youngster.id - Grup penyedia layanan finansial IFS Capital mencatatkan performa solid sepanjang tahun fiskal 2025 dengan pertumbuhan pendapatan operasional bersih sebesar 32,8% menjadi S$ 38,65 juta. Meski menghadapi lingkungan pasar yang menantang, perusahaan berhasil membukukan laba bersih setelah pajak sebesar S$ 6,36 juta.
Keberhasilan ini didorong oleh strategi integrasi tiga pilar perusahaan: kredit swasta (private credit), manajemen aset, dan asuransi yang saling memperkuat.
Randy Sim, Group CEO IFS, menyatakan bahwa integrasi antar pilar bisnis telah menciptakan efek roda gila (flywheel) yang memperkuat pertumbuhan perusahaan.
“Kami berkomitmen untuk memberikan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi pemegang saham,” ujar Randy, dikutip Rabu (4/3/2026).
Bisnis kredit swasta IFS tetap menjadi kontributor utama dengan laba sebelum pajak sebesar S$ 10,5 juta. Meskipun terdapat provisi pinjaman bermasalah sebesar S$ 4,2 juta dari portofolio UMKM di Thailand, angka tersebut hanya mewakili kurang dari 1% dari total aset pinjaman Grup.
Pertumbuhan signifikan terlihat pada beberapa lini bisnis: Portofolio Piutang (ARP) yang tumbuh 12,5% berkat kemitraan strategis di Thailand dan Malaysia, Portofolio Leasing, yang mengalami lonjakan drastis sebesar 39,5%, yang utamanya didorong oleh performa bisnis di Indonesia. Dengan begitu, Total Aset Pinjaman: Secara keseluruhan naik 4% menjadi S$ 468 juta.
Di sektor manajemen aset, IFS berhasil menutup dana (fund) pertama mereka dengan imbal hasil kumulatif sebesar 22,4% tanpa kerugian kredit sejak 2021. Grup juga telah meluncurkan IFSAM Private Credit Income Fund pada tahun 2025.
Sementara itu, lini bisnis asuransi menunjukkan perbaikan signifikan. Kerugian berhasil ditekan menjadi S$ 2,2 juta dibandingkan S$ 5,1 juta pada tahun sebelumnya. Hal ini didorong oleh premi bersih yang meningkat lebih dari dua kali lipat serta perbaikan loss ratio portofolio dari 115% menjadi 69%.
Di Indonesia, IFS telah hadir sejak tahun 1990 melalui PT IFS Capital Indonesia (IFSI)—merupakan perusahaan patungan antara PT Niaga Tbk, PT Usaha Sarana Sejati, dan IFS Capital Limited. IFS Capital Limited menjadi pemegang saham mayoritas pada November 2005 dan mengubah nama perusahaan menjadi PT IFS Capital Indonesia pada tanggal 14 Juni 2007. IFSI menyediakan Layanan Anjak Piutang, Sewa Guna Usaha dan Pinjaman Berbasis Properti untuk usaha kecil dan menengah. (*AMBS)
