Sri Mulyani : Generasi Muda Kunci Keberhasilan Indonesia

Sri Mulyani Indrawati,Menteri Keuangan RI. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Anak muda merupakan sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia, jumlah mereka melebihi 65 juta warga. Di tangan generasi muda inilah terletak kunci keberhasilan Indonesia. Apa yang dapat dilakukan kaum muda agar bisa meraih kesuksesan di dalam maupun arena global ?

Tantangan itu yang disampaikan Sri Mulyani Indrawati Menteri Keuangan RI, pada kuliah umum dengan tema ‘Yang Muda Yang Beraksi: Peranan Pemuda dalam Mensukseskan Pembangunan Berkelanjutan yang Inklusif’ Selasa (26/7/2016) di Auditorium Djokosetono, Fakultas Hukum UI. Ini merupakan pidato resmi Sri Mulyani, sebelum dilantik Presiden Joko Widodo.

Menurut dia, dari jumlah penduduk Indonesia adalah anak muda dengan jumlah melebihi 65 juta warga. Di tangan generasi muda inilah terletak kunci keberhasilan negeri ini. Indonesia memiliki potensi besar dan dapat menjadi pelaku global yang disegani. Namun potensi ini harus diwujudkan menjadi kinerja dan prestasi.

“Untuk itu diperlukan generasi muda yang percaya diri, dengan visi luas dan ambisi dan kreativitas yang kuat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan guna menciptakan kemakmuran, kemajuan peradaban, dan keadilan sosial,” ucap Sri.

Menurut dia, negara-negara yang sukses mengentaskan kemiskinan dan mencapai kemakmuran adalah mereka yang mampu memanfaatkan globalisasi, serta membangun ketahanan dan menjaga diri dari gejolak globalisasi.

“Saya lihat perkembangan positif akhir-akhir ini dalam inovasi aplikasi teknologi yang telah menciptakan bisnis seperti Go-Jek, yang memberikan inspirasi peluang bisnis, terutama bagi generasi muda. Indonesia mampu memanfaatkan teknologi untuk aktivitas kreatif dan produktif. Jangan lupa, generasi muda saat ini adalah generasi yang hidup pada masa demokratisasi pengetahuan. Saat ini, kita semua memiliki akses informasi yang instan melalui smartphone,” ungkap mantan Managing Director dan Chief Operating Bank Dunia itu.

Ironisnya, kata Sri, melimpahnya informasi ini tidak otomatis membuka pikiran dan wawasan masyarakat. Bahkan ada kecenderungan wawasan masyarakat menjadi menyempit. “Saat ini seseorang semakin mudah melakukan justifikasi asumsi dan stereotype dalam menilai suatu masalah atau pihak lain.Tidak suka? Ya tidak usah dibaca atau didengarkan. Sangat mudah bagi kita menghilangkan sisi lain yang berseberangan dengan kita. Kita hanya membaca berita dan informasi yang sesuai dengan kecenderungan pandangan kita,” ungkpanya.

Untuk itu, dia berharap dunia pendidikan seperti Universitas Indonesia harus mampu memelihara lingkungan saling mendengar perbedaan dan saling berargumentasi yang sehat dan saling menghormati untuk terus memperbaiki kualitas peradaban kita.

“Kita harus terus berupaya untuk membangun jembatan antar perbedaan pandangan apabila kita ingin mempertahankan kebhinekaan Indonesia,” ucap Sri lagi.

Untuk itu dia mengajak generasi muda untuk selalu lakukan yang terbaik dan berikan yang terbaik bagi orang lain.Tuntutlah ilmu dan kuasai kemampuan teknis yang terbaik. Jangan pernah berhenti belajar.

“Carilah ilmu yang bermanfaat bukan hanya untuk kita sendiri namun juga bagi tim anda. Mudah untuk mencapai sukses sendiri. Lebih sulit untuk membangun sukses bersama dan membangun institusi. Reformasi di institusi publik dan swasta harus terus dilakukan guna meletakkan dan membangun tata kelola yang baik, efisien, dan akuntabel,” ungkapnya.

Dia menambahkan, agar generai muda tetaplah melatih dan mengembangkan pemikiran kritis dengan melakukan analisa yang jernih. Mampu membedakan antara fakta dan bukti di satu sisi, dengan bias dan subjektivitas di sisi yang lain. Hal ini akan mendorong pengambilan pilihan, keputusan dan tindakan yang bijak dan bertanggung jawab.

“Tidak kalah penting, tunjukkan empati kita. Perhatikan dan jaga perasaan, harga diri dan pikiran orang-orang yang berinteraksi dengan kita, terutama mereka yang tidak sepaham dan sehaluan. Ini terutama penting pada saat kita memiliki misi untuk melakukan perubahan guna mencapai perbaikan. Kepemimpinan yang inklusif dan berlandaskan empati dan integritas yang bersih akan menghasilkan proses perubahan yang baik dan hasil yang lebih langgeng,” ucap mantan kepala Bapennas itu.

Yakini bahwa pilihan sulit yang anda ambil tetap merupakan keputusan yang terbaik bagi masyarakat dan institusi. Kadang tidak semua orang akan mengapresiasi keputusan yang kita buat. Bisa jadi ada orang yang salah paham terhadap tindakan kita. Dan bahkan keberhasilan sering datang lama setelah kita meninggalkan jabatan kita.

Jangan putus asa. Tetap bertindak dengan integritas, jujur, adil, rendah hati, dan selalu menghormati martabat orang lain. Sikap itu akan membawa kepada ketentraman abadi.

“Di mana pun anda nantinya berkarya, baik di pemerintahan, perusahaan swasta, atau LSM, dan apakah kita berada di tingkat pemula, profesional menengah, atau posisi eksekutif, tidak ada kompromi dalam menjaga integritas dan harga diri kita. Indonesia dapat menjadi negara maju yang dibanggakan rakyatnya dan disegani bangsa lain. Karena Indonesia memiliki generasi muda yang selalu ingin belajar dan ingin maju, yang haus akan prestasi, dan memiliki daya juang yang tidak pernah luntur. Indonesia memiliki 65 juta generasi muda yang tidak pernah berputus asa mencintai negerinya,” pungkas Sri.

 

STEVY WIDIA