Salesforce Perkenalkan AIforce, Bawa Data dan Alur Kerja Bisnis ke Berbagai Platform AI

Presiden Direktur Salesforce Indonesia Andreas Diantoro. (Foto: stevywidia/youngster.id)

youngster.id - Perkembangan AI agent mendorong perubahan cara perusahaan dan karyawan berinteraksi dengan teknologi. Jika sebelumnya pengguna harus membuka aplikasi tertentu untuk mengakses data dan menjalankan pekerjaan, kini kebutuhan tersebut mulai bergeser ke antarmuka yang lebih fleksibel dan terintegrasi dengan tempat kerja sehari-hari.

Melihat perubahan tersebut, Salesforce memperkenalkan AIforce dalam ajang Dreamforce 2026. Teknologi ini menjadi lapisan antarmuka dinamis yang membawa data, alur kerja, logika bisnis, hak akses, keamanan, dan tata kelola Salesforce ke berbagai antarmuka AI.

Melalui AIforce, pengguna tidak lagi harus membuka aplikasi Salesforce untuk mengakses informasi atau menyelesaikan pekerjaan. Salesforce dapat hadir melalui platform seperti Claude, Slack, Lightning, maupun platform lain yang digunakan dalam aktivitas kerja.

“AI sedang menciptakan revolusi antarmuka. Kami menggabungkan kecerdasan model dengan seluruh konteks yang telah dibangun pelanggan di Salesforce untuk menciptakan sistem yang cerdas, dinamis, dan dapat disusun,” ujar Marc Benioff, Chair and CEO Salesforce dikutip Jum’at (18/9/2026).

Dia menerangkan, AIforce memungkinkan karyawan mengajukan pertanyaan, memperbarui catatan, hingga menjalankan alur kerja berdasarkan data dan logika bisnis yang sudah tersedia di Salesforce. Sementara itu, agen AI dapat membaca berbagai catatan, mengakses sistem yang terhubung, kemudian menalar dan mengambil tindakan berdasarkan konteks bisnis yang lebih menyeluruh.

“Pendekatan ini juga memungkinkan pengguna membangun antarmuka sesuai kebutuhan tanpa harus bergantung pada tampilan aplikasi yang kaku. Pengguna cukup menjelaskan kebutuhan mereka untuk membuat tampilan dinamis melalui platform seperti Slack, Claude, dan Coworker,” ungkapnya.

Bagi perusahaan di Asia Tenggara, pendekatan tersebut dinilai relevan dengan kebiasaan kerja yang semakin mengandalkan perangkat mobile dan kanal percakapan.

“Asia Tenggara adalah kawasan yang sangat mobile-first dan terbiasa bekerja lewat kanal percakapan. Melalui AIforce, bisnis di ASEAN bisa merealisasikan potensi penuh dari AI,” kata Paul Carvouni, Senior Vice President dan General Manager ASEAN, Salesforce.

Menurut Salesforce, AIforce membawa sejumlah kemampuan utama. Salah satunya adalah kemampuan menghadirkan insight secara dinamis dengan menggabungkan data, logika bisnis, dan percakapan di Salesforce dalam satu konteks.

Dari sisi keamanan, setiap permintaan tetap dijalankan berdasarkan hak akses dan aturan bisnis yang telah berlaku. Artinya, agen AI hanya dapat mengakses informasi sesuai izin pengguna, sementara tindakan yang dilakukan tetap berjalan melalui Salesforce.

AIforce juga dirancang dengan konsep Zero Data Retention. Data bisnis digunakan untuk menjawab permintaan yang sedang diajukan dan tidak disimpan oleh penyedia model. Pengguna juga dapat membangun antarmuka, agen AI, maupun tampilan berdasarkan data dan logika bisnis yang tersedia.

Teknologi tersebut menjadi bagian dari arsitektur Agentic Enterprise Salesforce yang mencakup Data 360, kecerdasan aplikasi dan semantik Customer 360, serta Agentforce sebagai tenaga kerja digital berbasis AI.

AIforce diluncurkan bersama Claudeforce, Slackforce, dan Agentforce Coworker. Kehadiran berbagai layanan tersebut memperluas akses terhadap kemampuan Salesforce melalui sejumlah platform yang digunakan untuk bekerja dengan AI.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version