youngster.id - Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, memperkuat perannya dalam mendukung agenda pemerintah untuk menurunkan tingkat kemiskinan nasional. Hingga tahun 2025, grup BUMN ini tercatat telah membina lebih dari 10.000 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tersebar di seluruh wilayah operasional perusahaan.
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, menegaskan bahwa strategi hilirisasi industri pertambangan tidak boleh hanya dipandang sebagai proyek fisik. Menurutnya, hilirisasi harus bertransformasi menjadi penggerak kesejahteraan yang menghubungkan kekayaan sumber daya alam dengan penguatan ekonomi sosial di sekitar wilayah tambang.
“Hilirisasi tidak boleh berhenti pada output industri. Ukurannya adalah seberapa jauh ia melahirkan pelaku usaha baru dan memperkuat ekonomi nasional. Ketika 10.000 UMKM meningkat kapasitasnya, itu adalah strategi ekonomi untuk memperdalam struktur produktif kita,” ujar Dany dalam keterangannya.
MIND ID menjalankan program pembinaan komprehensif yang mencakup pelatihan kapasitas, pendampingan bisnis, fasilitasi promosi, hingga dukungan akses permodalan. Salah satu keberhasilan nyata terlihat di Pangkalpinang melalui PT Timah Tbk, yang mendampingi usaha Pempek Udang Mama Sabil. Berkat dukungan pameran dan peningkatan kualitas produk, usaha yang dikelola oleh Kardina (41) kini mengalami lonjakan omzet signifikan dan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
Kesuksesan serupa terjadi di Sumatra Selatan lewat inisiatif PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Kelompok SIBA Rosella yang beranggotakan lebih dari 30 ibu rumah tangga kini mampu memproduksi minuman herbal secara massal dengan distribusi nasional. Usaha ini menghasilkan omzet antara Rp5 juta hingga Rp60 juta per bulan. Keberhasilan tersebut bahkan memicu lahirnya unit usaha baru, SIBA Rajut, yang melibatkan belasan perempuan lokal lainnya.
Dany menegaskan bahwa pemberian akses dan kepastian ekosistem usaha merupakan cara paling rasional dan berkelanjutan untuk menekan angka kemiskinan. UMKM diposisikan sebagai basis ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja secara langsung di daerah.
“Mengurangi kemiskinan adalah baseline, namun menaikkan kelas adalah strategi utama kami. Kami ingin masyarakat di wilayah operasional tidak hanya bertahan hidup, tetapi tumbuh menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi daerah,” tutup Dany.
HENNI S.
