youngster.id - Platform keamanan identitas berbasis zero-trust, Keeper Security, merilis laporan global bertajuk “Identity Security at Machine Speed”. Studi yang melibatkan 3.200 pemimpin IT dunia ini mengungkapkan bahwa adopsi Kecerdasan Buatan (AI) yang tidak terkendali dan penggunaan alat keamanan lama telah memperlebar celah keamanan yang kini mulai dieksploitasi oleh peretas.
Wilayah Asia-Pasifik (APAC) menunjukkan sinyal bahaya paling kuat. Sebanyak 94% pemimpin IT di APAC mengaku kesulitan mengelola jejak identitas yang terus membengkak, angka ini lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 89%. Bahkan, 32% responden di APAC menilai lanskap ancaman saat ini jauh lebih menantang dibandingkan 12 bulan lalu.
Laporan ini menyoroti tren penggunaan AI yang memicu ledakan jumlah Identitas Non-Manusia (Non-Human Identities/NHI), seperti agen AI dan alur kerja otomatis. Di wilayah APAC, 53% responden mengidentifikasi pengelolaan keamanan NHI sebagai celah tata kelola utama, jauh melampaui angka global sebesar 43%.
“Agen AI, akun layanan, dan identitas mesin kini jumlahnya jauh melampaui pengguna manusia. Setiap identitas yang tidak terkelola adalah target utama bagi penyerang,” ujar Darren Guccione, CEO dan Co-founder Keeper Security.
Studi ini juga menemukan fakta mengkhawatirkan bahwa 72% organisasi secara global tidak mampu mendeteksi penyalahgunaan kredibel secara real-time. Di wilayah APAC, 22% organisasi membutuhkan waktu berhari-hari untuk mendeteksi akses istimewa yang tidak sah, yang memberikan jendela waktu luas bagi pelaku kejahatan untuk beraksi.
Senior Vice President APAC Keeper Security, Takanori Nishiyama, menambahkan bahwa kesenjangan antara apa yang bisa dikelola dan apa yang tidak terlihat semakin lebar.
“Risiko NHI terkait AI dirasakan lebih tajam di sini (APAC) dibandingkan wilayah lain. Menutup celah tersebut membutuhkan platform keamanan identitas terpadu,” tegasnya.
Menanggapi ancaman ini, 50% organisasi di APAC berencana memprioritaskan investasi pada alat keamanan bertenaga AI dalam 12 bulan ke depan, serta memperkuat Privileged Access Management (PAM) guna melindungi data sensitif mereka. (*AMBS)
