Tren Olahraga Sosial Dapat Meningkatkan Risiko Nyeri Otot, Teknologi Terapi Jadi Solusi

Aktivitas olahraga sosial Padel sedang jadi tren di masyarakat. (Foto: stevywidia/youngster.id)

youngster.id - Belakangan minat masyarakat terhadap olahraga sosial seperti padel meningkat. Namun di sisi lain, aktivitas ini juga dapat meningkatkan risiko nyeri otot, cedera bahkan gangguan muskuloskeletal yang menjadi salah satu penyebab utama disabilitas.

Studi epidemiologi olahraga global seperti Injury Epidemiology in Elite Adult Field-Based Team Sports (ScienceDirect, 2023), menunjukkan cedera cukup umum terjadi saat aktivitas fisik, terutama pada lutut dan pergelangan kaki akibat gerakan repetitif.

Kondisi tersebut menegaskan bahwa peningkatan aktivitas fisik perlu diimbangi dengan pemahaman pencegahan cedera serta pemulihan otot dan sendi yang tepat. Edukasi mengenai manajemen nyeri dan akses terhadap solusi terapi yang praktis menjadi semakin penting agar masyarakat dapat tetap aktif berolahraga secara aman tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang.

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dari Heisei Rehabilitation Clinic Dr. Ega Jaya, Sp.KFR, AIFO-K mengungkapkan, nyeri pasca-aktivitas sering muncul akibat peningkatan intensitas latihan secara mendadak, teknik gerakan yang kurang tepat, atau minimnya pemanasan.

“Pendekatan non-farmakologis seperti stimulasi saraf listrik dapat membantu mengurangi persepsi nyeri dan mendukung relaksasi otot, sehingga proses pemulihan menjadi lebih optimal jika digunakan sesuai anjuran,” paparnya pada peluncuran Omron TENS seri terbaru, Rabu (5/3/2026) di Jakarta.

Untuk mendukung aktivitas ini Omron menghadirkan teknologi terapi nyeri pada dua perangkat terbaru, OMRON Sport TENS HV-F030 dan OMRON TENS HV-F230 di Indonesia.

Director OMRON Healthcare Indonesia Tomoaki Watanabe mengatakan, OMRON ingin berkontribusi tidak hanya melalui perangkat kesehatan, tetapi juga dengan mendorong pemahaman bahwa pemulihan merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan jangka panjang.

“Kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup aktif terus meningkat, dan kami melihat kebutuhan terhadap solusi pemulihan yang praktis serta berbasis teknologi juga semakin besar,” kata Watanabe.

Perangkat dengan teknologi Jepang ini adalah bagian dari lini solusi terapi nyeri yang semakin personal, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat aktif saat ini.

OMRON Sport TENS HV-F030 dirancang untuk mendukung pemulihan setelah aktivitas fisik maupun olahraga rutin. Perangkat ini merupakan satu-satunya produk terapi dari OMRON yang memiliki satu bantalan otot dan dua bantalan sendi, sehingga pelanggan dapat menyesuaikan pemasangan bantalan pada bagian tubuh yang nyeri.

Dilengkapi lima mode terapi, 15 tingkat intensitas yang dapat disesuaikan, serta sesi terapi otomatis selama 15 menit, perangkat ini praktis digunakan setelah berbagai aktivitas, mulai dari pekerjaan harian hingga olahraga dengan intensitas cukup tinggi, seperti padel. Desainnya yang ringkas dan portabel juga memudahkan penggunaan kapan saja sesuai kebutuhan.

Sementara itu, OMRON TENS HV-F230 menawarkan tingkat kustomisasi terapi yang lebih tinggi. Perangkat buatan Jepang ini cocok digunakan sebagai solusi pereda nyeri bagi pengguna usia lanjut dengan kondisi nyeri kronis, karena stimulasi hingga 1200 Hz memungkinkan jangkauan terapi yang lebih luas dan penetrasi yang lebih dalam.

HV-F230 dilengkapi dengan 12 mode terapi utama, 4 mode tambahan, serta 20 tingkat intensitas, memberikan fleksibilitas dalam menyesuaikan terapi sesuai kebutuhan dan tingkat kenyamanan masing-masing pengguna. Desain antarmuka yang intuitif dengan tampilan layar yang jelas serta kontrol yang sederhana membuat perangkat ini mudah dioperasikan, termasuk bagi pengguna yang baru mencoba terapi nyeri mandiri di rumah.

Selain itu Omron juga mendorong edukasi mengenai manajemen nyeri dan akses terhadap solusi terapi yang praktis. “Menjadi semakin penting agar masyarakat dapat tetap aktif berolahraga secara aman tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang,” pungkas Watanabe.

World Health Organization (WHO) dalam WHO Guideline on Chronic Low Back Pain (2023) melaporkan sekitar 619 juta orang mengalami nyeri punggung bawah pada 2020. Jumlah ini diproyeksikan terus meningkat seiring perubahan gaya hidup serta penuaan populasi.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version