Gamal Albinsaid, Raih Penghargaan Pangeran Charles Berkat Klinik Asuransi Sampah

Dokter Gamal Albinsaid bersama Pangeran Charles saat menerima penghargaan dalam kategori wirausaha muda. (foto : unilever)

YOUNGSTER.id - Seorang dokter muda asal Kota Malang, Jawa Timur bernama Gamal Albinsaid berhasil meraih penghargaan “The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur” dari Pangeran Charles di Inggris. Ia telah menyisihkan 511 peserta wirausaha dari 90 negara untuk mendapatkan penghargaan bergengsi tersebut. Berobat dengan sampah melalui sistem asuransi akan dijadikan model untuk diterapkan di kota-kota lain di dunia Pernyataan itu disampaikan Dr Gamal Albinsaid yang meraih penghargaan di Inggris.

Laporan Khusus BBC London belum lama ini menyebutkan Gamal merupakan salah seorang dari tujuh finalis dalam lomba pertama untuk kategori pemuda Sustainable Living Young Entrepreneurs Awards yang diselenggarakan oleh Unilever bekerja sama dengan Universitas Cambridge.

“Saya menyampaikan selamat kepada Gamal Albinsaid atas gagasan mengagumkan ini. Pemimpin muda ini mengembangkan gagasan yang benar-benar inovatif, menangani dua masalah pada saat yang bersamaan; manajemen dan daur ulang sampah serta asuransi kesehatan bagi masyarakat kurang mampu,” kata Pangeran Charles dalam acara pemberian penghargaan tersebut.

Selain Gamal ada 7 finalis lainnya termasuk dari Meksiko dengan usulan energi terbarukan dari jaringan lampu tenaga surya dan Nigeria dengan pangan ayam murah dengan biji mangga. “Ternyata banyak orang yang peduli dengan orang-orang yang kurang beruntung. Itulah pesan-pesan optimistis yang saya tangkap dan sungguh kepedulian itu terasa manis,” kata Gamal kepada BBC Indonesia.

Solusi dari Sampah

Gamal untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan sistem Klinik Asuransi Sampah di Kota Malang. Ide tersebut bermula di tahun 2010 saat Gamal bersama dengan empat teman dan satu dosennya membahas klinik asuransi sampah.

Sebuah kejadian telah menggugah hatinya saat media ramai memberitakan balita yang meninggal dunia akibat terserang penyakit diare. Balita berusia 3 tahun itu adalah putri seorang pemulung bernama Triyono. Penghasilan sang ayah yang hanya Rp 10 ribu membuat anaknya tak bisa berobat, setiap hari hanya diajak memulung hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Tak hanya itu saja, motivasi lain muncul dari sebuah fakta bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memiliki asuransi kesehatan. Oleh karena itu Gamal mencoba menemukan celah solusi yang bisa memungkinkan masyarakat kecil bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.

Sistem keuangan melalui sampah adalah solusi yang berhasil diciptakannya. Gamal menilai jika setiap rumah tangga pasti menghasilkan sampah setiap harinya, sehingga tak sulit membayar biaya pengobatan rumah sakit lewat sampah yang dibawa pasien.

“Sampah adalah solusi terbaik karena hampir setiap hari setiap orang, setiap rumah memproduksi sampah yang tidak digunakan.”

Gamal mengatakan ingin mengembangkan sistem Klinik Asuransi Sampah ini di bidang lain termasuk pendidikan dengan apa yang ia sebut Sekolah Asuransi Sampah.

Gamal juga ingin mengembangkan klinik dengan sistem ini di kota-kota lain Indonesia dan juga dunia. “Apa yang kami lakukan adalah membuat masyarakat memobilisasikan sumber daya mereka yang terbuang dan tidak digunakan, yaitu sampah dan meningkatkan akses kesehatan,” tambahnya

Layanan kesehatan yang lengkap juga diberikan melalui klinik yang dibangunnya. Ada pemeriksaan kesehatan, pemberian obat, konsultasi via telepon, pemeriksaan anak, penyakit kronis orang tua hingga kontrol bagi ibu hamil. Siapa sangka, ide sederhana jika diaplikasikan secara nyata bisa banyak membantu orang lain yang membutuhkan.

 

 

ANGGIE ADJIE SAPUTRA

Editor : Stevy Widia