youngster.id - Penyedia layanan transportasi darat terkemuka untuk Garuda Indonesia Group, Aerotrans, melakukan transformasi digital besar-besaran pada sistem manajemen armadanya. Untuk mengawasi visibilitas armada, memantau perilaku pengemudi, dan meminimalkan risiko kecelakaan di jalan raya, Aerotrans menggandeng Geotab, guna mengimplementasikan platform telematika berbasis data real-time.
Langkah strategis ini diambil guna menjawab tantangan kompleksitas operasional berskala besar dalam menjaga keselamatan serta ketepatan waktu perjalanan para awak pesawat dari dan menuju bandara di seluruh Indonesia.
Sebagai tulang punggung transportasi darat bagi maskapai nasional tersebut, Aerotrans mengoperasikan lebih dari 700 kendaraan dengan intensitas tinggi yang mencakup lebih dari 1.200 perjalanan setiap bulannya.
Direktur Aerotrans, Kadek Bayu Temaja, menegaskan bahwa adopsi teknologi mutakhir ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam menjaga nilai-nilai keselamatan tertinggi demi mendukung reputasi aviasi nasional.
“Transformasi ini bukan hanya tentang adopsi teknologi, tetapi bagaimana kami memastikan keselamatan dan presisi operasional secara konsisten di seluruh armada. Geotab menghadirkan platform yang selaras dengan nilai kami, terutama dalam hal presisi dan keselamatan. Bagi Aerotrans, Geotab bukan hanya sekadar produk, melainkan mitra strategis,” ujar Kadek, Kamis (11/6/2026).
Sejak diimplementasikan pada September 2024, pendekatan berbasis data ini terbukti sukses membentuk perilaku berkendara yang lebih aman dan efisien. Aerotrans berhasil mencatatkan rapor hijau yang signifikan, di antaranya pencapaian peringkat keselamatan (safety score) sebesar 89% yang berhasil melampaui rata-rata armada sejenis di kawasan regional.
Integrasi platform pintar ini memberikan visibilitas penuh bagi tim pengendali operasional untuk memantau lokasi kendaraan secara instan, mendeteksi kondisi mesin, hingga mereduksi tindakan berisiko di lapangan. Terjadi penurunan drastis sebesar 57% pada kejadian rem mendadak (harsh braking) dan merosotnya angka akselerasi agresif sebesar 66%. Hal ini berbanding lurus dengan peningkatan 61% dalam prediksi tingkat kecelakaan per kilometer, serta penurunan durasi idle kendaraan sebesar 22% yang berkontribusi langsung pada efisiensi bahan bakar.
Untuk menjamin ketepatan waktu penjemputan kru di bandara besar seperti Soekarno-Hatta dan Denpasar, Aerotrans memanfaatkan fitur pembatasan wilayah virtual (geofencing). Fitur ini memberikan posisi kendaraan secara instan guna menghindari keterlambatan penerbangan.
Kepala Pusat Pengendalian Operasi Transportasi (Control Center) Aerotrans, Hermawan, menjelaskan peran krusial fitur pembatasan wilayah virtual tersebut dalam aktivitas harian mereka. Misal fitur Geofencing untuk melacak kendaraan yang mendekati zona operasional penting.
Associate Vice President Southeast Asia Geotab, Ezanne Soh, menyatakan bahwa kemitraan ini menjadi bukti bagaimana pemanfaatan data analitik mampu mendukung ekosistem aviasi yang berkelanjutan.
“Tujuan kami adalah membantu organisasi seperti Aerotrans memaksimalkan potensi armada mereka melalui data dan teknologi canggih. Dalam konteks operasional penerbangan, kemitraan ini menunjukkan bagaimana insight real-time dari platform Geotab dapat meningkatkan efisiensi, memperkuat keselamatan transportasi awak, serta mendukung operasional aviasi yang lebih andal dan berkelanjutan,” ungkap Soh.
Ke depan, Aerotrans bersiap mengintegrasikan sistem ini dengan Transport Management System (TMS) internal mereka. Langkah ini ditargetkan mampu membangun ekosistem digital yang utuh, sekaligus membuka peluang pemanfaatan teknologi serupa untuk sektor pariwisata dan logistik nasional.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post