youngster.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama International Labour Organization (ILO) resmi meluncurkan Sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dan program akses keuangan inklusif bagi peternak sapi perah di Jawa Timur. Langkah ini diambil untuk mengatasi masalah asimetri informasi dan keterbatasan data keuangan yang selama ini membuat peternak rakyat kesulitan menembus akses pembiayaan formal dari perbankan.
Peluncuran ini merupakan bagian dari implementasi program global PROMISE 2 IMPACT. Program ini digarap lewat kolaborasi antara ILO, Kemenko Perekonomian, dan OJK, dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO).
Selama ini, peternak sapi perah kerap menghadapi kendala dalam mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan formal. Masalah utamanya adalah dokumentasi keuangan yang belum tertata, kapasitas produksi yang simpang siur, serta profil usaha yang dinilai kurang valid.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan OJK, Adi Budiarso, menjelaskan bahwa kehadiran sistem ERP akan menjadi solusi digital hulu-ke-hilir untuk mendokumentasikan operasional koperasi dan peternak secara real-time.
“Melalui data yang dihasilkan oleh sistem ERP ini, pemeringkat kredit alternatif dapat membangun profil kredit peternak dengan lebih objektif, akurat, dan inklusif. Sistem ini menjadi jembatan yang menghubungkan peternak rakyat dengan ekosistem jasa keuangan formal secara menyeluruh,” jelas Adi, dikutip Senin (15/6/2026).
Sistem ERP ini mengintegrasikan pencatatan data produksi susu dengan layanan Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) serta Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK).
Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh, menggarisbawahi pentingnya digitalisasi dalam memperkuat ketahanan usaha mikro. Senada dengan hal tersebut, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, H.E. Olivier Zehnder, menyatakan kebanggaannya dapat mendukung program yang memberikan dampak nyata bagi penguatan kapasitas pelaku usaha lokal di tingkat pedesaan.
Pada tahap awal, keberhasilan pengembangan sistem ERP yang terintegrasi ini telah diterapkan pada tiga koperasi sapi perah prioritas di Jawa Timur: Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Koperasi Peternak Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan, dan KPUD Tani Wilis.
Secara keseluruhan, implementasi di tiga titik tersebut telah mencakup lebih dari 10.000 anggota koperasi.
Sebagai langkah lanjutan, OJK menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bersama para pemangku kepentingan untuk memperluas cakupan program. Model digitalisasi ekosistem peternakan sapi perah di Jawa Timur ini diharapkan dapat segera direplikasi ke berbagai sektor komoditas dan daerah lain di seluruh Indonesia.
STEVY WIDIA
