youngster.id - DeepSeek, laboratorium kecerdasan buatan (AI) asal Tiongkok, dikabarkan sedang dalam pembicaraan serius untuk menggalang putaran pendanaan ventura pertamanya. Langkah pencarian dana ini langsung memicu lonjakan valuasi perusahaan yang diperkirakan meroket dari US$20 miliar menjadi US$45 miliar (sekitar Rp715 triliun) hanya dalam waktu singkat.
DeepSeek mulai mengguncang industri AI global pada awal 2025 berkat efisiensi model bahasa besarnya (Large Language Model). Perusahaan ini mampu menghadirkan performa setara model raksasa AS seperti OpenAI, namun dengan biaya operasional dan daya komputasi yang jauh lebih kecil.
Dilansir TechCrunch, selama ini, pendiri DeepSeek sekaligus miliarder hedge fund Liang Wenfeng menguasai hampir 90% saham dan belum pernah mencari investor eksternal. Namun, DeepSeek akhirnya membuka pintu pendanaan demi mempertahankan talenta terbaiknya.
“Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk memberikan kompensasi berupa saham perusahaan kepada para peneliti agar tidak berpindah ke perusahaan competitor,” ungkap TechCrunch, dikutip Kamis (7/5/2026).
Putaran pendanaan perdana ini dilaporkan akan dipimpin oleh China Integrated Circuit Industry Investment Fund, sebuah lembaga investasi milik pemerintah Tiongkok. Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional Tiongkok untuk membangun ekosistem AI mandiri di tengah pembatasan ekspor chip teknologi dari Amerika Serikat.
Keunggulan DeepSeek yang telah dioptimasi untuk berjalan pada chip buatan Huawei Technologies menjadi daya tarik utama bagi para investor. Selain dukungan negara, raksasa teknologi seperti Tencent dan Alibaba juga dikabarkan tengah berdiskusi untuk ikut berpartisipasi dalam suntikan modal ini.
Hingga saat ini, pihak DeepSeek belum memberikan pernyataan resmi terkait rincian target pendanaan maupun valuasi final dari pembicaraan tersebut. (*AMBS)

















Discussion about this post