Di Tengah Era AI, School of Design BINUS Raih Employer Reputation #2 di Indonesia

School of Design BINUS

Mahasiswi School of Design BINUS. (Foto: istimewa/binus)

youngster.id - Peran desainer kini tidak lagi sekadar membuat visual terlihat menarik. Di tengah perkembangan AI generatif yang mampu menghasilkan aset visual dalam hitungan detik, industri kreatif mulai lebih menghargai kemampuan berpikir strategis, menyusun solusi, hingga mengambil keputusan kreatif yang berdampak pada bisnis.

Perubahan ini ikut memengaruhi kebutuhan industri terhadap talenta desain masa kini. Tidak hanya mahir menggunakan tools, tetapi juga mampu memahami pengguna, bekerja lintas disiplin, dan menerjemahkan ide menjadi solusi nyata.

Melihat perubahan tersebut, School of Design BINUS University membangun pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan industri kreatif saat ini. Pendekatan ini pula yang mengantarkan School of Design BINUS University meraih posisi kedua di Indonesia untuk indikator Employer Reputation dalam QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Art & Design.

Dean School of Design BINUS University Danendro Adi S.Sn., M.Arts mengatakan, mahasiswa didorong untuk menghadapi kompleksitas proyek yang menyerupai dunia kerja sejak awal perkuliahan.

“Kami mendidik desainer yang bisa menjelaskan mengapa sebuah keputusan kreatif akan memberikan solusi dari sebuah permasalahan, bukan hanya membuatnya terlihat bagus,” katanya dikutip Jumat (15/5/2026).

Menurut Danendro, mahasiswa tidak hanya mempelajari teknik visual, tetapi juga dilatih berpikir seperti praktisi industri sejak semester awal. Melalui pendekatan project-based learning, mahasiswa mengerjakan brief nyata dari klien, mulai dari merancang identitas visual, mengembangkan antarmuka pengguna, hingga memproduksi karya animasi dan film yang berkolaborasi langsung dengan industri.

Pendekatan tersebut turut menjadi salah satu faktor yang mengantarkan School of Design BINUS University meraih posisi kedua di Indonesia untuk indikator Employer Reputation dalam QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Art & Design.

Indikator Employer Reputation sendiri mengukur tingkat kepercayaan perusahaan dan rekruter terhadap kualitas lulusan universitas berdasarkan survei global terhadap pemberi kerja.

Danendro menilai pencapaian tersebut menunjukkan bahwa industri kini semakin membutuhkan lulusan desain yang tidak hanya kreatif secara visual, tetapi juga siap menghadapi tantangan kerja nyata.

Ia menambahkan, kurikulum School of Design BINUS juga dirancang adaptif terhadap kebutuhan industri, termasuk melalui integrasi AI dalam proses pembelajaran. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa dibiasakan bekerja menggunakan standar industri kreatif global sekaligus memahami pemanfaatan teknologi dalam proses kreatif.

Selain itu, perjalanan karier mahasiswa turut diperkuat melalui BINUS Career Center yang menghubungkan mahasiswa dan alumni dengan berbagai peluang kerja bahkan sebelum wisuda.

Di sisi lain, industri kreatif Indonesia juga terus menunjukkan pertumbuhan. Sektor ini mencatat pertumbuhan PDB sebesar 6,57% pada 2024, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Nilai ekspor produk kreatif pun mencapai US$26,68 miliar sepanjang sepuluh bulan pertama 2025.

Pertumbuhan tersebut ikut mendorong kebutuhan terhadap talenta desain yang tidak hanya mahir menggunakan tools, tetapi juga mampu memahami pengguna, bekerja lintas disiplin, dan menerjemahkan ide menjadi solusi bisnis.

Menurut Danendro Adi, kondisi ini membuat dunia industri semakin selektif dalam mencari lulusan desain yang siap menghadapi tantangan kerja nyata dan perkembangan teknologi seperti AI.

“Kepercayaan industri tidak bisa dibeli dengan kampanye. Ia dibangun dari kualitas lulusan yang terbukti, tahun demi tahun,” pungkasnya.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version