youngster.id - Di tengah dinamika geopolitik global dan kembalinya konfigurasi dua kekuatan besar dunia (multipolar world), Bank DBS Indonesia menggelar DBS Insights Forum 2026 bertajuk “A New Lens on a Multipolar World”. Gelaran ini bertujuan memberikan panduan strategis bagi investor dan pelaku usaha dalam memetakan arah perubahan ekonomi serta peluang investasi jangka panjang.
Lanskap ekonomi global terkini diwarnai persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok yang meluas dari sektor militer ke ekonomi, teknologi, hingga diplomasi. Data Economic Surprise Index Bloomberg per pertengahan Juli 2026 mencatat indeks AS berada di level 55,0 (konsisten melebihi ekspektasi) dan Tiongkok di angka -20,8, sementara kawasan Asia Pasifik menunjukkan optimisme di level 51,5.
Di tengah fragmentasi ini, negara-negara middle powers—termasuk Indonesia—diperkirakan memegang peran vital dalam dua hingga tiga dekade mendatang berkat posisi strategis, ukuran ekonomi yang terus bertumbuh, serta stabilitas geopolitik yang relatif terjaga.
Tiga Kawasan Utama Strategi Investasi Global
Bank DBS Indonesia menilai perubahan lanskap global ini menghadirkan momentum bagi investor untuk mengevaluasi portofolio berdasarkan kekuatan fundamental kawasan, bukan sekadar sentimen jangka pendek.
Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, menyoroti tiga wilayah utama yang menarik untuk dicermati oleh para investor. Wilayah pertama adalah Amerika Serikat, yang hingga kini tetap memimpin inovasi teknologi global, khususnya pada pengembangan Artificial Intelligence (AI).
Selanjutnya, Tiongkok unggul dalam mengakselerasi pemanfaatan AI ke berbagai sektor industri guna meningkatkan produktivitas secara signifikan. Sementara itu, kawasan Asia dan Indonesia berpeluang besar mengambil manfaat dari pergeseran rantai pasok global serta didukung oleh kokohnya pertumbuhan ekonomi di tingkat regional.
“Di tengah perubahan lanskap global, investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan. Sebagai mitra tepercaya, Bank DBS Indonesia terus menghadirkan insights regional dan panduan investasi agar nasabah dapat mengambil keputusan secara lebih percaya diri,” jelas Djoko, dikutip Selasa (21/7/2026).
Indonesia Sebagai Penopang Rantai Pasok Industri Masa Depan
Selain menjadi pusat pertumbuhan, Asia memegang peran krusial dalam rantai pasok teknologi masa depan—mulai dari manufaktur semikonduktor di Taiwan dan Korea Selatan, hingga pasokan mineral kritis dari Indonesia seperti nikel, tembaga, dan bauksit.
Pesatnya investasi global di sektor AI diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap komoditas strategis nasional, menjadikannya katalis positif bagi pertumbuhan jangka menengah.
Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry, menegaskan bahwa fundamental ekonomi domestik Indonesia tetap berada dalam kondisi yang solid.
“Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan neraca perdagangan yang mencatatkan surplus. Indonesia memiliki keunggulan struktural penopang pertumbuhan, mulai dari sumber daya alam melimpah, konsumsi domestik yang kuat, bonus demografi, hingga program hilirisasi yang meningkatkan nilai tambah industri nasional,” ujar Boy.
Dengan konsumsi domestik yang kuat dan ketergantungan ekspor yang relatif lebih rendah dibanding sejumlah negara tetangga, Indonesia dinilai memiliki daya tahan (resilience) yang lebih baik terhadap gejolak eksternal. (*AMBS)
