebelum akhirnya mendominasi. Tokopedia merugi. Grab merugi. Sea merugi. Kerugian adalah investasi, bukan kegagalan. Growth at all costs.
Bukalapak pun ikut arus itu. Dan investor — baik institusional maupun ritel — membelinya bulat-bulat.
Kejatuhan Paling Menyakitkan
Tepat tiga bulan setelah IPO, sesuatu mulai bergeser. Harga saham BUKA yang sempat melonjak ke Rp1.060 mulai merangkak turun. Perlahan. Lalu semakin cepat.
Pada akhir 2021 — hanya lima bulan setelah IPO — harga BUKA sudah di Rp430. Turun 49% dari harga IPO, dalam tempo setengah tahun.
Tapi itu baru permulaan. Pada Januari 2022, BUKA menyentuh Rp366 — all time low baru. Pada Maret 2022, turun lagi ke Rp258, lalu Rp254. Saham yang dibeli investor dengan Rp850 kini bernilai kurang dari sepertiga harganya.
BEI sampai harus mensuspensi perdagangan BUKA beberapa kali karena pergerakan harga yang tidak wajar.
Pada 2024, saham BUKA parkir di kisaran Rp100-117 — sudah kehilangan sekitar 86% nilai dari harga IPO. Per Mei 2026, harga BUKA berada di kisaran Rp150, masih 82,59% di bawah harga penawaran perdana empat tahun silam.
Apa yang menyebabkan kejatuhan ini?
Pertama, realitas keuangan yang tidak bisa disembunyikan. Laporan keuangan terus mencetak kerugian: 2022 rugi, 2023 rugi Rp1,36 triliun, 2024 rugi Rp1,54 triliun — bahkan naik 13,28% dari tahun sebelumnya. Investor yang berharap melihat tanda-tanda profitabilitas terus kecewa.
Kedua, persaingan yang tidak setara. Di segmen marketplace, Bukalapak berhadapan dengan Tokopedia (yang mendapat dukungan SoftBank dan Alibaba), Shopee (Sea Group dengan modal triliunan rupiah dari kawasan), dan Lazada (Alibaba). Bukalapak tidak punya keunggulan struktural untuk menang di perang ini. Insentif yang diberikan kepada penjual dan pembeli tidak mampu menyaingi skala kompetitor.
Ketiga, timing IPO yang buruk. IPO dilakukan di tengah puncak valuasi saham teknologi global. Ketika suku bunga naik dan sentimen bergeser pada 2022, seluruh sektor teknologi terkoreksi — dan Bukalapak, dengan fundamental yang sudah rapuh, jatuh lebih dalam dari yang lain.
Keempat, kepercayaan investor ritel yang luka. Hampir 96.000 investor masuk di harga Rp850. Mayoritas dari mereka menderita kerugian besar. Cerita-cerita tentang investor yang kehilangan tabungan belasan hingga puluhan juta beredar di media sosial. Reputasi BUKA di mata investor ritel rusak parah.
Muhammad Farras Farhan, analis dari Samuel Sekuritas, menyimpulkan dengan tajam: langkah Bukalapak selanjutnya bukan strategi yang terencana — melainkan sebuah seruan untuk bertahan hidup.
Achmad Zaky Pergi, Era Baru Dimulai
Di tengah tekanan bertubi-tubi, pada Januari 2020 — setahun sebelum IPO — Achmad Zaky mengumumkan pengunduran dirinya sebagai CEO. Ia digantikan Rachmat Kaimuddin, mantan bankir dari Standard Chartered.
Kepergian Zaky bukan tanpa kontroversi. Beberapa bulan sebelumnya, cuitan Zaky di Twitter yang seolah berharap ada presiden baru — di momen sensitif Pemilu 2019 — memicu gelombang protes besar di media sosial. Kampanye #UninstallBukalapak viral, mengakibatkan penghapusan massal aplikasi oleh pengguna.
Zaky meminta maaf. Tapi kerusakan sudah terjadi — baik pada reputasi Bukalapak maupun pada kepercayaan ekosistem.
