youngster.id - Siapa yang tidak kenal Zenius? Bagi jutaan pelajar Indonesia, Zenius bukan sekadar aplikasi, melainkan teman begadang demi menembus kampus impian. Namun, setelah dua dekade menemani perjalanan akademik anak bangsa, sang pelopor edtech ini harus menyudahi langkahnya pada Januari 2024.
Bagaimana sebuah perusahaan yang memiliki 16 juta pengguna dan pendanaan mencapai setengah triliunan rupiah bisa tumbang? Ini adalah kisah tentang idealisme, pertumbuhan yang agresif, dan satu taruhan besar yang sayangnya berakhir keliru.
Awal yang Sederhana: Dari CD ke Revolusi Digital
Kisah Zenius dimulai pada 2004 di tangan Sabda Putra Subekti dan Medy Suharta. Berawal dari bimbingan belajar offline kecil di Jakarta, Sabda yang memiliki idealisme tinggi ingin mendemokratisasi pendidikan berkualitas.
- Masalah — Siswa K-12 kesulitan mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi di Indonesia karena biayanya mahal.
- Solusi — Zenius menyediakan akses pendidikan yang terjangkau dan berkualitas tinggi bagi siswa di Indonesia melalui format video daring lewat situs web dan aplikasi seluler.
Sejak berdiri, Zenius memainkan peran penting dalam membantu jutaan siswa mengejar kelulusan dan masuk ke perguruan tinggi negeri impian mereka.
Strategi mereka berevolusi secara organik:
- 2006: Mulai merekam materi pelajaran ke dalam format CD dan DVD.
- 2008: Meluncurkan situs web untuk menjual CD secara daring—sebuah langkah visioner pada masanya.
- 2019: Aplikasi Zenius resmi lahir, membawa lebih dari 80.000 video pembelajaran ke saku siswa.
Saat penetrasi internet Indonesia makin bergeliat, bisnis bimbel Zenius diarahkan menuju digital dengan membuat situs Zenius.net. Seluruh materi pembelajaran, termasuk format rekaman video dapat diakses oleh siswa lewat daring.
Ada dua juta kali kunjungan dalam satu bulan di Zenius.net pada periode 2017, hingga namanya makin dikenal dan sempat menyandang perusahaan edtech pertama yang masuk ke Top 10 Startup di Indonesia versi startupranking.com.
Zenius.net memulai operasi perdana 22 April 2020, dan telah berkembang menjadi aplikasi di berbagai platform toko aplikasi online.
Pada tahun 2020 Zenius sempat menggratiskan pembelajaran untuk mendukung proses belajar selama masa pandemi COVID-19, yang diakui juga merupakan fase berat karena berimbas ke bisnis.
Pada Juni 2021 hingga satu tahun berikutnya growth session di situs perusahaan mencapai 64,5% dan pertumbuhan juga terjadi pada platform media sosial, mulai dari Youtube hingga TikTok. Pada Desember 2022, Zenius memiliki lebih dari 16 juta pengguna yang belajar melalui platformnya. Pendapatan Zenius pun melonjak 70%.
Kesuksesan Zenius membuat Patrick Walujo salah satu pendiri perusahaan Northstar Group memberikan suntikan dana sebesar sebesar US$20 juta. Selain dari perusahaan milik patrick, Zenius juga mendapatkan suntikan dana dari MDI Ventures milik Telkom. Dana ini digunakan untuk mengembangkan Zenius semakin luas dan gampang diakses masyarakat.
Berdasarkan catatan Crunchbase sepanjang tahun 2019 hingga 2021 setidaknya Zenius telah menuntaskan aksi penggalangan dana (fundraising). Sebelum Northstar berinvestasi juga ada nama-nama seperti Alto Partners Multi-Family Office pada Juli 2019 dengan nilai yang dirahasiakan. Dilanjutkan dengan kelompok investor yang dipimpin oleh BEENEXT senilai US$20 juta. Pada tahun 2021 Alpha JWC juga berinvestasi dalam gelombang fundraising seri B Zenius. Total pendanaan mencapai US$40 juta dari investor papan atas, termasuk MDI Ventures, Alpha JWC Ventures, Openspace Ventures, Northstar Group, dan Beacon Venture Capital.
