youngster.id - Di balik serunya dunia game online, ada sisi lain yang nggak boleh diabaikan yaitu ancaman siber yang terus meningkat. Laporan terbaru Kaspersky mendapati jumlah ancaman siber terkait game di Asia Tenggara meningkat hingga 86% sepanjang 2025. Menariknya gamer muda jadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan digital.
“Kami terus mengamati peningkatan intensitas ancaman siber terkait game yang menargetkan anak-anak muda, karena penjahat siber berupaya mengeksploitasi tingkat konektivitas digital mereka yang tinggi dan antusiasme mereka terhadap game populer serta pengalaman yang dipersonalisasi untuk melancarkan kampanye berbahaya mereka,” ungkap Choon Hong Chee, Head of Consumer Channel untuk Asia Pasifik di Kaspersky dikutip dari siaran pers, Senin (13/4/2026).
Secara regional, lonjakan paling tinggi terjadi di Vietnam dan Thailand, masing-masing mencapai lebih dari 200% dan 100%. Sementara itu, Singapura dan Malaysia juga mencatat kenaikan signifikan. Menariknya, Indonesia justru menunjukkan tren berbeda dengan penurunan sebesar 22%.
Game populer seperti Roblox, Minecraft, dan Genshin Impact jadi yang paling sering dimanfaatkan. Modusnya pun cukup “relatable” buat gamer: mulai dari cheat, mod, hingga item eksklusif palsu yang terlihat legit, tapi ternyata jadi pintu masuk malware.
Fenomena ini banyak menyasar gamer muda yang memang aktif secara digital dan cenderung eksploratif dalam bermain. Para ahli menilai pola serangan yang semakin canggih dan menyasar perilaku pengguna.
Salah satu contohnya bisa dilihat dari Minecraft, di mana pemain sering mengunduh mod untuk menyesuaikan pengalaman bermain. Celah ini dimanfaatkan pelaku untuk menyisipkan malware atau aplikasi yang tampak seperti upgrade resmi.
Hal serupa juga terjadi di Roblox. Banyak pemain tergiur mendapatkan skin langka atau item eksklusif, lalu diarahkan ke situs palsu yang justru mencuri data pribadi, bahkan informasi finansial.
Yang sering luput disadari, dampaknya nggak berhenti di satu akun saja. Serangan ini bisa merembet ke lingkungan keluarga. Gamer muda yang jadi target bisa saja tanpa sadar membagikan data sensitif seperti informasi kartu kredit orang tua atau alamat rumah. Data ini kemudian berpotensi disalahgunakan untuk penipuan, pencurian, hingga serangan lanjutan berbasis rekayasa sosial.
“Paling mengkhawatirkan adalah ancaman ini tidak hanya membahayakan keamanan siber para gamer muda kita, tetapi juga keamanan siber lingkungan keluarga mereka, karena mereka bertindak sebagai titik masuk ke jaringan keluarga yang lebih luas. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menyadari pentingnya melindungi interaksi digital setiap anggota keluarga untuk benar-benar memastikan keamanan digital mereka,” tambah Choon Hong Chee.
Melihat tren ini, satu hal jadi jelas: makin seru dunia gaming, makin penting juga awareness soal keamanan digital. Karena di era sekarang, bukan cuma skill yang harus di-upgrade, tapi juga cara kita menjaga data dan privasi saat online.
STEVY WIDIA
