Google Beri Kepribadian Pada Asisten Virtual

Google Assistant terus dikembangkan. (Foto: Ilustrasi/Youngster.id)

YOUNGSTER.id - Sekarang ini teknologi telah menjadi asisten pribadi yang membantu mengatur kesibukan sehari-hari. Mulai dari menemani Anda menjalani keseharian hingga menemukan informasi yang memudahkan rutinitas Anda. Tak berhenti di sana, Google ingin memberi “kepribadian” bagi asisten pribadi Anda.

Ya, Google terus menciptakan teknologi yang dapat membantu pengguna dengan cara yang menyenangkan. Yaitu memberi Google Assistant sebuah identitas, sehingga teknologi ini menjadi semakin mudah diakses dan relevan untuk penggunanya.

“Saya telah bersama Google selama 10 tahun, dan selama waktu berjalan kami terus berusaha untuk membuat Google menjadi lebih mudah lagi diakses pengguna. Tim personality untuk Google Assistant adalah tokoh-tokoh yang berasal dari Pixar, the Onion, dan Nintendo. Kami telah melakukan penelitian mengenai kepribadian dan AI space dan kami juga memikirkan bagaimana kepribadian Google harus terwujud di Google Assistant, kami meyakini bahwa Google Assistant merefleksikan nilai dan semangat dari Google yang dapat membantu, humble dan sedikit jenaka,” kata Ryan Germick, Principal Designer Google dalam siaran pers, Selasa (17/10/2017).

Google Assistant adalah sebuah percakapan yang terjadi antara Anda dengan Google yang dapat membantu aktivitas dengan lancar saat di rumah atau dimanapun Anda berada. Dengan Google Assistant Anda dapat bertanya banyak hal dan menyaksikan bagaimana Google Assistant dapat membuat hidup menjadi lebih mudah. Google Assistant berbasis suara ini dapat digunakan di ponsel pintar Android, aplikasi chatting Allo, dan speaker pintar Google Home yang telah dijual secara umum pada musim gugur lalu.

Kini, Google mengubah Assistant menjadi sebuah asisten atau penolong tanpa berpura-pura menjadi manusia. Misalnya,ketika Anda bertanya kepada Assistant “apakah akan menakutkan pada saat gelap? Assistant tidak akan merespon dengan sebuah jawaban yang merujuk pada nuansa rasa takut. Assistant akan menjawab seperti, “Aku suka saat gelap karena saat itulah bintang akan bermunculan. Tanpa adanya bintang, kita tidak akan bisa mempelajari planet dan rasi bintang”.

Seperti inilah kepribadian yang terefleksi oleh Google Asisstant. Google Assistant melakukan percakapan senatural mungkin tanpa berpura-pura menjadi sesuatu yang tidak pengguna sukai.

Hal ini juga kerap melibatkan analisis subteks mengapa seseorang melontarkan pertanyaan spesifik di awal. Ketika ada pertanyaan “Maukah Anda menjadi pasanganku?”, Assistant tidak memberi jawaban langsung, namun ‘mengelak’ dengan jawaban yang menggambarkan Assistant senang pemiliknya sedang mencari komitmen lebih.

Pertanyaan seperti ini bisa saja terlihat dangkal atau justru berangkat dari emosi yang kompleks. Meskipun mungkin tidak ada orang yang mengharapkan jawaban serius dari pertanyaan tersebut, namun Assistant akan mencoba memahami secara sistematis bagaimana satu keadaan emosional berbeda satu dengan lainnya, terutama perasaan yang serupa dan membingungkan.

Hal ini yang mendorong tim Assistant untuk membuat respon-respon yang mengandung unsur empati di dalamnya. Seperti ketika ada seseorang yang berbicara kepada Assistant, “Aku sedang stress berat”, Assistant akan menjawab dengan jawaban, “Kamu pasti sedang banyak pikiran. Apa yang bisa kubantu?”. Pengakuan semacam ini membuat orang merasa terlihat dan didengar. Hal ini setara dengan kontak mata.

Menurut Ryan, Google kini sedang berfokus pada ‘nuansa berbicara membawakan pidato’. Dalam artian bagaimana nada suara dapat menginterpretasikan komunikasi antara pengguna dan Assistant. Mungkin Anda dapat mengetahui ketika Assistant sedikit meninggikan suaranya pada awal kalimat untuk menandakan ‘tidak atau jangan’ kepada penggunanya.

Asisten digital Google juga masih terus berusaha melakukan improvisasi pada dasar-dasar percakapan, seperti menginterpretasi permintaan-permintaan khusus yang diungkapkan berbeda dari pertanyaan yang telah diprogram untuk dipahaminya.

Google kemudian akan terbiasa untuk mengerti apa yang pengguna inginkan atau rasakan. Proses pemahaman karakter yang sejauh ini Google dapat lakukan adalah melalui riwayat pengguna. Dengan melihat apa yang pengguna tanya dan fitur apa yang paling sering digunakan sebelumnya, Assistant mencoba menghindari adanya jawaban repetisi.

Kedepannya, Google berharap dapat melakukan observasi yang jangkauannya jauh lebih luas tentang preferensi pengguna berdasarkan bagaimana pengguna berinteraksi dengan Asisten manusia.

 

STEVY WIDIA