Perkuat Ekonomi Restoratif Lewat Tenun dan Ketahanan Pangan

youngster.id - Di banyak keluarga Indonesia, perempuan bukan lagi sekadar pengelola rumah tangga. Mereka juga berperan sebagai pencari nafkah, penggerak usaha kecil, hingga penopang ekonomi keluarga. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), kontribusi perempuan terhadap pendapatan rumah tangga bahkan mencapai 42,4 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Potensi inilah yang kini semakin diperkuat melalui berbagai program pemberdayaan perempuan yang menghubungkan ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan ekonomi lokal.

Salah satu upaya yang mendorong penguatan peran perempuan tersebut hadir melalui pameran “Weaving Wonders: Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur” yang digelar di Tugu Kunstkring, Jakarta, pada 13-27 Juni 2026.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan mengatakan, berbagai persoalan sosial yang dihadapi NTT tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi masyarakat.

“Berbagai persoalan perempuan dan anak di NTT mulai dari kekerasan, pekerja anak, perkawinan anak, hingga stunting saling berkaitan dan berakar pada persoalan ekonomi. Masalah ini tidak bisa diselesaikan secara terpisah,” kata Veronica dalam jumpa pers, Sabtu (13/6/2026) di Jakarta.

Menurutnya, pemberdayaan perempuan menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan keluarga sekaligus mengurangi berbagai masalah sosial yang muncul di masyarakat.

Pernyataan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan yang masih dihadapi NTT. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat kemiskinan di provinsi tersebut masih berada di angka 17,5 persen pada Februari 2026. Sementara prevalensi stunting mencapai 31,4 persen, jauh di atas rata-rata nasional.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, perempuan justru menjadi salah satu penopang utama ekonomi keluarga. Berdasarkan Survei GoodStats 2024, kontribusi perempuan terhadap pendapatan rumah tangga di NTT mencapai 42,4%, melampaui rata-rata nasional yang berada di kisaran 36,1%.

Salah satu contoh nyata pemberdayaan perempuan di NTT hadir melalui program Kebun Pangan Perempuan (KPP) dan gerakan agroforestri bambu atau Mama Bambu. Veronica menjelaskan, kedua program tersebut mendorong perempuan untuk terlibat aktif dalam produksi pangan, pengelolaan sumber daya alam, sekaligus peningkatan kesejahteraan keluarga.

“Melalui Kebun Pangan Perempuan, para perempuan desa tidak hanya menghasilkan bahan pangan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memperoleh tambahan pendapatan dari hasil panen yang dijual. Program ini juga berkontribusi dalam upaya menekan angka stunting dan memperkuat ketahanan pangan di tingkat keluarga,” ujarnya.

Pameran Weaving Wonders sendiri tidak hanya menampilkan kekayaan budaya NTT melalui tenun, kuliner, dan rumah adat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perempuan menjadi aktor penting dalam pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Berbagai kegiatan seperti workshop, sesi berbagi pengalaman, hingga forum diskusi turut digelar untuk mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas, investor, dan organisasi masyarakat sipil.

Pendiri Yayasan Uma Nusantara sekaligus inisiator pameran, Yori Antar, mengatakan Weaving Wonders diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mampu mendorong lahirnya kebijakan dan kemitraan baru untuk memperkuat peran perempuan dalam pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Pameran ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, investor, maupun lembaga donor untuk mengeksplorasi kebijakan dan kemitraan yang mendorong peran perempuan dalam pembangunan ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui tenun, kebun pangan, hingga pengelolaan hutan, perempuan NTT menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Dari tingkat komunitas, mereka membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan dapat menjadi jalan untuk memperkuat ekonomi keluarga, menjaga lingkungan, sekaligus menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version