Ditopang Pasar Otomotif, Laba Bersih Adira Finance Melesat 37% Jadi Rp1,1 Triliun di Semester I-2026

Kinerja Adira Finance Semester I 2026

Ditopang Pasar Otomotif, Laba Bersih Adira Finance Melesat 37% Jadi Rp1,1 Triliun di Semester I-2026 (Foto: Ilustrasi)

youngster.id - Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya tekanan inflasi, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) berhasil membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang semester I-2026. Perusahaan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 37% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp1,1 triliun.

Kinerja positif ini didorong oleh pertumbuhan penjualan industri otomotif nasional yang tetap bergairah sepanjang enam bulan pertama tahun 2026. Penjualan ritel sepeda motor baru tumbuh 10% YoY menjadi 3,3 juta unit, sementara penjualan ritel mobil baru naik 11% YoY mencapai 434 ribu unit.

Sejalan dengan tren tersebut, pembiayaan baru Adira Finance melesat 18% YoY menjadi Rp23,1 triliun pada semester I-2026. Pertumbuhan ini terjadi secara merata pada seluruh segmen pembiayaan, baik otomotif maupun non-otomotif.

Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila, menegaskan bahwa perusahaan akan terus menjaga momentum pertumbuhan ini dengan tetap disiplin menjaga kualitas aset di tengah dinamika suku bunga dan fluktuasi daya beli.

“Ke depan, Adira Finance akan terus menjaga momentum pertumbuhan melalui penyaluran pembiayaan yang selektif dan disiplin. Perusahaan tetap mengutamakan kualitas pembiayaan, menerapkan pengelolaan risiko yang prudent, serta mencermati perkembangan kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat,” ujar Dewa Made, dikutip Sabtu (1/8/2026).

Piutang Kelolaan Tembus Rp64,9 Triliun dan Beban Menurun

Hingga akhir Juni 2026, piutang pembiayaan yang dikelola Adira Finance meningkat 7% YoY menjadi Rp64,9 triliun. Pertumbuhan skala bisnis ini disokong oleh 844 jaringan usaha (kantor cabang dan satelit) yang melayani lebih dari 2,6 juta konsumen di seluruh Indonesia.

Dari sisi pembukuan, total pendapatan perseroan naik 9% YoY menjadi Rp6,5 triliun. Di saat yang sama, Adira Finance berhasil menekan beban pendanaan sebesar 6% YoY serta menurunkan beban penyisihan kerugian penurunan nilai sebesar 13% YoY menjadi Rp1,16 triliun.

Direktur Keuangan Adira Finance, Sylvanus Gani Mendrofa, menjelaskan bahwa efisiensi operasional dan efektivitas pengelolaan biaya menjadi kunci utama melonjaknya profitabilitas perusahaan.

“Pertumbuhan laba bersih didukung oleh kinerja bisnis yang solid serta pengelolaan biaya yang disiplin, sehingga kenaikan biaya tetap terjaga di bawah pertumbuhan pendapatan. Ke depan, kami akan mengoptimalkan komposisi sumber pendanaan di tengah tren kenaikan suku bunga dengan memperhatikan kecukupan likuiditas,” jelas Sylvanus.

Tantangan Ekonomi Global dan Respons BI-Rate

Capaian positif Adira Finance ini diraih di tengah tantangan perekonomian global yang masih dibayangi konflik geopolitik di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026. Gejolak tersebut sempat mengganggu pasokan energi global, memicu kenaikan biaya impor, serta menekan nilai tukar Rupiah.

Sebagai langkah antisipasi untuk menstabilkan inflasi dan pasar keuangan domestik, Bank Indonesia secara bertahap telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar total 100 bps hingga menyentuh level 5,75% pada Juni 2026. Meski berada dalam lingkungan suku bunga tinggi, efisiensi yang diterapkan Adira Finance terbukti mampu menjaga profitabilitas perusahaan tetap tumbuh tinggi. (*AMBS)

 

Exit mobile version