Indonesia Gandeng WIPO Kembangkan Inovasi

Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian (tengah) membuka Pameran Produk Unggulan Indonesia. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Organisasi Hak Kekayaan atas Intelektual Dunia (World Intellectual Property Organizational/WIPO) untuk pengembangan inovasi. Bahkan Indonesia akan menjadi negara ke-100 yang meratifikasi Protokol Madrid.

“Keikutsertaan Indonesia dalam Protokol Madrid diharapkan bisa mempermudah dalam mendaftarkan merek secara internasional di banyak negara,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melalui keterangannya baru-baru ini di Jakarta.

Airlangga menjelaskan, untuk mengesahkan Indonesia dalam keanggotaan Protokol Madrid, pemerintah sedang menyiapkan Rancangan Peraturan Presiden tentang Protokol Madrid.

“Pada saat kita registrasi merek, itu akan tercatat di lima atau enam negara yang kita mau. Misalnya, Indonesia punya produk makanan dan ini teregistrasi di ASFAN. Dengan registrasi di Indonesia, otomatis teregistrasi juga di ASEAN,” tuturnya.

Registrasi merek itu akan menguatkan hak paten suatu produk. Setiap bidang industri memiliki hak paten tersendiri.

Berdasarkan hasil studi AT Kearney, pengembangan teknologi dan inovasi akan menguatkan daya saing Indonesia dalam upaya menjadi negara yang produktif di masa depan. Dalam hal ini, kekuatan Indonesia terlihat dari penetrasi internet dan pemakaian ponsel.

“Potensi pengembangan tersebut bisa melalui universitas yang berafiliasi sebagai inkubator, industri manufaktur dengan teknologi tinggi dan menengah, intensitas riset, jumlah peneliti,” jelas Airlangga.

Di samping itu, diperlukan pula pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Kemenperin telah bekerja sama dengan Tsinghua University Beijing untuk pengembangan SDM dengan pelatihan trainer dan inkubator,” kata Airlangga lagi.

Kemudian, dibutuhkan skema perdagangan dan iklim investasi global yang mendukung, kebijakan pemerintah, dan daya beli masyarakat.

Airlangga mengatakan, pemerintah memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020 dengan menargetkan 1.000 technopreneur dengan valuasi bisnis mencapai US$100 miliar, dan total nilai e-commerce sebesar US$ 130 miliar.

STEVY WIDIA