Kebocoran Data Di Cloud Halangi Laju Transformasi Digital

Konsep cloud computing. (Foto: Ilustrasi/Youngsters.id)

youngster.id - Keberhasilan proyek transformasi digital dapat terhambat karena kekhawatiran akan dampak dan meningkatnya biaya yang terjadi akibat kebocoran terkait “data on the go”. Menurut penelitian terbaru dari Kaspersky Lab, menunjukkan kebocoran data merugikan perusahaan lebih dari US$ 1,2 Juta.

Keadaan ekonomi keamanan TI perusahaan di tahun 2018 mencerminkan dampak pergeseran keamanan siber di dunia bisnis. Dalam 12 bulan terakhir, konsekuensi kebocoran data mengakibatkan kerugian lebih besar dan semakin merusak. Bisnis menghadapi realitas yang mengganggu: untuk UKM, kerugian akibat kebocoran data mencapai US$ 120.000 pada tahun 2018, 37% lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 (US$ 88.000). Untuk perusahaan berkelas enterprise, meningkat 24% dengan dampak kerugian dari kebocoran data mencapai hingga US$ 1,23 juta.

Peningkatan kerugian ini kini menjadi perhatian bagi perusahaan di tengah-tengah gelombang transformasi digital yang sedang berlangsung, di mana infrastruktur cloud terus berkembang dengan 45% perusahaan kelas enterprise dan 33% UKM yang telah dan berencana untuk mengembangkan penggunaan hybrid cloud dalam 12 bulan ke depan.

Baca juga :   VMWare Tawarkan Solusi Baru Bagi Bisnis Transformasi Data

“Untuk mendukung perubahan bisnis yang kian dinamis dan meningkatkan efisiensi, maka perusahaan menggunakan cloud dan mobilitas bisnis. Keamanan siber bukan lagi hanya sekedar salah satu poin di infrastruktur TI, namun telah menjadi prioritas utama dalam bisnis untuk perusahan dari berbagai skala. Sebagaimana telah dibuktikan dengan adanya penambahan anggaran pada keamanan TI. Perusahaan berharap hasil yang sepadan dari investasi keamanan TI, karena taruhannya kini semakin tinggi. Sebagai contoh selain risiko keamanan siber, banyak perusahaan kini harus berhadapan dengan tekanan regulasi,” kata Maxim Frolov, Wakil Presiden Global Sales di Kaspersky Lab dalam keterangannya belum lama ini.

Namun menurut Maxim, peningkatan pemakaian ‘data on the go” ini menghadirkan masalah keamanan baru. Dua dari tiga insiden keamanan dunia maya yang paling merugikan bagi UKM terbukti memiliki keterkaitan dengan cloud, di mana hosting infrastuktur TI pihak ketiga mengalami kegagalan sehingga menimbulkan kerugian dengan rata-ata US$ 179.000. Untuk perusahaan kelas enterprise, perlindungan data tetap menjadi prioritas utama, sementara kebocoran data akibat serangan tertartget mengakibatkan kerugian hingga US$ 1,64 juta. Sedangkan insiden yang melibatkan infrastruktur TI dari pihak ketiga menimbulkan kerugian rata-rata sebesar US$ 1,47 juta.

Baca juga :   Serangan Mobile Ransomware Incar Negara Berkembang

Dengan meningkatnya kerugian dari insiden terkait keamanan TI, maka perusahaan kini semakin menyadari pentingnya untuk memprioritaskan anggaran keamanan siber jika ingin transformasi digital berjalan lancar dan aman. Hal ini diperlihatkan dengan meningkatnya anggaran keamanan TI di tahun 2018, di mana perusahaan kelas enterprise mengalokasikan sepertiga dari anggaran TI (US$ 8.9 juta) untuk keamanan siber. Menariknya lagi, meskipun seringkali dikenal sebagai pembelanja terendah pada keamanan TI, perusahaan sangat kecil menambahkan anggarannya dari US$ 2,400 menjadi US$ 3,900 selama 12 bulan terakhir.

Salah satu alasan utama dibalik penambahan anggaran untuk keamanan TI adalah semakin kompleksnya infrastruktur TI seiring perusahaan semakin banyak mengadopsi platform cloud. Selain itu juga untuk mendorong peningkatan kemampuan para spesialis keamanan.

Menurut dia menjaga data di cloud terus menimbulkan tantangan baru untuk perusahaan, melihat dari kerugian terbesar terkait keamanan selama 12 bulan terakhir terjadi di lingkungan cloud dan proteksi data. “Dalam upaya untuk mengembangkan transformasi digital dengan keamanan yang baik, kini perusahaan memprioritaskan anggaran pada keamanan TI. Pada tahun 2018, perusahaan berskala enterprise mengalokasikan hingga 26% dari anggaran TI mereka untuk keamanan siber, sehingga mendefinisikan ulang peran strategis perlindungan data perusahaan,” jelas Maxim lagi.

Baca juga :   Era Digital Peluang Bagi Industri Kreatif

 

STEVY WIDIA