youngster.id - Pemanfaatan artificial intelligence (AI) kini tidak hanya menjadi kebutuhan industri, tetapi juga mulai diperkenalkan kepada generasi muda sejak bangku sekolah. Bukan sekadar belajar cara menggunakan teknologi, siswa juga perlu memahami bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk menjawab persoalan yang ada di sekitar mereka.
Hal inilah yang coba dilakukan PT Computrade Technology International (CTI Group) melalui DIGIForward 2026. Program corporate social responsibility (CSR) ini mengajak guru dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Tengah untuk merancang solusi teknologi bagi berbagai persoalan layanan publik di lingkungan mereka.
“Antusiasme yang kami lihat dari pelaksanaan DIGIForward sebelumnya dengan rekan-rekan guru dan siswa SMK Jawa Timur semakin menguatkan keyakinan kami bahwa program ini memiliki potensi untuk memberikan dampak yang lebih besar,” ujar Rachmat Gunawan, CEO CTI Group dikutip Senin (14/9/2026).
Menurut Rachmat, DIGIForward dikembangkan untuk membantu guru dan siswa SMK semakin dekat dengan perkembangan teknologi, khususnya AI yang kini semakin dibutuhkan di dunia kerja. Melalui pengalaman belajar dan bereksperimen secara langsung, peserta diharapkan tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga lebih adaptif terhadap kebutuhan industri.
“Pendekatan tersebut mengajak peserta memahami persoalan terlebih dahulu sebelum menentukan teknologi yang akan digunakan. Dengan begitu, teknologi tidak sekadar dipandang dari sisi cara penggunaannya, tetapi juga berdasarkan kebutuhan pengguna, relevansi solusi, dan dampak yang dapat dihasilkan,” ungkapnya.
Perjalanan DIGIForward 2026 dimulai melalui Online Onboarding yang diikuti 15 sekolah peserta. Para siswa kemudian dibagi ke dalam tim yang terdiri dari empat orang dengan peran sebagai Team Leader, Developer, Quality Assurance, dan Pitcher.
Peserta selanjutnya mengikuti Upskilling Training untuk mempelajari design thinking dan cognitive automation (AI). Mereka dilatih memahami kebutuhan pengguna, merumuskan masalah, mengembangkan ide, hingga mengeksplorasi pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan solusi.
Materi tersebut kemudian langsung dipraktikkan melalui worksheet dan sesi one-on-one mentoring. Dari tahap ini, peserta menyusun proposal ide dan solusi berdasarkan case study yang mereka pilih.
Dari proposal yang masuk, 10 tim terbaik kemudian berkesempatan melanjutkan ke Innovation Sprint, yang menjadi tahap pengembangan solusi secara lebih intensif.
Dari 10 tim finalis, XSATA Swift dari SMK Negeri Tengaran berhasil menjadi juara pertama DIGIForward 2026 melalui Xsata Career.
Solusi tersebut merupakan platform bimbingan karier berbasis cognitive automation (AI) yang dirancang untuk membantu siswa mendapatkan informasi industri, konsultasi yang lebih personal, serta panduan karier berdasarkan minat, potensi, dan jurusan mereka.
Ide tersebut berangkat dari persoalan yang ditemukan tim, yakni masih adanya siswa yang mengalami kebingungan ketika menentukan jurusan maupun pilihan karier karena keterbatasan layanan bimbingan konseling.
“Awalnya kami melihat masih banyak siswa yang bingung memilih jurusan dan karier karena keterbatasan guru BK. Dari situ, kami mencoba membuat solusi yang bisa memberikan panduan yang lebih personal,” ujar Keisya dan Devin, anggota XSATA Swift.
Sementara itu, juara kedua diraih Sikat Stemba dari SMK Negeri 7 Semarang melalui WadulKan. Solusi berbasis AI ini dapat membantu menyusun laporan warga menjadi draft surat pengaduan secara otomatis sehingga proses administrasi kelurahan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan mengurangi pekerjaan manual.
Juara ketiga diraih SKANIDA dari SMK Negeri 2 Semarang lewat Gizka – Gizi Kita. Solusi ini memanfaatkan AI untuk mengenali kandungan gizi makanan melalui foto, sehingga pengguna dapat memperoleh informasi mengenai asupan gizi dengan lebih sederhana tanpa harus melakukan perhitungan secara manual.
Ketiga solusi tersebut menunjukkan bagaimana pembelajaran teknologi dapat diarahkan pada persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagi para siswa, prosesnya juga menjadi kesempatan untuk mencoba berbagai tools dan framework yang sebelumnya belum mereka gunakan.
“Selama proses pengembangan, kami sempat menghadapi kendala jaringan, prompt, hingga limit OpenCode. Tapi justru dari situ kami banyak belajar karena harus terus mencoba dan mengulik tools maupun framework yang sebelumnya belum pernah kami gunakan,” ujar Kevin dan Yansi, anggota XSATA Swift.
Program DIGIForward sebelumnya telah digelar di Jawa Timur pada 2025. Tahun ini, program tersebut kembali hadir di Jawa Tengah dengan menggandeng Generation Educators (GenEd) sebagai mitra pembelajaran melalui pendekatan experiential learning berbasis design thinking.
STEVY WIDIA


















Discussion about this post