“The Wrong Bet”: Petaka di Balik Akuisisi Primagama
Kehancuran Zenius sering kali dirunut kembali ke satu momen krusial: Februari 2022. Saat dunia mulai pulih dari pandemi, Zenius mengambil langkah berani dengan mengakuisisi raksasa bimbel konvensional, Primagama, yang memiliki 264 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Logikanya sederhana: siswa mulai kembali ke sekolah fisik, maka Zenius harus hadir secara offline. Namun, taruhan ini menjadi “taruhan eksistensial” yang mematikan. Zenius diduga kurang mendalam melakukan due diligence. Dari 264 cabang yang diharapkan, banyak gerai yang ternyata tidak memenuhi standar atau terbelit masalah keuangan mandiri.
Alih-alih memperkuat bisnis, akuisisi ini justru menguras energi dan biaya. Terjadi benturan budaya antara staf unit offline yang kaku dengan tim akademik digital yang dinamis. Di saat yang sama, Zenius menyebar sumber dayanya terlalu tipis: ekspansi ke India, kerja sama mahal dengan Disney, hingga peluncuran kelas live dilakukan secara bersamaan.
Gelombang Badai dan Titik Akhir
Efisiensi menjadi kata yang menghantui sepanjang 2022 hingga 2023. Tiga gelombang PHK besar-besaran tidak cukup untuk menyelamatkan kapal yang bocor. Pada April 2023, beban utang ke pihak ketiga dan biaya operasional teknologi (server) telah melahap 30% dari total pendapatan perusahaan.
Upaya terakhir melalui merger dan akuisisi (M&A) dengan pihak lain, termasuk rumor dengan Sekolah.mu, gagal di menit-menit terakhir karena kesepakatan investor yang tidak tercapai. Pada Januari 2024, Zenius resmi pamit.
Dua Kesalahan Utama yang Dilakukan Zenius
Kesalahan pertama, membuat taruhan besar dan keliru
Selama pandemi, Zenius tumbuh sangat pesat karena lonjakan permintaan kelas daring. Namun setelah pandemi, siswa kembali ke kelas offline — dan Zenius kesulitan.
Sebagai strategi kebangkitan, Zenius mengakuisisi Primagama karena bertaruh pada pasar bimbingan belajar offline seiring banyaknya siswa yang kembali ke pembelajaran tatap muka.
Setelah akuisisi, beberapa masalah muncul sebagaimana dilaporkan Tech in Asia:
- Zenius menyadari tidak melakukan due diligence secara menyeluruh sebelum mengakuisisi Primagama.
- Setelah mengaudit seluruh gerai Primagama, jumlah outlet menyusut dari 250 menjadi 118 karena sebagian outlet tutup (tidak memenuhi standar) dan sebagian outlet (waralaba) menutup operasional secara sukarela akibat kesulitan keuangan.
- Kondisi keuangan Zenius memburuk dan memangkas anggaran pemasaran untuk membantu Primagama mendapatkan siswa baru.
- Terjadi gesekan budaya antara staf unit offline Zenius dan divisi akademik akibat perbedaan praktik kerja.
Singkatnya, akuisisi tersebut tidak membuahkan hasil karena Zenius tetap menghadapi masalah keuangan dan operasional. Lebih buruk lagi, Zenius tidak mampu menggalang pendanaan atau menemukan pembeli potensial akibat penurunan pasar pascapandemi.
Kesalahan kedua, menyebar sumber daya terlalu tipis dengan melakukan terlalu banyak hal
Sebagai contoh, Zenius berekspansi dan membuka kantor di India. Pada saat yang sama, jumlah karyawan meningkat signifikan pada 2021. Zenius juga menandatangani kerja sama mahal dengan Disney, meluncurkan kelas daring live, dan menjalankan kelas offline Primagama.
Karena melakukan terlalu banyak hal sekaligus, Zenius menyebar sumber dayanya terlalu tipis, yang pada akhirnya menyebabkan kejatuhannya.
