youngster.id - Di tengah isu ketahanan pangan global yang semakin kompleks, inovasi pangan berbasis potensi lokal mulai dilirik sebagai solusi masa depan. Indonesia dinilai memiliki peluang besar karena kaya akan sumber daya pangan lokal dan biodiversitas. Tantangannya, bagaimana potensi tersebut bisa dikembangkan menjadi inovasi yang relevan bagi masyarakat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Indofood Sukses Makmur Tbk secara konsisten menjalankan program Indofood Riset Nugraha (IRN) selama dua dekade terakhir.
Head of Corporate Communications Indofood, Stefanus Indrayana, mengatakan program IRN hadir untuk mendukung lahirnya peneliti muda yang tidak hanya kuat dalam riset, tetapi juga mampu menciptakan solusi nyata di bidang pangan bagi masyarakat.
“Kami berharap IRN dapat terus membangkitkan semangat peneliti muda Indonesia menjadi scientific-preneur yang inovatif dan siap berkontribusi dalam mengembangkan potensi pangan lokal menjadi solusi dan peluang usaha yang berdampak,” ujarnya dalam perayaan 20 tahun IRN di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Sejak diluncurkan pertama kali pada tahun 2006, hingga kini IRN telah menerima lebih dari 8.300 proposal penelitian dan mendanai lebih dari 1.100 riset mahasiswa S1. Program ini juga telah melibatkan lebih dari 200 perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.
Menurut Indrayana, IRN tidak hanya memberikan pendanaan, tetapi juga menghadirkan pendampingan dari para pakar teknologi pangan, gizi, pertanian, hingga praktisi industri. Peserta juga dibekali pelatihan soft skill untuk membangun pola pikir kritis dan inovatif.
“Kami memandang kolaborasi dengan dunia akademik sebagai elemen penting dalam membangun ekosistem riset yang kredibel dan berkelanjutan. Kami berharap, melalui IRN, Indofood dapat terus menjadi bagian dari perjalanan lahirnya para inovator dan change makers Indonesia, yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa,” ucapnya.
Sementara itu, Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc menilai, generasi muda memiliki peran penting dalam menciptakan solusi pangan masa depan.
“Tantangannya adalah bagaimana riset mampu mentransformasi potensi pangan lokal menjadi solusi yang berdampak bagi kesehatan masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi,” jelasnya.
Dampak program ini juga dirasakan langsung oleh para alumni. Salah satunya Prof. Dr. Fenny Martha Dwivany, alumni IRN 2004 yang kini menjadi Guru Besar ITB dan peneliti senior.
“Pengalaman saya dengan IRN ikut membekali saya untuk bertumbuh menjadi peneliti yang kritis, sistematis, dan selalu mengedepankan semangat kolaboratif untuk inovasi yang berdampak,” katanya.
Sementara itu, alumni IRN 2023, Ratu Salsabila Astrakusuma, yang kini menjadi scientific research enthusiast di Lille, Prancis, mengaku program tersebut membantunya lebih percaya diri membawa potensi pangan lokal ke level global.
“IRN memberikan saya fondasi keberanian untuk membawa pangan lokal berdaya saing global,” ujarnya.
Cerita serupa juga datang dari Mariska Priscilla, alumni IRN 2017 yang kini bergabung di tim Research & Development (R&D) Indofood.
“Bimbingan tim pakar membuat pola pikir kami lebih solutif dalam melihat riset sebagai jawaban atas kebutuhan industri,” ucapnya.
Melalui IRN, Indofood tidak hanya mendukung riset mahasiswa, tetapi juga mendorong lahirnya generasi inovator muda yang diharapkan mampu menghadirkan solusi pangan masa depan bagi Indonesia.
STEVY WIDIA
