Promosi Perkembangan TIK Indonesia Masih Kurang

Menkominfo Rudiantara memberi keterangan pers mengenai serangan siber di Indonesia. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Peringkat Indonesia dalam Global Competitiveness Index 2016-2017 oleh World Economic Forum, dari peringkat 37 menjadi 41. Ini diduga disebabkan kurangnya promosi teknologi informasi dan komunikasi Indonesia ke luar negeri.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, data-data terkait perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia kurang dipromosikan lebih luas hingga ke luar negeri., Sehingga seringkali tidak dapat menjadi referensi di kalangan internasional.

“Penurunan tersebut salah satunya terkait dengan kesiapan teknologi di antaranya karena penetrasi teknologi informasi dan komunikasi dinilai rendah di mana hanya 20 % dari populasi Indonesia yang menggunakan internet,” ucap Menkominfo itu dalam peluncuran survei digital inclusion baru-baru ini di Jakarta.

Padahal berdasarkan survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII), pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang atau sekitar 50 %.

Selain itu, menurut Menteri banyak pihak yang membandingkan Indonesia dengan negara-negara daratan yang memiliki penetrasi “fixed broadband” lebih besar sehingga Indonesia kalah dengan sejumlah negara tetangga.

Padahal, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 17 ribu pulau lebih. Untuk itu, Indonesia lebih memilih langsung mengembangkan “mobile broadband” karena dinilai lebih cepat dalam melakukan penetrasi ke berbagai daerah-daerah terpencil dan kepulauan.

Untuk itulah, menurut Menkominfo, perlunya promosi data yang dimiliki Indonesia hingga ke luar negeri, sehingga dapat dipahami dan digunakan sebagai referensi.”Akibat kurang terkomunikasikannya data-data TIK Indonesia seringkali membuat pemahaman yang kurang menguntungkan,” ucap Rudiantara.

Menkominfo dalam kesempatan itu menyambut baik upaya Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) bekerja sama dengan APJII dan Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menggelar survei “digital inclusion”.

Ia berharap survei yang dilakukan tersebut dapat disebarkan ke dunia internasional sehingga dapat menjadi peta yang lebih tepat mengenai Indonesia.

“Saya menyambut baik apa yang dilakukan Mastel, sehingga punya angka statistik lebih faktual dan harus kita kemas kita sampaikan ke luar,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Umum Mastel Kristiono mengatakan survei tersebut untuk mengetahui peta masyarakat di era digital saat ini. Diharapkan nantinya dapat digunakan sebagai referensi untuk membuat program-program kebijakan.

Survei tersebut meliputi aspek konektivitas, keterjangkauan, keahlian dan kewaspadaan, konten lokal, keamanan dan kedaulatan.

Tujuan dari penyelenggaraan survei tersebut untuk mengetahui level inklusi digital Indonesia dan setiap aspeknya, membandingkan kondisi inklusi digital setiap kelompok wilayah di Indonesia, memberikan referensi program yang perlu diberikan kepada masyarakat, khususnya bidang TIK dan memberikan rekomendasi yang tepat untuk meningkatkan pemanfaatan TIK.

STEVY WIDIA