youngster.id - Kemampuan Bahasa Inggris kini dipandang sebagai kompetensi penting untuk membuka akses siswa ke pendidikan tinggi dan jejaring internasional. Penguatan kualitas guru menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan pendidikan global.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Kementerian Agama RI dan British Council berkolaborasi untuk peningkatan kompetensi guru Bahasa Inggris madrasah.
Menteri Agama RI Prof KH Nasaruddin Umar mengatakan, kolaborasi ini merupakan langkah konkret mewujudkan Asta Protas Kemenag.
“Selain itu, juga mendukung kesepakatan dalam Kemitraan Strategis Indonesia–Inggris yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Keir Starmer pada Januari 2026 lalu, yang mana pendidikan menjadi salah satu pilar utama kerja sama,” ungkapnya dikutip dari siarna pers Jumat (27/2/2026).
Saat ini ada 41.833 guru madrasah yang tersebar di seluruh Indonesia. Kolaborasi antara Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Kementerian Agama RI dan British Council diawali dengan pemetaan kompetensi untuk mengukur kemampuan pedagogik dan kemahiran bahasa Inggris guru MTs dan MA serta pelaksanaan program percontohan Continuing Professional Development (CPD). Kedua inisiasi ini akan menjadi landasan untuk program pengembangan peningkatan guru ke depannya.
Country Director Indonesia and Director Southeast Asia British Council Summer Xia memaparkan, Sebanyak 613 guru yang tersebar merata di hampir seluruh provinsi di Indonesia kini telah menyelesaikan program ini.
“Dengan menghadirkan pelatihan secara daring dalam format yang terstruktur dan didukung secara menyeluruh, serta diperkuat oleh e-moderator dan sesi langsung mingguan, kami memastikan bahwa pengembangan profesional berkualitas tinggi dapat diakses oleh para pendidik di mana pun mereka berada,“ tuturnya.
Selama delapan minggu pelaksanaan, perubahan mulai terlihat dalam praktik pembelajaran. Guru mengadopsi pendekatan yang lebih berpusat pada siswa dan menciptakan interaksi kelas yang lebih aktif. Kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris juga meningkat, yang berdampak pada partisipasi siswa.
Menurut Summer Xia, sebagai program percontohan, inisiatif ini menjadi fondasi untuk pengembangan yang lebih luas. Jumlah peserta memang masih sebagian kecil dari kebutuhan nasional, namun model yang telah diuji membuka ruang untuk ekspansi dan penguatan berkelanjutan.
Pengembangan berikutnya diharapkan dapat memperluas akses pelatihan sekaligus mendorong terbentuknya komunitas belajar profesional di antara guru madrasah, menghasilkan dampak sistemik yang dapat terus direplikasi.
“Progres dalam skala seperti ini hanya dapat terwujud ketika seluruh mitra memiliki komitmen yang sama untuk membangun sistem pendidikan yang terukur, berdampak, dan siap untuk diadopsi secara nasional. Melalui kolaborasi ini, British Council berkomitmen untuk memperkuat kapasitas, mempercepat transfer pengetahuan, serta memastikan solusi yang tidak hanya efektif saat ini, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang,” tutup Summer Xia.
STEVY WIDIA