Tabel Perkembangan Zenius (2004–2024)
|
Tahun / Periode |
Peristiwa Utama |
Keterangan & Dampak Strategis |
|
2004 |
Zenius didirikan sebagai bimbingan belajar offline di Jakarta |
Fokus persiapan Ujian Nasional dan masuk perguruan tinggi; model konvensional awal |
|
2006 |
Produksi materi belajar dalam bentuk CD & DVD |
Skalabilitas meningkat; distribusi konten mulai meluas secara nasional |
|
2007 |
Resmi berbadan hukum sebagai Zenius Education |
Landasan legal untuk ekspansi dan kemitraan |
|
Apr 2008 |
Peluncuran situs web untuk penjualan CD |
Titik awal transformasi digital Zenius |
|
Jul 2019 |
Peluncuran aplikasi Zenius |
Menyediakan >80.000 video gratis; positioning sebagai edtech berbasis konten |
|
2020 |
Pandemi COVID-19 |
Lonjkan permintaan kelas daring; pendapatan naik ±70% pada H2 2020 |
|
2021 |
Fase growth at all costs |
Ekspansi agresif, buka kantor di India, rekrutmen besar-besaran; pertumbuhan karyawan tertinggi Q3 2021 |
|
Feb 2022 |
Akuisisi Primagama |
Taruhan besar pada bimbel offline pascapandemi; 264 cabang di seluruh Indonesia |
|
2022 |
Restrukturisasi awal |
Model offline gagal pulih; tekanan biaya dan penurunan pasar |
|
Mei 2022 |
PHK Gelombang I |
±200 karyawan terdampak |
|
Agu 2022 |
PHK Gelombang II |
Penyesuaian lanjutan akibat tekanan finansial |
|
Feb 2023 |
PHK Gelombang III |
Sinyal krisis berkelanjutan |
|
Apr 2023 |
Perombakan manajemen |
Subekti jadi CEO, Rohan Monga jadi Presiden; CFO keluar |
|
2023 |
Masalah keuangan struktural |
±30% pendapatan terserap untuk utang pihak ketiga & biaya server/infrastruktur |
|
Des 2023 |
Upaya M&A dengan edtech lain |
Negosiasi gagal akibat investor tak memenuhi tenggat |
|
Jan 2024 |
Zenius resmi tutup |
Tutup setelah 20 tahun beroperasi akibat kendala operasional internal |
Pelajaran Berharga dari Kegagalan Zenius
Kisah Zenius adalah laboratorium bisnis bagi siapapun yang sedang membangun startup. Ada tiga pelajaran penting yang bisa dipetik:
Pelajaran pertama, ambil taruhan yang terukur (bukan taruhan eksistensial)
Wajar jika setiap startup merupakan eksperimen untuk memvalidasi atau membantah sebuah hipotesis hingga akhirnya menemukan product-market fit.
Ada perbedaan besar antara “taruhan terukur” dan “taruhan eksistensial”. Taruhan terukur adalah ketika Anda mengambil taruhan kecil yang berpotensi memberi hasil besar. Jika taruhan itu tidak berhasil, tidak masalah — Anda masih bisa mengambil taruhan kecil lainnya.
Taruhan eksistensial adalah ketika Anda mengambil taruhan besar yang berpotensi memberi hasil besar. Jika taruhan itu gagal, perusahaan Anda bisa mati — dan Anda tidak punya kesempatan untuk bertaruh lagi. Sayangnya, inilah yang terjadi pada Zenius. Akuisisi Primagama di tengah pasar yang tidak stabil adalah jenis taruhan kedua.
Pelajaran kedua, alokasikan sumber daya secara optimal
Setiap perusahaan memiliki sumber daya yang terbatas. Fokus adalah kunci. Zenius mencoba melakukan terlalu banyak hal dalam satu waktu—ekspansi internasional, akuisisi fisik, dan kolaborasi merek besar—sehingga kehilangan tajinya di kanal utama.
Pelajaran ketiga, selalu bersiap untuk skenario terburuk
Ada sebuah pepatah → Perbaiki atap sebelum hujan turun.
Meskipun tumbuh pesat saat pandemi, Zenius gagal mengantisipasi perubahan lanskap pendidikan pasca-pandemi dengan model bisnis yang lebih ramping dan efisien.
Penutup: Warisan yang Tetap Abadi
Meski aplikasinya mungkin telah berhenti beroperasi, warisan Zenius tetap hidup dalam cara berpikir jutaan alumni yang pernah belajar dari video-video Sabda Subekti. Zenius membuktikan bahwa pendidikan berkualitas bisa dibuat menarik, namun mereka juga mengingatkan bahwa dalam bisnis, niat mulia saja tidak cukup tanpa manajemen risiko yang kuat.
“Dukungan dan kepercayaan pengguna sangat berarti bagi kami. Terima kasih telah menjadi bagian dari Zenius selama 20 tahun terakhir keberadaan kami.” — Sabda Putra Subekti, Co-Founder & CEO Zenius. (*AMBS/diolah dari berbagai sumber)

















Discussion about this post