Rachmat Kaimuddin membawa pendekatan lebih korporat. Ia yang memimpin perusahaan menuju IPO bersejarah di 2021. Namun dua tahun setelah IPO, pada 2023, ia pun mundur. Tongkat estafet diserahkan ke Willix Halim — mantan eksekutif Gojek yang dikenal sebagai pemikir berbasis data dan efisiensi.
Pergantian kepemimpinan ini, dalam retrospeksi, menjadi titik awal perubahan arah yang sesungguhnya.
Januari 2025 — Hari yang Mengubah Segalanya
Pada 7 Januari 2025, Bukalapak menerbitkan pengumuman yang mengguncang ekosistem e-commerce Indonesia.
“Kami ingin menginformasikan bahwa Bukalapak akan menjalani transformasi dalam upaya untuk meningkatkan fokus pada Produk Virtual. Sebagai bagian dari langkah strategis ini, kami akan menghentikan operasional penjualan Produk Fisik di Marketplace Bukalapak.”
Kalimat itu singkat, dingin, dan penuh implikasi.
Bukalapak — yang sejak 2010 dibangun sebagai marketplace untuk UMKM menjual produk fisik — resmi menutup bisnis intinya. Mulai 9 Februari 2025, tidak ada lagi baju, elektronik, perabot, atau gadget yang bisa dibeli di Bukalapak. Yang tersisa: pulsa, token listrik, BPJS, dan layanan virtual lainnya.
Bagi banyak orang, ini terasa seperti kematian. Marketplace yang dulu bersaing dengan Tokopedia dan Shopee kini menjual pulsa saja.
Reaksi publik terbelah. Sebagian melihatnya sebagai kekalahan memalukan. Yang lain membaca sesuatu yang berbeda: ini bukan tanda perusahaan yang mati — ini tanda perusahaan yang sedang memilih hidup.
Buktinya ada di data yang banyak orang abaikan. Manajemen mengungkapkan: penjualan produk fisik hanya berkontribusi kurang dari 3% terhadap total pendapatan Bukalapak. Tiga persen. Mereka menutup bisnis yang terlihat besar di permukaan — tapi yang sesungguhnya sudah lama tidak relevan secara finansial.
Beban operasional untuk mempertahankan marketplace fisik — server, layanan pelanggan, penanganan komplain, logistik — jauh lebih besar dari kontribusinya. Menutupnya bukan kekalahan. Itu adalah amputasi yang sudah lama seharusnya dilakukan.
Empat Pilar Baru — dan Satu Kejutan Bernama Gaming
Jauh sebelum pengumuman penutupan marketplace, Bukalapak secara diam-diam sudah membangun fondasi baru. Ada empat pilar yang menjadi fokus:
1. Mitra Bukalapak — digitalisasi warung tradisional. Platform O2O yang memungkinkan warung-warung kecil mengakses produk virtual (pulsa, tagihan, PPOB), pembiayaan, dan layanan keuangan. Ini adalah bisnis yang sebenarnya tidak glamor tapi kuat secara unit economics. Lebih dari 5 juta mitra warung tersebar dari Sabang sampai Merauke menjadi jaringan distribusi yang tidak bisa ditiru dengan mudah.
2. Gaming — taruhan yang awalnya dianggap remeh. Bukalapak mengakuisisi Itemku pada 2021 — marketplace untuk item virtual, karakter game, dan akun game. Dikombinasikan dengan Lapakgaming (platform top-up dan voucher game), divisi gaming ini mulai tumbuh senyap di tengah krisis marketplace.
3. Retail — fokus ke produk virtual: pulsa, data, token listrik, voucher streaming, dan produk digital lainnya. Margin jauh lebih tinggi dibanding produk fisik karena tidak ada biaya logistik.
4. Investment — platform B-Money untuk investasi reksadana dan produk keuangan ritel.
Dari keempat pilar ini, tidak ada yang lebih mengejutkan perkembangannya daripada Gaming.
Pada 2023, segmen gaming Bukalapak sudah tumbuh 49% year-on-year, mencapai pendapatan Rp2,38 triliun. Tapi lonjakan sesungguhnya baru terjadi setelahnya. Sepanjang 9 bulan 2025, pendapatan gaming meledak 215% menjadi Rp3,83 triliun. Untuk keseluruhan 2025, segmen gaming — melalui Itemku dan Lapakgaming — menghasilkan Rp5,34 triliun, tumbuh 205%. Angka itu menyumbang sekitar 82% dari total pendapatan Bukalapak.
