youngster.id - Menjelang Idulfitri, Bank Saqu meluncurkan kampanye edukatif bertajuk “Awas Hantu Cyber”. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan nasabah terhadap maraknya modus penipuan digital yang biasanya melonjak seiring meningkatnya aktivitas transaksi masyarakat di momen Ramadan dan Lebaran.
Melalui pendekatan kreatif, Bank Saqu mempersonifikasikan ancaman siber seperti phishing dan social engineering sebagai sosok “Hantu Cyber” untuk memudahkan masyarakat mengenali bahaya yang mengintai di dunia digital.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kerugian masyarakat akibat penipuan digital diperkirakan mencapai lebih dari Rp2,5 triliun pada 2024. Angka ini semakin mengkhawatirkan dengan laporan industri yang mencatat estimasi kerugian publik menembus Rp6 triliun dalam kurun waktu November 2024 hingga September 2025.
Chief Digital & Retail Business Officer Bank Saqu, Angela Lew Dermawan, menjelaskan bahwa kampanye ini adalah bentuk pendampingan agar nasabah merasa aman saat bertransaksi.
“Menjelang Idulfitri, kami ingin mengingatkan nasabah untuk tetap waspada. Melalui ‘Awas Hantu Cyber’, kami berharap masyarakat lebih paham cara menjaga keamanan data pribadi dan kode OTP,” ujar Angela, dikutip Sabtu (14/3/2026).
Kampanye ini hadir dalam bentuk serial konten edukasi di berbagai kanal media sosial Bank Saqu. Nasabah diajak mengenali berbagai karakter “Hantu Cyber” yang merepresentasikan modus penipuan nyata, seperti pesan paket palsu hingga promo belanja fiktif.
Sebagai bank milik Astra Financial dan WeLab, Bank Saqu berkomitmen tidak hanya menghadirkan inovasi layanan, tetapi juga memperkuat sistem keamanan guna menciptakan ekosistem keuangan digital yang lebih aman bagi seluruh masyarakat Indonesia.
STEVY WIDIA
