youngster.id - Produk minyak atsiri lokal asal Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, sukses menembus pasar internasional hingga ke Amerika Serikat, Malaysia, dan Nepal. Mengusung jenama Lana Tumbavani, usaha yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pulu ini berhasil mengubah komoditas pemulih lahan pascabanjir menjadi produk perawatan tubuh bernilai ekspor tinggi.
Lana Tumbavani—yang dalam bahasa Kaili berarti minyak sereh—lahir dari inisiatif restorasi lingkungan pascabanjir bandang berulang pada 2020-2021 yang merusak lahan pertanian warga. Tanaman sereh wangi awalnya ditanam bukan untuk komoditas bisnis, melainkan sebagai tanaman pemulih erosi bantaran sungai dan memperbaiki tanah rusak yang tertutup pasir.
Direktur BUMDes Pulu sekaligus pemilik Lana Tumbavani, Dilah Sahim, mengungkapkan bahwa fokus awal pergerakan ini murni untuk menyelamatkan ruang hidup masyarakat setempat.
“Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak, soal ekonomi itu datang belakangan. Kalau lingkungannya tidak pulih, tidak akan ada produk dan pendapatan,” ujar Dilah, Senin (13/7/2026).
Kualitas Premium Minyak Murni Pikat Pasar Global
Nilai ekonomi mulai tercipta ketika daun sereh wangi dari lahan restorasi tersebut disuling menjadi minyak esensial murni murni tanpa campuran aroma sintetis. Proses produksinya tergolong ketat dan terbatas; dari sekitar 200 kilogram daun sereh wangi segar, BUMDes Pulu hanya menghasilkan kurang lebih 200 mililiter minyak murni.
Karakteristik produk yang alami dan berkualitas tinggi inilah yang berhasil memikat para pembeli mancanegara, termasuk dari Amerika Serikat. Selain minyak murni, Lana Tumbavani kini telah memperluas lini produk turunannya ke bentuk minyak pijat (massage oil), sabun herbal daun kelor, lilin lebah (beeswax candle), hingga parfum padat yang mulai banyak digunakan sebagai fasilitas (amenities) pariwisata.
Meskipun sukses menembus pasar global, tantangan volume dan efisiensi energi dalam siklus produksi tahunan masih membayangi. Guna mengatasi tantangan tersebut, BUMDes Pulu mendapatkan pendampingan intensif dari Gampiri Interaksi melalui program inkubasi GIAT 2.0 untuk memperkuat manajemen harga dan kesiapan pasar tanpa mengorbankan prinsip dasarnya.
Model Ekonomi Restoratif Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL)
Praktik yang diterapkan di Desa Pulu menjadi percontohan nyata dari model ekonomi restoratif. Alih-alih mengeksploitasi alam, ekonomi warga justru tumbuh seiring dengan pulihnya stabilitas ekosistem lingkungan. Sejauh ini, penanaman sereh wangi telah berhasil memulihkan lahan kritis seluas hampir satu hektar dan menekan risiko banjir di wilayah sekitar berdasarkan pengamatan masyarakat.
Pendekatan ini mendapat dukungan penuh dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) yang terus mendorong kemandirian daerah berbasis pelestarian alam melalui ruang promosi seperti Sustainable District Outlook.
Perwakilan Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning, menyatakan bahwa kekuatan utama dari produk desa ini terletak pada konsistensi narasinya yang menjaga keaslian asal-usul produk.
“Biasanya alam diperas dulu, baru ekonomi dibagi. Di sini justru alam dipulihkan dulu, baru ekonomi tumbuh. Kita melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas,” kata Nedya.
HENNI S.
