IPB dan UTU Kembangkan Rumpon Biodegradable Untuk Nelayan Aceh

IPB dan UTU Kembangkan Rumpon Biodegradable Untuk Nelayan Aceh 1

IPB dan Universitas Teuku Umar meletakkan rumpun ijuk biodegradable di perairan Aceh Jaya. (Foto: istimewa)

youngster.id - Penggunaan teknologi rumpon dipercaya mampu memberikan dampak positif bagi nelayan terutama rumpon dengan daya tarik dan daya tahan yang baik di laut. Tujuannya agar biaya perawatan rumpon dapat diminimalkan. Selain itu, daya tahan rumpon akan berpengaruh terhadap sekumpulan (schooling) ikan di sekitar rumpon.

Menindaklanjuti hal itu, Dr Roza Yusfiandayani dan Prof Dr Mulyono S Baskoro dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (Dept PSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Hafinuddin dan Muhammad Agam Thahir dari Program Studi Perikanan, FPIK, Universitas Teuku Umar mengembangkan Rumpon Ijuk yang ramah lingkungan.

Menurut Roza, teknologi rumpon ijuk mulai dikembangkan tahun 2016. Berdasarkan beberapa hasil penelitian di Samudera Hindia, rumpon ijuk telah memberi dampak yang baik dalam segi daya tahan (durability) dan kelimpahan ikannya lebih baik dibandingkan dengan rumpon daun kelapa.

“Hanya saja masih perlu dikembangkan bahan pembentuk atraktor, ketersediaan sumberdaya atraktor, bentuk atraktor dan ukuran atraktor pada rumpon. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai pengembangan rumpon ijuk sebagai alat bantu penangkapan ikan ramah lingkungan bagi nelayan laut dangkal di perairan Aceh Jaya,” ujar Roza melalui keterangan pers nya Senin (27/1/2020).

Pengembangan rumpon ijuk sebagai rumpon biodegradable untuk nelayan laut dangkal sangat diperlukan. Oleh karena itu, Dr Roza dan tim melakukan peletakan rumpon ijuk sebanyak tiga unit di perairan Samudera Hindia atau 7 mil dari Kabupaten Aceh Jaya. Rumpon ijuk ini merupakan inovasi yang akan dikembangkan untuk nelayan di Indonesia.

Rumpon sendiri menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan, Nomor PER 02/MEN/2011 merupakan alat bantu untuk mengumpulkan ikan dengan menggunakan berbagai jenis atraktor dari benda padat yang berfungsi untuk memikat ikan agar berkumpul.

Dr Roza mengungkapkan bahwa ikan pelagis berkumpul di rumpon yang menggunakan atraktor daun kelapa, daun nipah dan daun pinang sejak hari pertama rumpon terpasang di perairan.

“Penerapan teknologi rumpon sebagai alat bantu penangkapan ikan akan memberikan keuntungan meningkatkan pendapatan nelayan, hasil tangkapan segar, menghemat bahan bakar minyak dalam penangkapan ikan. Rumpon yang pengelolaannya diatur waktu penangkapan, musim penangkapan, alat tangkap yang beroperasi dan jumlah rumpon akan menjaga kelestarian sumberdaya stok ikan di perairan,” pungkasnya.

FAHRUL ANWAR

Exit mobile version