Bukalapak, yang dulunya dikenal sebagai marketplace UMKM untuk baju dan elektronik, kini praktis adalah perusahaan gaming.
Indonesia adalah pasar game mobile terbesar kelima di dunia. Nilai industrinya sekitar US$1,6 miliar pada 2023, dengan segmen mobile game mendominasi 77%. Jutaan gamer Indonesia membeli top-up koin, diamond, voucher, dan item virtual setiap hari. Ini adalah transaksi digital murni — tidak butuh gudang, tidak butuh kurir, tidak butuh pengembalian barang. Marginnya tinggi, biaya operasionalnya rendah.
Bukalapak masuk ke ceruk ini tidak terlambat — justru tepat waktu.
Mesin Uang Tersembunyi — Kas IPO Rp21,9 Triliun
Ada satu komponen dalam profitabilitas Bukalapak yang jarang dibahas secara jujur: dana IPO yang belum habis.
Dari Rp21,9 triliun yang diraih saat IPO 2021 (setelah biaya emisi sekitar Rp21,3 triliun bersih), Bukalapak tidak membakar semuanya dalam tempo cepat. Hingga akhir 2024, sisa dana IPO masih Rp9,3 triliun. Total kas, setara kas, dan investasi likuid mencapai Rp17–19 triliun di berbagai periode.
Kas sebesar itu tidak hanya duduk diam. Bukalapak menempatkannya di deposito berjangka (termasuk Rp5 triliun di BRI dan Rp4,3 triliun dalam USD di Standard Chartered Singapore), obligasi pemerintah, reksa dana, dan saham.
Hasilnya: sepanjang 2024, pendapatan keuangan Bukalapak dari bunga deposito, obligasi, dan instrumen investasi mencapai Rp1,04 triliun. Itu berarti hampir seperempat dari seluruh pendapatan operasional mereka bukan dari berjualan — melainkan dari uang yang disimpan.
Ini adalah ironi yang pahit dan lucu sekaligus: perusahaan yang IPO untuk mendapat modal kerja mengembangkan bisnis, ternyata justru mengandalkan bunga dari modal kerja yang belum terpakai untuk menambal kerugian operasionalnya.
Kritikus menyebut ini bukan profitabilitas — ini hanya “hidup dari bunga.” Pendukungnya berargumen: mempertahankan kas dan menginvestasikannya secara cerdas justru menunjukkan disiplin manajemen yang lebih matang dibanding membakarnya untuk subsidi pengguna.
Laba Rp3,14 Triliun — Tapi Bagaimana Membacanya?
Pada Maret 2026, Bukalapak merilis laporan keuangan 2025 yang mengejutkan hampir semua analis: laba bersih Rp3,14 triliun. Berbalik dari rugi Rp1,55 triliun di 2024. Pendapatan naik 46% menjadi Rp6,51 triliun.
Dari sisi operasional, segmen gaming menyumbang Rp5,34 triliun pendapatan. Mitra Bukalapak menyumbang Rp794 miliar (meski turun 62% YoY karena segmen ini sedang bertransisi fokus). Retail Rp301 miliar. Investment (B-Money) Rp66 miliar.
Namun penting dicatat: Adjusted EBITDA Bukalapak di 2025 masih negatif Rp62 miliar. Ini turun dari negatif Rp340 miliar di 2024 — perbaikan signifikan, tapi masih belum positif.
Lalu dari mana laba bersih Rp3,14 triliun?
Jawaban ada di baris “keuntungan nilai investasi neto” — keuntungan dari portofolio investasi yang menguat, bukan dari operasi bisnis inti. Artinya: laba ini sebagian besar adalah capital gain dari portofolio investasi, bukan dari bisnis.
Apakah ini curang? Tidak. Ini adalah cara akuntansi yang sah dan lazim. Tapi membacanya sebagai “Bukalapak sudah jadi mesin uang dari bisnis teknologinya” adalah kesalahan interpretasi.
