youngster.id - Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia memicu urgensi peningkatan sistem keselamatan transportasi darat yang lebih proaktif dan berbasis teknologi. Merespons tantangan ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Angkutan Darat (DPP Organda) menggelar Sosialisasi Penguatan Sistem Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan di LePolonia Hotel & Convention, Medan.
Dalam forum kolaboratif yang mempertemukan regulator, pelaku usaha, industri asuransi, dan penyedia teknologi tersebut, TransTRACK menegaskan pentingnya pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), telematika, dan analitik data. Teknologi ini dihadirkan untuk mendukung implementasi Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU).
Penguatan sistem keselamatan transportasi darat saat ini menjadi prioritas mutlak mengingat data fatalitas di jalan raya yang masih sangat tinggi.
Berdasarkan data Kepolisian Republik Indonesia sepanjang tahun 2025, tercatat: 156.253 total kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia, 235.789 total korban luka-luka, dan 21.717 korban meninggal dunia (rata-rata hampir 60 orang kehilangan nyawa setiap hari).
Sementara itu, Jasa Marga mencatat 1.119 kecelakaan terjadi di jalan tol mereka sepanjang 2025. Mayoritas insiden melibatkan mobil (44,5%) dan truk (42,18%), dengan 86,8% atau 971 kejadian disebabkan oleh faktor kelalaian pengemudi.
Menjawab tingginya kecelakaan akibat faktor manusia, TransTRACK memperkenalkan solusi Safety Intelligence yang mengintegrasikan Driver Monitoring System (DMS) dan Advanced Driver Assistance System (ADAS) berbasis AI.
Ledi Hari Setiawan, Chief Operating Officer (COO) TransTRACK, menyatakan bahwa pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk mengatasi risiko keselamatan transportasi saat ini. Teknologi harus mampu mendeteksi bahaya sebelum kecelakaan terjadi.
“Penerapan SMK PAU tidak hanya butuh regulasi, tetapi juga dukungan teknologi yang memberikan visibilitas terhadap risiko di lapangan secara real-time. Teknologi DMS mampu mendeteksi kelelahan pengemudi, distraksi, hingga penggunaan ponsel saat berkendara. Sementara fitur ADAS memberikan peringatan dini terhadap potensi tabrakan atau perpindahan jalur yang tidak aman,” jelas Ledi.
Ledi menambahkan bahwa keselamatan transportasi tidak boleh hanya diukur dari jumlah kecelakaan yang ditangani, melainkan dari seberapa banyak potensi kecelakaan yang berhasil dicegah secara proaktif melalui data.
Langkah proaktif ini diharapkan dapat memperkuat implementasi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 85 Tahun 2018 tentang SMK PAU. Melalui forum ini, adopsi teknologi keselamatan berbasis data diharapkan makin meluas demi menciptakan ekosistem jalan raya yang aman bagi masyarakat.
Sebagai perusahaan teknologi transportasi berbasis IoT, AI, dan Big Data, solusi TransTRACK kini telah diimplementasikan pada lebih dari 200.000 unit kendaraan. Penggunanya mencakup berbagai sektor strategis seperti logistik, pertambangan, dan manufaktur, serta telah merambah pasar internasional mulai dari Malaysia, Singapura, Australia, hingga Arab Saudi dan Qatar.
STEVY WIDIA



















Discussion about this post