Uniqlo Indonesia Angkat Isu Interseksionalitas dan Kepemimpinan Inkusif

Uniqlo Indonesia menggelar diskusi memperingati International Women‘s Day 2026. (Foto: kenrene/youngster.id)

youngster.id - Dunia kerja yang semakin dinamis membawa banyak tantangan termasuk bagi kaum perempuan muda. Dibalik target, strategi, dan performa, setiap individu membawa lebih dari satu identitas ke tempat kerja. Untuk itu, UNIQLO menyoroti adanya kompleksitas identitas di tempat kerja, khususnya pada perempuan.

Director Corporate Affairs Director UNIQLO Indonesia Irma Yunita mengatakan, masyarakat perlu untuk lebih melihat keberagaman di sekitar, juga mendorong pemahaman yang lebih utuh tentang kepemimpinan inklusif.

“Keberagaman bukan hanya soal representasi. Ini tentang apakah setiap orang benar-benar memiliki ruang untuk berkembang dan berkontribusi secara autentik. Dalam industri ritel yang bergerak cepat, menjaga keseimbangan antara performa dan kepemimpinan inklusif memang menantang. Namun justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji,” ucap Irma Yunita, Director Corporate dalam gelar diskusi bertema Interseksionalitas: Menavigasi Berbagai Lapisan Hambatan dalam Kehidupan Profesional Rabu (4/3/2026) di Jakarta.

Dalam diskusi ini Uniqlo menggandeng Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) dalam rangka International Women‘s Day 2026. Dalam diskusi hadir Fetty Kwartati, Director PT Tara Naya Karsa, Retail Management Consulting; Rhaka Ghanisatria, Co-Founder, Menjadi Manusia; dan Wita Krisanti, Executive Director of IBCWE.

Dalam diskusi dibahas secara global, berbagai studi menunjukkan bahwa perusahaan dengan kepemimpinan yang lebih beragam dan inklusif cenderung memiliki tingkat inovasi dan kinerja yang lebih tinggi. Artinya, inklusi bukan sekadar isu sosial, tetapi strategi bisnis jangka panjang.

Di Indonesia sendiri percakapan tentang kepemimpinan inklusif terus berkembang, meski masih menghadapi tantangan seperti budaya hierarkis dan bias tidak sadar. Di sinilah sensitivitas kepemimpinan menjadi sangat krusial, yakni kepekaan untuk mendengar, memahami kompleksitas, dan mengambil keputusan secara adil. Inilah esensi dari pendekatan interseksional.

Diskusi ini juga menyoroti pentingnya organizational allyship yaitu peran aktif individu, terutama pemimpin, untuk menjadi sekutu bagi rekan kerja dengan latar belakang berbeda. Menjadi sekutu bukan berarti selalu memiliki jawaban, melainkan memiliki kemauan untuk mendengar dan terus belajar.

Dalam praktik sehari-hari, hal ini terlihat dari cara pemimpin membagi kesempatan berbicara dalam rapat, mempertimbangkan fleksibilitas kerja, hingga berani mengoreksi bias yang mungkin tidak disadari.

Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan karyawan, tetapi juga pada keberlanjutan bisnis. Tim yang merasa aman dan dihargai cenderung lebih berani menyampaikan ide dan perspektif baru, dan menjadi sebuah aset penting di tengah persaingan industri yang semakin kompleks.

“Melalui momentum International Women‘s Day, UNIQLO Indonesia mengajak para profesional untuk melihat kepemimpinan inklusif sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar tren tahunan. Karena pada akhirnya, ketika seseorang tidak perlu menyembunyikan bagian dari dirinya untuk diterima, di situlah potensi terbaik bisa tumbuh, baik untuk individu, tim, maupun perusahaan,” pungkasnya.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version