Gambaran yang lebih jujur: Bukalapak pada 2025 adalah perusahaan yang operasi gaming-nya tumbuh eksplosif, kerugian operasional menyusut tajam, dan keuntungan investasi dari kas IPO mendongkrak bottom line. Ini adalah badan yang sedang pulih — tapi belum sepenuhnya sehat.
Q1 2026 memberikan sinyal lebih menarik: pendapatan tumbuh ke Rp2,37 triliun, dan Adjusted EBITDA berhasil menjadi positif Rp4 miliar — tipis, tapi untuk pertama kalinya secara kuartalan positif. Transformasi bisnis mulai memberikan hasil yang sesungguhnya.
Yang Bisa Dipelajari dari Anomali Bukalapak
Kisah Bukalapak adalah pelajaran berlapis yang tidak bisa dibaca dengan mudah.
Tentang timing IPO: Bukalapak adalah korban sempurna dari peak euphoria. IPO di puncak valuation teknologi, ketika investor global sedang gila-gilaan memasang harga untuk pertumbuhan masa depan yang belum tentu terjadi. Investor yang masuk di harga IPO Rp850 masih rugi hingga hari ini — hampir lima tahun kemudian. Ini adalah peringatan tentang bahaya membeli growth story tanpa margin of safety.
Tentang pivot yang menyakitkan: Menutup bisnis inti yang sudah dibangun selama 14 tahun bukan hal yang mudah — baik secara emosional maupun reputasi. Tapi kadang itulah satu-satunya jalan. Sebuah luka yang tidak sembuh tidak menjadi lebih baik hanya karena tidak dipotong.
Tentang aset tersembunyi: Siapa yang mengira bahwa kas IPO yang “gagal digunakan” justru menjadi penyelamat? Bukalapak yang diejek “tidak tahu cara membelanjakan uangnya” ternyata diam-diam membangun income stream dari bunga yang cukup signifikan. Kadang konservatisme adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Tentang gaming sebagai pivot: Tidak ada yang memprediksi bahwa perusahaan yang lahir untuk memberdayakan warung UMKM akan bertransformasi menjadi platform gaming terbesar. Ini adalah contoh pivot berbasis data — bukan pivot berdasarkan ide founder yang menginginkan sesuatu yang baru, tapi berdasarkan melihat segmen mana yang tumbuh organik dan sehat.
Tentang harga saham vs. kualitas bisnis: Saham BUKA masih anjlok 82% dari harga IPO pada Mei 2026. Tapi bisnis Bukalapak pada 2025–2026 jauh lebih sehat dari bisnis yang IPO di 2021. Paradoks ini menunjukkan betapa berbahayanya membeli saham di harga yang mencerminkan harapan yang terlalu tinggi — bahkan untuk perusahaan yang akhirnya berhasil bertransformasi.
Penutup: Anomali yang Mengajarkan Banyak Hal
Bukalapak dimulai sebagai jawaban atas masalah nyata: UMKM Indonesia tidak punya akses ke pasar online. Lalu ia tumbuh menjadi unicorn, lalu menjadi perusahaan publik terbesar yang pernah IPO di Indonesia. Lalu ia nyaris hancur. Lalu ia membunuh bisnis intinya sendiri untuk bertahan hidup. Lalu ia tiba-tiba menjelma sebagai perusahaan gaming.
Tidak ada script untuk perjalanan seperti ini. Tidak ada teori bisnis yang bisa memprediksinya dengan sempurna.
Yang ada adalah sebuah perusahaan yang, di tengah segala kekacauan, terus bereksperimen, terus beradaptasi, dan — ketika tersudut — memilih untuk berubah radikal daripada mati perlahan dengan bermartabat.
Apakah Bukalapak sudah “berhasil”? Tergantung dari mana Anda mengukurnya.
Bagi investor yang membeli di harga IPO Rp850, jawabannya masih: belum, dan mungkin tidak pernah.
Bagi mereka yang melihat sebuah perusahaan yang berhasil menemukan kembali relevansinya di tengah ekosistem yang berubah dengan kecepatan yang menyakitkan, jawabannya adalah: mungkin ini baru permulaan.
Itulah anomali Bukalapak. Sebuah kisah yang belum selesai — dan justru karena itulah ia menarik untuk terus diikuti. (*AMBS)
