Tren Perawatan Kulit 2026: Pekerja Urban Mulai Alihkan Fokus ke ‘Body Care’

(ki-ka) Pesohor Nikita Willy dan Senior Brand Manager Vaseline Melisa Caroline pada peluncuran Vaseline Pro Derma di Jakarta. (Foto: stevywidia/youngster.id)

youngster.id - Lanskap industri perawatan kulit (skincare) di Indonesia kini telah memasuki babak baru yang kian kompetitif. Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan sektor kosmetik nasional terus mencatatkan pertumbuhan positif hingga kisaran 9%. Sementara itu, riset pasar global mengestimasikan total pendapatan pasar kecantikan dan perawatan tubuh di Indonesia telah menembus angka US$ 8miliar hingga U$9 milar, dengan kategori skincare sebagai penggerak utama.

Di tengah pertumbuhan tersebut, dinamika konsumen urban juga ikut berubah. Konsumen saat ini mulai memperhatikan anatomi kulit secara lebih spesifik, seperti pentingnya menjaga skin barrier (lapisan pelindung kulit), kestabilan bahan aktif, hingga aspek sertifikasi klinis. Fenomena ini mendorong produk-produk berbasis pembuktian ilmiah (sains-sentris) lebih diminati di pasar saat ini.

Tren juga berubah. Jika selama ini, edukasi dan inovasi mengenai pelindung kulit lebih banyak berpusat pada perawatan wajah (face care). Namun pada tahun 2026, kesadaran para perempuan profesional di Indonesia mulai beralih ke perawatan tubuh menyeluruh (body care).

Senior Brand Manager Vaseline, Melisa Caroline mengatakan, merespons potensi pasar dan kebutuhan tersebut, industri kosmetik mulai meluncurkan rangkaian perawatan tubuh berbasis klinis. Salah satunya adalah rangkaian Vaseline Pro Derma yang memanfaatkan kompleks pro-ceramide untuk membantu memperbaiki fungsi pelindung kulit dari dalam

“Kelompok pekerja urban ini mulai menyadari bahwa kulit tubuh mencakup 90% dari total permukaan kulit manusia yang justru paling sering diabaikan. Padahal, setiap harinya kulit tubuh harus bekerja ekstra keras menghadapi paparan polusi udara, intensitas sinar UV, hingga suhu ekstrem dari ruangan ber-AC di area perkantoran,” ungkapnya.

Melalui terobosan teknologi bernama Pro-Ceramide Complex, inovasi berbasis klinis ini dirancang khusus untuk mengembalikan serta meningkatkan fungsi skin barrier (benteng pertahanan lapisan terluar kulit) langsung dari dalam (self-renewal).

Urgensi mengenai pergeseran fokus ke body care ini diamini oleh pakar dermatologi Windy Keumala Budianti Kepala Departemen Dermatologi & Venereologi FKUI-RSCM sekaligus Founder Immuno Derma Clinic. Dia menjelaskan bahwa indikasi awal kerusakan skin barrier pada tubuh sering kali dilewatkan oleh para pekerja yang sibuk.

“Karena indikasi awal kerusakan skin barrier pada kulit tubuh masih sering diabaikan, hal ini kemudian bermanifestasi menjadi berbagai masalah yang berbeda pada setiap perempuan profesional, seperti kulit kering kemerahan, kulit kusam, hingga tekstur kulit yang kasar seperti berjerawat. Tanpa penanganan yang tepat, masalah ini bisa menjadi siklus yang terus berulang,” paparnya.

Tantangan menjaga kesehatan kulit tubuh ini dirasakan langsung oleh figur publik sekaligus perempuan profesional, Nikita Willy. Sebagai perempuan aktif, ia dituntut untuk bisa menyeimbangkan banyak peran (juggling) sekaligus mengambil kendali penuh atas kesehatan dirinya.

“Dulu aku sangat fokus untuk merawat skin barrier kulit wajahku, tapi lama-kelamaan aku jadi sadar kalau skin barrier kulit tubuhku juga butuh perhatian yang sama,” ungkap Nikita

Menurutnya, pengaruh tersebut sangat terasa saat melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga, di mana kelembapan yang berlebih di balik pakaian berpotensi membuat lapisan pelindung kulit menjadi lebih rentan terganggu.

Fenomena ini mempertegas bahwa di tengah padatnya rutinitas, manajemen perawatan tubuh kini mulai dipandang sebagai bagian dari proteksi diri yang mendasar bagi masyarakat urban.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version