UI Gelar Sekolah Budaya Jawa di Kaki Gunung Merbabu Jateng

Sekolah Budaya Jawa merupakan sebuah program Pengabdian Masyarakat dari UI. (Foto: istimewa/youngster.id)

youngster.id - Sebagai upaya untuk melestarikan budaya milik negeri sendiri. Universitas Indonesia kembali menggelar Sekolah Budaya Jawa. Kegiatan yang dibentuk oleh para Dosen Sastra Jawa UI diikuti 39 siswa asing yang turut melihat langsung parade pesta panen di Desa Senden, Boyolali, Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Tengah Gandjar Pranowo menyampaikan pihaknya sangat mengapresiasi atas semangat dan upaya para Dosen UI yang mau kembali ke desa dan membangun desa. “Saya berharap kelak para mahasiswa juga mau memajukan desa. Dengan dibentuknya Sekolah Budaya Jawa ini dapat mendukung upaya Industri kreatif dan industri wisata Indonesia serta mendorong peningkatan Ekonomi kerakyatan,” kata Gandjar yang dilansir Humas UI belum lama ini.

Sekolah Budaya Jawa bentukan empat dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI ini diketuai oleh Widhyasmaramurti, M.A yang merupakan dosen program studi Jawa.

Sekolah Budaya Jawa merupakan sebuah program Pengabdian Masyarakat (pengmas) yang diharapkan dapat membimbing warga setempat untuk siap menjadikan kampungnya sebagai destinasi wisata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara sehingga pada akhirnya mampu mendukung kehidupan perekonomian warga desa.

Baca juga :   XL Terus Perluas Layanan 3G Ke 350 Kota/Kabupaten di Indonesia

Program Pengmas ini dilakukan selama enam bulan, terhitung sejak bulan April sampai dengan September 2018 mendatang. Dalam menjalankan programnya ini, Mara dan tim didukung dana dari hibah pengabdian masyarakat DRPM UI (Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UI).

Sebagai pilot project, Sekolah Budaya Jawa ini baru saja mendidik 39 siswa asing dan dalam negei non penutur Jawa. Mereka mempelajari bahasa Jawa, budaya Jawa dan kesenian tradisional (Gamelan, jathilan, kethoprak).

Pelaksanaan Pengmas ini terbagi menjadi tiga tahap, tahap pertama (pra-kegiatan) dilakukan pada bulan April, yaitu dengan melakukan perkerutan fasilitator desa untuk menjadi pengajar di Sekolah Budaya Jawa, tahap kedua (kegiatan utama) dilakukan pada bulan Mei, Juli, dan Agustus yaitu berupa Lokakarya pembuatan paket & buku ajar.

Tahap ketiga (pasca kegiatan) dilakukan pada bulan Agustus berupa evaluasi uji coba Sekolah Budaya Jawa. Warga desa sepenuhnya dilibatkan di dalam pembentukan Sekolah Budaya Jawa. Dengan bimbingan oleh para dosen prodi Sastra Jawa FIB UI diharapkan kelak mereka mampu mandiri memberikan pelajaran Bahasa dan budaya kepada para turis.

Baca juga :   Indonesia Butuh SDM Berkualitas Untuk Keamanan Siber

 

FAHRUL ANWAR