Sasar Millenial, Columbia Luncurkan Layanan Digital

Columbia bekerjasama dengan Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) untuk aplikasi MyColumbia. (Foto: tribunne/Youngster.id)

YOUNGSTER.id - Era teknologi sekarang ini membuat sejumlah ritel melakukan transformasi. Sasarannya adalah kaum milenial yang melek teknologi dan menginginkan layanan digital. Seperti yang dilakukan Columbia dengan meluncurkan aplikasi MyColumbia.

“Kami melihat adanya potensi pasar yang menarik untuk dikembangkan. Kemajuan teknologi memberikan kemudahan dalam berbelanja, utamanya untuk kalangan milenial,” kata Vice President Columbia, Darwin Leo, Senin (13/11/2017) di Jakarta.

My Columbia adalah aplikasi jual beli online milik perusahaan ritel yang telah berusia 35 tahun ini untuk menjual produk-produknya secara online. Namun berbeda dengan aplikasi jual beli online lainnya, My Columbia memiliki berbagai keunggulan seperti dapat mengajukan cicilan tanpa kartu kredit, dapat melihat atau memantau tagihan kredit, melihat lokasi showroom Columbia terdekat, dan menukarkan point reward, serta melihat komisi dari penjualan toko online melalui mide.id.

Darwin mengatakan, tujuan utama dari dibuatnya aplikasi My Columbia adalah untuk mempermudah masyarakat. Konsep toko online adalah tidak ada jam buka dan jam tutup, sehingga masyarakat dapat berbelanja kapanpun dan dimanapun. Sehingga dengan aplikasi tersebut customer Columbia tetap dapat melakukan aktivitas belanja maupun memantau kredit yang diajukan.

Satu lagi keunggulan My Columbia yang sangat unik menurut Darwin, ketika customer tidak menemukan barang di website atau aplikasi, pembeli tetap bisa mendapatkan barang yang diinginkan dengan cara memotret produk kemudian mengirimkan melalui aplikasi tersebut. Dengan cara seperti itu Columbia mencarikan barang yang dimaksud dan mengirimkannya kepada pembeli.

Darwin mengakui kebiasaan masyarakat dalam berbelanja online itu mempengaruhi penjualan ritel. Namun bagi Columbia itu tidak begitu berimbas banyak, sebab masih banyak produk yang dijual oleh Columbia yang dimana masyarakat masih suka membeli secara offline seperti furniture. Yang paling banyak terpengaruh dengan penjualan online adalah barang-barang gadget, seperti handphone dan laptop. Namun ada juga beberapa barang yang masih dibeli secara offline tapi juga sudah merambah ke online seperti televisi dan elektronik.

Melalui My Columbia, Darwin mengharapkan dapat meningkatkan penjualan Columbia. Hingga 3-6 bulan ke depan penjualan online ditargetkan berkontribusi 10% dari total penjualan. Selanjutnya dalam beberapa tahun ke depan diharapkan akan tumbun menjadi 50:50 antara penjualan online dan offline.

Dalam meluncurkan aplikasi tersebut, lanjut Darwin, Columbia bekerjasama dengan Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance). Dengan kerjasama tersebut, Columbia juga berinovasi dalam pengajuan kredit, dimana customer dapat mengajukan kredit melalui aplikasi tersebut dan dapat diproses hanya dalam hitungan menit.

“Kami menggunakan teknologi scoring, dengan demikian kami hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk mengetahui apakah pengajuan kreditnya diterima apa tidak,” ucap Darwin.

Columbia sudah memiliki perjalanan panjang sebagai peritel dengan mayoritas penjualannya dilakukan secara kredit. Karena itu, perusahaan bukan hanya mendorong penjualan, tapi juga bagaimana berimprovisasi bagaimana menciptakan ekosistem yang baik before maupun after sales. Tidak hanya layanan kredit yang mudah, customer juga dapat menghubungi tukang service dari produk yang dibelinya aplikasi tersebut.

“Intinya, kehadiran aplikasi ini bertujuan membuat konsumen lebih mudah dalam menikmati layanan yang kami sediakan,” pungkasnya.

STEVY WIDIA