youngster.id - Perkembangan teknologi membuat akses terhadap informasi kesehatan menjadi semakin mudah. Google bahkan menyebut lebih dari satu miliar pertanyaan terkait kesehatan diajukan melalui Google Search setiap hari. Di saat yang sama, semakin banyak pengguna yang memanfaatkan Gemini untuk mengajukan pertanyaan seputar kesehatan maupun mendukung kebutuhan wellness mereka.
Kemudahan tersebut turut mendorong kebiasaan self-care, terutama ketika masyarakat menghadapi keluhan ringan seperti batuk dan pilek. Namun, banyaknya informasi yang tersedia juga membuat kemampuan memahami gejala dan memilih sumber informasi yang tepat menjadi semakin penting.
Di tengah kebiasaan masyarakat mencari informasi secara mandiri, tantangannya bukan lagi sekadar menemukan informasi, tetapi memastikan informasi tersebut dipahami dan digunakan dengan tepat. Hal ini menjadi penting ketika informasi yang ditemukan digunakan sebagai dasar untuk melakukan swamedikasi.
Karena itu, Actifed di bawah Haleon Indonesia bersama Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) meluncurkan modul edukasi baru berjudul “Batuk dan Pilek dari Perspektif Pasien: Menjawab Keluhan Pasien dengan Edukasi dan Konseling Berbasis Self-Care”.
“Di Haleon, tujuan kami untuk menghadirkan solusi kesehatan sehari-hari yang lebih baik dengan kemanusiaan, melampaui sekadar menyediakan produk-produk terpercaya. Komitmen ini juga mencakup upaya dalam membantu masyarakat dalam memberikan pengetahuan dan membangun kepercayaan diri yang mereka butuhkan dalam mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan mereka,” kata Dhanica MaeDumo-Tiu, General Manager Haleon Indonesia, dalam acara edukasi yang melibatkan 100 apoteker dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan para ahli kesehatan, Kamis (1/10/2026) di Jakarta.
Modul tersebut dirancang untuk membekali apoteker dengan panduan praktis ketika memberikan konsultasi kepada masyarakat. Materinya mencakup pemahaman terhadap keluhan pasien, penggunaan obat secara bertanggung jawab, sekaligus membantu mengidentifikasi kondisi yang membutuhkan saran medis lebih lanjut.
“Apoteker memiliki posisi penting dalam ekosistem self-care karena menjadi salah satu tenaga kesehatan yang relatif mudah dijangkau masyarakat. Ketika seseorang masih ragu dengan gejala yang dialami atau obat yang akan digunakan, konsultasi dengan apoteker dapat menjadi langkah untuk memperoleh informasi yang lebih sesuai dengan kondisi yang dihadapi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Lucy Novianti sekaligus penulis modul itu mengungkapkan, masyarakat masih kerap menentukan obat berdasarkan pengalaman sebelumnya atau rekomendasi orang lain.
“Kami sering menjumpai orang yang telah menentukan sendiri obat atau penanganan medis berdasarkan kebiasaan pribadi sebelumnya atau rekomendasi orang lain saat mengalami gangguan kesehatan umum, khususnya flu, batuk, pilek, atau masalah pernapasan ringan lainnya. Padahal, kondisi dan gejala yang dialami bisa berbeda antara satu individu dengan individu lainnya, begitu pula dengan tingkat keparahan gejalanya,” katanya.
Menurut Lucy, modul edukasi yang dikembangkan bersama Actifed dan IAI dapat menjadi sarana tambahan bagi apoteker dalam memberikan konseling kepada konsumen. Edukasi tersebut juga diharapkan membantu masyarakat memahami kapan swamedikasi dapat dilakukan dan kapan membutuhkan saran medis lebih lanjut.
Di sisi lain, Dokter Umum dr. Ikhsanuddin Qoth’i menjelaskan bahwa gejala batuk dan pilek dapat muncul dengan karakteristik, intensitas, serta durasi yang berbeda pada setiap orang.
“Gejala yang menetap, bertambah parah, atau disertai tanda-tanda peringatan tertentu mungkin memerlukan perhatian lebih lanjut, karena bisa jadi berkaitan dengan masalah kesehatan pernapasan lainnya, seperti ISPA atau influenza,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan perkembangan gejala dari waktu ke waktu. Kebiasaan mencari informasi secara mandiri dapat menjadi bagian dari upaya mengenali kondisi tubuh, tetapi keputusan mengenai penanganan tetap perlu mempertimbangkan tingkat keparahan gejala dan saran tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, kemudahan teknologi dalam mencari informasi kesehatan membuat self-care semakin mudah dilakukan. Namun, akses informasi juga perlu diikuti kemampuan untuk memilah sumber, memahami kondisi, dan mengetahui kapan harus mencari bantuan profesional.
Di sinilah peran tenaga kesehatan, termasuk apoteker, tetap penting. Ketika masyarakat semakin mandiri dalam mencari informasi kesehatan, edukasi yang tepat dapat membantu memastikan kebiasaan self-care tidak berhenti pada pencarian informasi, tetapi juga dilakukan secara bertanggung jawab.
STEVY WIDIA
