Quipper-Bahaso Gelar Pertemuan Influencer Muda

Tim Quipper Indonesia. (Foto: istimewa/youngster.id)

youngster.id - Influencers saat ini dapat dikatakan sebagai evolusi dari word of mouth yang mampu mengajak para pengikutnya secara lebih persuasif. Hal tersebutlah yang mendorong Quipper dan Bahaso sebagai penyedia layanan pendidikan berbasis teknologi menyelenggarakan acara pertemuan influencers muda yang bertajuk “From Millenials, For Education”.

“Semoga dengan adanya pertemuan ini kita bisa bertukar pikiran satu sama lain dan menyebarkan pesan-pesan positif ke media sosial nantinya. Enggak menutup kemungkinan, semoga kita bersama bisa berkolaborasi untuk ikut memajukan pendidikan Indonesia di ke depannya,” kata Tyovan Ari, Founder dan CEO Bahaso, dalam keterangannya Kamis (12/4/2018) di Jakarta.

Berdasarkan hasil penelitian dari GetCRAFT, firma pemasaran berbasis di Asia Tenggara, kehadiran influencers dapat menjadi pihak yang memiliki pengaruh kuat di linimasa media sosial, baik itu pengaruh yang positif maupun negatif.

Founding Member dan Country Manager Quipper Indonesia Takuya Homma juga sependapat dengan Tyovan. “Kita harus mengembangkan ekosistem pendidikan di Indonesia, dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk di antaranya influencer, adalah sangat penting. Pendidikan adalah untuk semua dan kami berharap semua orang dapat menjadi bagian dari gerakan ini,” terangnya.

Baca juga :   Ada Anak Muda Indonesia Di Daftar 30 Under 30 Asia Forbes 2018

Melalui acara ini, diharapkan semakin banyak influencers yang menaruh perhatian lebih perihal isu pendidikan. Beberapa nama influencers muda yang datang antara lain Dena Rachman, Gloria Natapradja Hamel, Syakir Daulay, Diniyah Nurmala, Fitri MS Panggarbessy, Caesar PJ, Dipo Aj, dan Kirana Ariesta Darmawan.

Menurut Dena Rachman, sistem pendidikan di Indonesia akan menjadi lebih ideal jika perkembangan karakter siswanya lebih diperhatikan, di samping hanya berfokus pada nilai akademis dan angka.

Sementara itu, Gloria Natapradja Hamel berpendapat bahwa pendidikan seharusnya membuat murid bersemangat untuk terus belajar, bukan malah menjadi tempat yang tujuan akhirnya hanya untuk mendapatkan kehidupan yang ideal secara materi.



FAHRUL ANWAR