Anak Muda Asia Pasifik Ubah Limbah Kemasan Jadi Solusi Bisnis Berkelanjutan

Juara FedEx/JA International Trade Challenge Asia Pasifik 2026. (Foto: istimewa/fedex)

youngster.id - Limbah kemasan tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber ide untuk menciptakan produk dan peluang bisnis baru. Hal tersebut terlihat dalam FedEx/JA International Trade Challenge Asia Pasifik 2026, ketika anak muda dari berbagai negara ditantang mengembangkan solusi berkelanjutan dengan memanfaatkan kemasan bekas.

Kompetisi tersebut diikuti lebih dari 4.000 generasi muda dari delapan negara dan wilayah, yakni Hong Kong SAR, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Sebanyak 48 peserta kemudian melaju ke babak final Asia Pasifik.

President, Asia Pacific, FedEx, Salil Chari, mengatakan penyelenggaraan tahun ini sekaligus menandai 20 tahun perjalanan FedEx/JA International Trade Challenge dalam membekali generasi muda Asia Pasifik dengan keterampilan kewirausahaan, bisnis, dan perdagangan internasional.

“Program yang awalnya memperkenalkan perdagangan internasional kepada para pelajar kini berkembang menjadi wadah untuk mengasah cara berpikir wirausaha, kerja sama lintas budaya, dan kemampuan memecahkan persoalan nyata,” ujar Salil, dikutip Jumat (25/9/2026).

Menurut Salil, kreativitas dan wawasan global yang ditunjukkan para finalis menjadi bagian dari kemampuan yang dibutuhkan generasi pemimpin bisnis berikutnya.

Selama dua dekade penyelenggaraan, FedEx/JA International Trade Challenge telah memberdayakan lebih dari 54.000 pelajar di Asia Pasifik melalui pembelajaran di kelas, pendidikan kewirausahaan, dan tantangan bisnis internasional berbasis praktik.

President & CEO JA Asia Pacific, Vivek Kumar, mengatakan para finalis menunjukkan kemampuan untuk mengubah pembelajaran menjadi solusi yang dapat menjawab persoalan bisnis nyata.

“Para pemenang, bersama seluruh 48 finalis, menunjukkan dampak yang ingin dicapai FedEx/JA International Trade Challenge: generasi muda yang berani menggagas solusi, mampu bekerja sama lintas budaya, dan dapat menerapkan pembelajaran di kelas untuk menjawab tantangan bisnis nyata,” ujar Vivek.

Dalam babak final, para peserta ditantang menyusun strategi memasuki pasar Kamboja untuk produk inovatif dan berkelanjutan yang mengolah kemasan bekas menjadi solusi bernilai ekonomi, lingkungan, atau sosial bagi masyarakat setempat.

Terpilih sebagai juara adalah Tim Ascent yang beranggotakan Farra Santoso dari Indonesia dan Harry Jang dari Korea Selatan. Keduanya meraih juara pertama melalui gagasan pelapis penahan panas berbobot ringan dari kemasan industri daur ulang.

Produk tersebut dirancang untuk kondisi iklim panas Kamboja dan dapat mengurangi panas yang masuk ke bangunan tanpa menggunakan listrik. Solusi ini berpotensi membantu menekan biaya energi pabrik, melindungi pekerja dari paparan panas, sekaligus mengurangi limbah.

“Memenangkan FedEx/JA International Trade Challenge 2026 merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Bekerja bersama rekan dari negara dan wilayah berbeda mendorong kami melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas dan merancang solusi yang berpeluang diterapkan di pasar global,” ujar Farra Santoso dan Harry Jang.

Menurut keduanya, kompetisi tersebut juga memperlihatkan keterkaitan antara perdagangan internasional, keberlanjutan, teknologi, dan pemahaman lintas budaya dalam menjawab tantangan bisnis nyata.

“Sepanjang kompetisi, kami belajar bagaimana perdagangan internasional, keberlanjutan, teknologi, dan pemahaman lintas budaya saling berkaitan dalam menjawab tantangan bisnis nyata. Pencapaian ini semakin bermakna karena diraih pada tahun ke-20 program,” lanjut mereka.

Untuk juara kedua diraih Tim Baksei yang beranggotakan Masato Hirozane dari Jepang dan Sara Nileshkumar Jasani dari Malaysia. Mereka mengembangkan ubin berpori dan tahan lama dari limbah kemasan plastik fleksibel untuk membantu mengatasi dampak banjir.

Sementara itu, juara ketiga diraih Tim Ventra yang beranggotakan Minette Cabaluna dari Filipina dan Rayden Cleverson Suhardi dari Indonesia. Mereka mengusulkan sistem pendingin modular berbahan limbah plastik daur ulang yang dirancang untuk membantu menurunkan suhu ruangan tanpa menggunakan listrik.

STEVY WIDIA

Exit mobile version