My First $1000, Menumbuhkan Generasi Entrepreneur Tangguh Lewat Pengalaman Bisnis Nyata

My First $1000

Para peserta showcase program My First $1000 di Singapura. (Foto: istimewa/eastventures)

youngster.id - Di tengah perkembangan ekonomi digital yang membuka banyak peluang baru, semakin banyak anak muda yang mulai tertarik membangun bisnis sejak usia sekolah, baik untuk mengembangkan ide, menyelesaikan masalah di sekitar mereka, maupun menciptakan sumber pendapatan sendiri.

Melihat meningkatnya minat generasi muda terhadap dunia entrepreneurship, East Ventures menggelar program My First $1000. Program yang berlangsung selama delapan minggu ini dirancang untuk membantu pelajar mengubah ide menjadi bisnis nyata melalui pengalaman langsung membangun, menjalankan, dan mengembangkan usaha mereka sendiri

Program ini menghasilkan sejumlah capaian yang menarik. Sebanyak 72 tim berhasil memenuhi syarat untuk mendapatkan matching grants, sementara 41 tim sukses menghasilkan pendapatan lebih dari S$1.000 selama program berlangsung.

Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Willson Cuaca mengatakan, pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk mempelajari entrepreneurship.

“Program My First $1000 dibangun atas dasar keyakinan bahwa cara terbaik untuk mempelajari entrepreneurship adalah dengan mempraktikkannya secara langsung. Seluruh tim telah melangkah keluar dari zona nyaman mereka, berani mengambil risiko, dan menjalankan bisnis secara langsung,” kata Willson, dikutip Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, keberhasilan para peserta menunjukkan bahwa Singapura memiliki ekosistem yang mendukung lahirnya generasi entrepreneur baru, mulai dari akses pendanaan hingga dukungan pemerintah.

Tim dengan pendapatan tertinggi diraih Drummer Dreammaker yang berhasil meraih pendapatan hingga S$25.480. Sementara itu, total matching grants yang disalurkan kepada para peserta mencapai S$53.964,54.

Co-Founder & CEO Wavesparks Ee Ling Lim yang menjadi mentor para peserta mengatakan, para founder muda memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan entrepreneur yang lebih berpengalaman.

“Para founder muda ini memulai bisnis dari hasrat personal yang tulus, sehingga memberi mereka kekuatan super berupa ketangguhan saat menghadapi kesulitan,” ujarnya.

Ee Ling juga menilai para pelajar juga memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Ketika sebuah ide tidak mendapatkan respons pasar yang diharapkan, mereka cenderung lebih cepat melakukan evaluasi dan perubahan strategi tanpa terbebani ego.

Salah satu peserta yang berhasil menarik perhatian adalah Wuna, sebuah tim yang mengembangkan perangkat wearable modis untuk membantu meredakan nyeri haid. Co-Founder Wuna, Avin Taishiran Teo, mengaku pengalaman mengikuti program ini memberikan banyak pelajaran yang tidak didapatkan di ruang kelas.

“Di sekolah, kami diajarkan untuk melakukan segala hal dengan sempurna sejak pertama kali. Namun pengalaman entrepreneurship ini mengajarkan kami untuk berani meluncurkan produk, mengumpulkan feedback, dan melakukan iterasi,” kata Avin.

Sementara itu, Minister of State for Culture, Community and Youth and Manpower Singapura, Dinesh Vasu Dash, menilai program seperti My First $1000 membantu membangun budaya entrepreneurship sejak dini.

“Entrepreneurship adalah tentang ide, presentasi, penjualan, kegagalan, dan bangkit kembali lebih kuat. Setiap peserta telah memperkaya diri melalui pengalaman ini, terlepas dari hasilnya,” ujarnya.

Menurut Dinesh, pengalaman tersebut penting untuk membentuk generasi muda yang berani mengambil risiko, belajar dari kegagalan, dan percaya diri mewujudkan ide-ide mereka.

STEVY WIDIA

Exit mobile version