youngster.id - Isu lingkungan dan perubahan iklim kini semakin dekat dengan kehidupan generasi muda. Namun, memahami pentingnya keanekaragaman hayati ternyata tidak cukup hanya lewat teori di kelas. Pengalaman langsung di lapangan dinilai menjadi cara yang lebih efektif untuk membangun kepedulian anak muda terhadap lingkungan.
Untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam isu keanekaragaman hayati Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) menggelar aksi edukasi lapangan yang berfokus pada penguatan literasi lingkungan generasi muda melalui pengalaman langsung di ekosistem pesisir.
Communication Lead Unit Resilient Nature GIZ Indonesia, Ganda Basara mengatakan, keterlibatan anak muda menjadi fokus penting agar isu biodiversitas terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana anak-anak muda aware dan paham tentang pentingnya keanekaragaman hayati di Indonesia. Karena mereka adalah generasi selanjutnya yang akan menjaga dan meneruskan warisan alam ini,” ujarnya pada rangkaian peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 Sabtu (22/5/2026)di Taman Wisata Alam Muara Angke, Jakarta.
Menurut Gandabhaskara, pendekatan berbasis pengalaman langsung di lapangan, menurut Ganda, dinilai GIZ lebih efektif dibanding hanya mempelajari teori di kelas. Karena itu, bekerjasama dengan KLH mereka menghadirkan berbagai aktivitas seperti diskusi, coaching clinic, laporan status keanekaragaman hayati daerah, hingga field-based education yang melibatkan pelajar dan mahasiswa secara langsung.
Langkah ini sejalan dengan salah satu poin dalam tujuh langkah strategis implementasi Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025-2045, yakni menempatkan generasi muda sebagai pelopor masa depan konservasi melalui penguatan literasi dan tanggung jawab menjaga ekosistem lingkungan.
“Kalau anak-anak muda, lebih baik langsung kegiatan. Mereka bisa melihat sendiri, menyentuh langsung, dan memahami bahwa biodiversitas itu ada di sekitar mereka,” ujarnya lagi.
Salah satu kegiatan utama dalam program ini adalah mengajak para siswa belajar langsung di ekosistem pesisir mangrove di kawasan Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Aksi ini melibatkan 120 siswa dan guru pendamping yang berasal dari sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Jakarta seperti SMAN 8, SMAN 78, SMAN 34, Yadika 2, SMA 112, dan SMA Islam Islamic Village.
Para siswa diajak untuk berinteraksi langsung dengan alam, mengenali berbagai spesies flora dan fauna pesisir, serta memahami mekanisme adaptasi ekosistem mangrove dalam menghadapi perubahan iklim global dan ancaman abrasi.
Vincent Suhardo, siswa dari SMK Yadika 2, mengungkapkan bahwa kegiatan lapangan ini memberikan banyak pengetahuan baru mengenai fungsi spesifik tanaman mangrove yang sebelumnya belum diketahui.
“Saya jadi bisa paham soal mangrove, yang sebelumnya saya tidak tahu. Awalnya saya hanya tahu mangrove itu tumbuh di pinggir laut. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa mangrove bisa mencegah abrasi, menghadapi perubahan cuaca, dan mampu hidup di tanah berlumpur. Saya juga jadi kenal jenis-jenis mangrove sekaligus bisa bertemu dengan teman-teman baru,” ucapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Dhistie Aderusla, siswi dari SMA 112 Jakarta, yang merasa kegiatan ini berhasil menumbuhkan kepedulian yang lebih mendalam terhadap kelestarian ekosistem pesisir.
“Dari awal acara kami sudah diajarkan pengetahuan soal biota mangrove. Kami jadi tahu jenis-jenis mangrove, seperti bakau hitam dan jenis lainnya. Pengalaman langsung seperti ini membuat saya menjadi semakin lebih peduli terhadap lingkungan,” katanya.
STEVY WIDIA















Discussion about this post