youngster.id - Memasuki usia satu dekade perjalanannya, Privy (PT Privy Identitas Digital), Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) berinduk Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem kepercayaan digital (digital trust) nasional. Langkah ini diambil di tengah maraknya ancaman kejahatan siber yang dihadapi masyarakat Indonesia.
Berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tercatat sebanyak 702.342 laporan penipuan masuk dari masyarakat sejak 22 November 2024 hingga 30 September 2026. Modus yang marak terjadi mencakup penyalahgunaan KTP untuk pinjaman ilegal, pemalsuan tanda tangan, hingga manipulasi isi dokumen kontrak digital.
Dalam sepuluh tahun perjalanannya, Privy tercatat telah memverifikasi 72 juta identitas, digunakan oleh lebih dari 300 ribu bisnis dan perusahaan, serta memproses lebih dari 160 juta dokumen digital.
CEO dan Founder Privy, Marshall Pribadi, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan komitmen jangka panjang perusahaan untuk menghapus risiko penipuan di ruang siber Indonesia.
“Sepuluh tahun ini baru awal, perjalanan kami masih panjang. Penipuan digital masih terus terjadi dan modusnya terus berkembang. Cita-cita Privy adalah tidak ada lagi warga negara Indonesia yang menjadi korban penipuan di ruang digital. Karena itu, Privy akan terus berinovasi agar kepercayaan digital dapat dibuktikan (proven trust), sehingga masyarakat dapat bertransaksi dengan tenang,” ujar Marshall, Rabu (21/10.2026).
Perlindungan Finansial Rp3 Miliar dan Inovasi Berbasis AI
Sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pada tahun ke-10, Privy menaikkan nilai garansi sertifikat elektronik (Certificate Warranty) dari sebelumnya Rp1 miliar menjadi Rp3 miliar. Perlindungan finansial ini diberikan sesuai ketentuan berlaku apabila sertifikat elektronik atau identitas terbitan Privy terbukti tidak valid.
Dari sisi pengembangan teknologi, Privy turut memperkenalkan fitur Privy Pal berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu pengguna merangkum, membandingkan, serta menjawab pertanyaan terkait isi dokumen digital. Selain itu, hadir pula fitur verifikasi keaslian tanda tangan elektronik dan fitur Chat untuk komunikasi antar-pengguna terverifikasi.
Ekosistem identitas digital melalui Login with PrivyID dan PrivyHub kini juga telah terintegrasi di berbagai platform mitra, mulai dari media massa (Bisnis Indonesia, Tempo, Kompas), investasi digital (Treasury), pembuatan visa digital (SPUN), hingga edu-tech (BelajarLagi).
Ekspansi Global dan Dampak Keberlanjutan Lingkungan
Sejak memulai ekspansi ke Australia pada 2023, layanan Privy kini telah menjangkau pengguna personal maupun bisnis di berbagai negara, termasuk India, Malaysia, Amerika Serikat, China, dan Singapura.
“Ekspansi internasional bukan sekadar membawa produk Indonesia ke luar negeri, melainkan memperluas pemanfaatan identitas terverifikasi dalam aktivitas digital lintas negara,” tegas Marshall.
Di samping penguatan aspek keamanan digital, operational tanpa kertas (paperless) Privy diperkirakan telah berkontribusi menghemat sekitar 2 juta lembar kertas, 767,2 juta liter air, mengurangi 5 ribu ton limbah, serta menyelamatkan ekuivalensi 227 ribu pohon. Memasuki dekade kedua, Privy memfokuskan pilar bisnisnya pada perluasan pasar global dan integrasi keamanan identitas secara berkelanjutan.
STEVY WIDIA
