youngster.id - Antusiasme sektor swasta di Indonesia dalam menerapkan prinsip kesetaraan gender dan inklusivitas tempat kerja mencatatkan rekor baru. UN Women Indonesia menerima sebanyak 142 aplikasi dari 94 perusahaan di Tanah Air—menjadi angka pendaftaran tertinggi di kawasan Asia Pasifik.
Lonjakan pendaftaran ini mencerminkan pergeseran paradigma yang signifikan di ranah bisnis nasional. Kesetaraan gender tidak lagi dipandang sekadar sebagai aksi sosial, melainkan telah menjadi bagian dari strategi fundamental korporasi untuk memperkuat daya saing, mendukung prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), serta memenuhi tuntutan pasar global.
Mengacu pada laporan UN Women Unfinished Business: Private Sector and Gender Equality, perusahaan dengan jajaran eksekutif yang setara gender memiliki peluang 25% lebih tinggi untuk mencetak profitabilitas di atas rata-rata. Kendati demikian, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan di Indonesia masih berada di angka 56,63%, tertinggal dari laki-laki yang menyentuh 84,40%.
Head of Programmes UN Women Indonesia, Dwi Yuliawati, menyampaikan bahwa tinggi keterlibatan aktif korporasi lokal menjadi sinyal kuat pergerakan sektor bisnis menuju penerapan standar inklusi yang aktif dan terukur.
“Antusiasme tahun ini bukan sekadar soal angka, melainkan tanda pergeseran paradigma yang besar di sektor bisnis Indonesia. Perusahaan kini menyadari bahwa kesetaraan gender adalah keunggulan kompetitif. Sektor bisnis kita telah bergerak dari kesadaran pasif menuju penerapan standar inklusi yang aktif dan terukur, sejalan dengan tuntutan keberlanjutan bisnis global,” ujar Dwi, dikutip Rabu (21/10/2026).
Penerapan Prinsip Gender oleh Korporasi Nasional dan UKM
Penerapan Women’s Empowerment Principles (WEPs)—panduan global yang digagas oleh UN Women dan UN Global Compact—kini kian meluas di berbagai lini industri Indonesia, mulai dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan korporasi multinasional hingga Usaha Kecil dan Menengah (UKM) melalui kebijakan rantai pasok inklusif (inclusive procurement).
Di sektor industri dan manufaktur, Schneider Electric Indonesia mengambil langkah konkret untuk mengatasi kesenjangan teknisi perempuan di sektor kelistrikan yang secara global masih berada di bawah angka 3%. Melalui program Women Electrician Bootcamp, Schneider membekali para peserta untuk membangun pipa talenta (talent pipeline) rekrutmen yang inklusif dan berkelanjutan.
Sementara itu di sektor barang konsumsi, PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (Cimory Group) mengintegrasikan pemberdayaan perempuan langsung ke dalam model bisnis utamanya melalui program Miss Cimory. Inisiatif ini kini telah memberdayakan lebih dari 10.000 ibu rumah tangga di 17 provinsi sebagai agen penjualan langsung, berbekal pelatihan literasi keuangan dan strategi pemasaran digital.
Adopsi Teknologi dan AI Responsif Gender
Merespons tantangan era digital, di mana pekerjaan perempuan tercatat lebih berpotensi terpapar otomatisasi Generative AI (27,6%) dibandingkan laki-laki (21,1%), korporasi di Indonesia juga mulai terdorong memanfaatkannya secara etis.
Perusahaan lokal kini aktif memanfaatkan kecerdasan buatan untuk merancang kebijakan responsif gender, seperti mengurangi bias dalam proses rekrutmen tempat kerja hingga memperluas akses layanan finansial dan kesehatan bagi perempuan.
Peningkatan komitmen dunia usaha ini membuktikan bahwa kesetaraan gender telah menjadi standar baru tata kelola perusahaan (corporate governance) di Indonesia guna menciptakan dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
HENNI S.


















Discussion about this post